Pantauan Kapal Perang TNI Ungkap Kondisi Terkini Gunung Anak Krakatau

CNN Indonesia
Selasa, 08 Sep 2026 10:25 WIB
Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau. (ANTARA FOTO/Atet Dwi Pramadia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) yang berstatus Siaga (Level III) kembali meningkat sejak akhir pekan lalu.

Bahkan akibat letusan yang terjadi akhir pekan lalu, kamera pemantau terdekat ke puncak gunung yang dasarnya di bawah permukaan laut Selat Sunda itu sampai rusak.

Kapal perang TNI atau Kapal Republik Indonesia (KRI) pun dikerahkan untuk memantau kondisi terkini gunung tersebut dari titik terdekat yang paling memungkinkan.

"Semburan abu vulkanik serta hujan debu berpotensi sebagai bahaya navigasi bagi kapal-kapal yang melintas di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau. (dampak sangat dipengaruhi arah angin)," demikian laporan pantauan KRI Lepu 861 yang akan menuju Lampung dalam rangka operasi di bawah Guspurla Koarmada I, dikutip dari keterangan Danlanal Lampung. 

KRI itu diarahkan untuk memantau situasi terkini aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dari lapangan sebelum masuk ke Pelabuhan Panjang Lampung awal pekan ini, Senin (7/9).

Dari pengamatan di KRI itu, secara visual kondisi gunung masih tertutup kabut tebal.

"Pada jarak 6 Nm kondisi udara masih terpantau adanya sebaran abu. Jarak pandang di sekitaran Gunung Anak Krakatau kurang lebih 3 Nm. Tinggi Gelombang mencapai 0,5 m - 1 m. Terpantau masih terlihat adanya erupsi di Gunung Anak Krakatau," sambungnya.

Sekitar pukul 17.27 WIB, kapal patroli cepat di bawah TNI AL itu melanjutkan pelayaran ke Pelabuhan Panjang Lampung.

Dari hasil pemantauan itu, disimpulkan bahwa semburan abu vulkanik serta hujan debu berpotensi sebagai bahaya navigasi bagi kapal-kapal yang melintas di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau. Dampaknya disebut sangat dipengaruhi arah angin.

"Update pertukaran informasi terus dilaksanakan bersama BPBD provinsi Lampung, Basarnas Lampung maupu instansi samping. Lanal Lampung masuk dalam WAG aksi tanggap darurat pemerintah dan instansi Provinsi Lampung di bawah BPBD," demikian dikutip dari laporan Danlanal Lampung dalam keterangan itu.

Erupsi hari ini

Sementara itu, Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada Selasa (8/9) ini, sejak dini hari hingga pagi WIB.

Mengutip dari laman Informasi Letusan pada situs resmi pantauan gunung api se-Indonesia, Magma Kementerian ESDM, gunung di perairan Selat Sunda itu mengalami tiga kali erupsi hingga per pukul 07.49 WIB.

Erupsi pertama yang terjadi dini hari tadi adalah pada pukul 05.08 WIB.

"Visual letusan tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 47 mm dan durasi 15 detik," demikian dikutip dari situs tersebut berdasarkan laporan yang dibuat .

Erupsi kedua terjadi sekitar setengah jam kemudian.

"Terjadi erupsi G. Anak Krakatau pada hari Selasa, 08 September 2026, pukul 05:34 WIB. Visual letusan tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 44 mm dan durasi 10 detik," demikian dilaporkan.

Kemudian erupsi ketiga terjadi sekitar dua jam kemudian.

"Terjadi erupsi G. Anak Krakatau pada hari Selasa, 08 September 2026, pukul 07:49 WIB. Visual letusan tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 48 mm dan durasi 19 detik," demikian laporan yang ditulis Anggi Nuryo Saputro pada laman tersebut.

Sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan erupsi menerus Gunung Anak Krakatau sempat berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Namun, potensi letusan susulan masih tergolong tinggi.

Kepala PVMBG Kementerian ESDM Siti Sumilah Rita Susilawati, dalam keterangannya mengatakan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga meski erupsi menerus telah berhenti.

(tim/kid)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK