Pemerintah Bangun Sabo Dam Tapanuli Tengah, Antisipasi Banjir Susulan

Kemendagri | CNN Indonesia
Kamis, 10 Sep 2026 18:45 WIB
Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatra, Muhammad Tito Karnavian, meninjau progres rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Tapanuli Tengah, Kamis (10/9). (Foto: Arsip Kemendagri)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah mempercepat penanganan kawasan hulu Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, guna mengantisipasi banjir susulan. Langkah ini juga ditujukan untuk melindungi permukiman dan lahan pertanian warga saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

Percepatan tersebut dilakukan melalui pembangunan Sabo Dam Aek Tukka dan Sabo Dam Sigala-gala di Kecamatan Tukka. Kedua infrastruktur ini berfungsi sebagai pengendali sedimen dari kawasan perbukitan.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra, Muhammad Tito Karnavian, mengatakan Tapanuli Tengah menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus dalam penanganan bencana di Sumatra Utara. Pengendapan lumpur yang terjadi sebelumnya berdampak pada permukiman, perkantoran, sekolah, rumah ibadah, hingga area persawahan.

Saat meninjau progres rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Tapanuli Tengah, Kamis (10/9), dia menegaskan penanganan di kawasan hulu harus segera dituntaskan agar risiko bencana susulan dapat ditekan. Ia mengingatkan pentingnya kesiapan sistem pengendali sebelum musim hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi.

"Penanganan di wilayah hulu ini harus kita percepat. Jangan sampai ketika hujan deras turun, aliran air dan material kembali turun dan berdampak ke masyarakat," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (10/9/2026).

Menurut Tito, Kecamatan Tukka membutuhkan sistem khusus untuk menghadapi curah hujan tinggi sekaligus aliran sedimen dari perbukitan di sekitarnya. Kondisi geografis wilayah tersebut membuat pembangunan Sabo Dam menjadi bagian penting dari sistem perlindungan kawasan.

Pada tahap awal, satu Sabo Dam Aek Tukka dan satu Sabo Dam Sigala-gala disiapkan untuk memperkuat pengendalian aliran air dan sedimen. Pembangunan tahap awal ini ditargetkan rampung pada Desember 2026.

Penguatan sistem pengendali sedimen akan dilanjutkan pada tahun berikutnya melalui pembangunan dua Sabo Dam tambahan. Dengan tambahan tersebut, total akan terdapat empat Sabo Dam di Kecamatan Tukka.

"Setelah itu, tahun depan dibangun lagi dua, jadi totalnya empat, khusus di Kecamatan Tukka ini," kata Tito.

Pembangunan Sabo Dam tidak berdiri sendiri, melainkan berjalan beriringan dengan sejumlah pekerjaan pendukung lain. Normalisasi saluran air dan sungai turut dilakukan untuk memastikan kelancaran aliran air di kawasan tersebut.

Selain itu, dibangun pula dinding penahan atau retaining wall sepanjang 1,6 kilometer. Infrastruktur ini dibutuhkan untuk memperkuat perlindungan permukiman dari aliran air dan material yang berpotensi kembali mengancam warga.

Di sisi lain, pemulihan rumah warga dan fasilitas pelayanan dasar yang terdampak bencana juga terus berjalan. Langkah ini diperlukan agar pemulihan masyarakat tidak harus menunggu seluruh pekerjaan pengendalian di kawasan hulu selesai.

Tito menegaskan bahwa seluruh program pemulihan di Tapanuli Tengah perlu dilakukan secara paralel. Penguatan infrastruktur di hulu, normalisasi sungai, dan pemulihan fasilitas terdampak menjadi satu rangkaian penanganan yang saling melengkapi.

Rangkaian penanganan tersebut ditujukan untuk mengurangi risiko bencana sekaligus mempercepat kembalinya aktivitas masyarakat. Dengan begitu, warga dapat kembali beraktivitas secara normal tanpa menunggu seluruh proyek rampung.

Dengan percepatan penanganan ini, Tapanuli Tengah diharapkan tidak hanya pulih dari dampak bencana yang telah terjadi. Wilayah ini juga diharapkan memiliki sistem perlindungan yang lebih kuat dalam menghadapi ancaman banjir dan sedimentasi di masa mendatang.

(rir)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK