Polisi: Temuan Terpal dan Galon Bukan Milik Kapal Rombongan Jurnalis

CNN Indonesia
Senin, 14 Sep 2026 14:35 WIB
Polisi: Temuan Terpal dan Galon Bukan Milik Kapal Rombongan Jurnalis
Polisi memastikan terpal dan galon yang ditemukan bukan milik rombongan jurnalis hilang di Selat Sunda. (ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Polisi memastikan terpal dan galon yang ditemukan oleh tim SAR gabungan bukan merupakan milik rombongan jurnalis yang hilang di perairan Selat Sunda.

Kedua barang tersebut ditemukan tim SAR gabungan saat melakukan proses pencarian pada hari keenam atau pada Minggu (13/9) kemarin.

Menindaklanjuti temuan itu, Ditpolairud Polda Banten lantas meminta keterangan dari pemilik kapal serta dua nakhoda pengganti KM Arupadhatu 1 yang digunakan oleh rombongan jurnalis. Pemeriksaan dilakukan di Polsek Carita pada Minggu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kabid Humas Polda Banten Kombes Maruli Ahiles Hutapea mengatakan berdasarkan hasil pemeriksaan dan konfirmasi terhadap pihak yang mengetahui kondisi kapal, dua barang temuan bukan milik KM Arupadhatu 1.

"Terpal yang ditemukan memiliki ukuran sekitar panjang 12 meter dan lebar 3,5 meter serta mengeluarkan bau amis ikan. Sementara KM Arupadhatu 1 memiliki panjang 7,52 meter, lebar 2,01 meter dan kedalaman 0,90 meter. Untuk bagian atap penumpang berukuran sekitar dua meter, kapal menggunakan bahan plastik ORCHID berwarna biru, bukan terpal plastik polyester atau PVC," kata Maruli dalam keterangannya, Senin (14/9).

Maruli menjelaskan KM Arupadhatu 1 dan KM Arupadhatu 2 memang memiliki terpal plastik, namun digunakan sebagai penutup dua mesin tempel. Terpal tersebut berukuran sekitar 2x2 meter, berwarna biru-oranye bolak-balik dan bertuliskan '4M A12 ROYAL CROWN TECH BY KOREA + UV'.

Berdasarkan keterangan pihak kapal, terpal tersebut tidak dibawa KM Arupadhatu 1 saat berlayar pada Senin (7/9), melainkan disimpan di KM Arupadhatu 2.

"Untuk botol galon plastik bertuliskan AQUA, berdasarkan keterangan yang diperoleh, air minum yang biasa tersedia di kapal apabila menginap di laut menggunakan air mineral kapasitas 15 liter merek Le Minerale. Sementara terkait apakah pada pelayaran 7 September 2026 kapal membawa botol galon sebagai tempat penyimpanan air minum, belum dapat dipastikan," tutur Maruli.

Disampaikan Maruli, pemeriksaan juga dilakukan terhadap barang-barang yang sebelumnya ditemukan Tim SAR, termasuk pelampung dan jeriken.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh, perlengkapan keselamatan KM Arupadhatu 1 terdiri dari 10 hingga 12 buah life jacket, tiga buah busa jok, satu ring buoy bantuan Pemerintah Provinsi, serta perlengkapan lainnya.

"Untuk jeriken yang tersedia di KM Arupadhatu 1 berkapasitas 30 liter sebanyak dua buah. Sedangkan terpal yang terdapat pada kapal dan digunakan di bagian kanopi buritan berbahan dasar terpal kain. Hal ini menjadi salah satu pembanding dalam mengidentifikasi barang-barang yang ditemukan Tim SAR," ucap dia.

Kemudian, berdasarkan keterangan nakhoda pengganti, KM Arupadhatu 1 pernah digunakan untuk perjalanan menuju perairan Ujung Kulon maupun Gunung Anak Krakatau.

Dalam salah satu perjalanan, kapal membawa penumpang, ABK dan nakhoda dengan jumlah tujuh orang. Kapal juga menggunakan BBM sekitar 140 liter yang dimasukkan ke dalam tangki serta membawa satu jeriken cadangan berkapasitas 30 liter.

"Seluruh keterangan tersebut masih menjadi bagian dari proses verifikasi. Kami tidak ingin terburu-buru menyimpulkan setiap barang yang ditemukan memiliki keterkaitan dengan KM Arupadhatu 1 sebelum dilakukan pemeriksaan dan pencocokan secara menyeluruh," ujarnya.

Lebih lanjut, Maruli mengatakan Polda Banten bersama unsur SAR Gabungan akan terus melakukan pencarian dan pemeriksaan secara maksimal.

"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak berspekulasi dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Setiap perkembangan terkait pencarian KM Arupadhatu 1 maupun hasil pemeriksaan barang temuan akan disampaikan melalui sumber informasi resmi," kata dia.

Sebelumnya, tim SAR gabungan menemukan life jacket, terpal hingga galon di perairan Selat Sunda pada hari keenam pencarian rombongan jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak di sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK).

"Objek-objek tersebut akan kami serahkan kepada kepolisian untuk ditindaklanjuti lebih lanjut," ujar Kepala Basarnas Banten, Al Amrad, Minggu (13/9).

Peristiwa hilangnya lima jurnalis dan tiga awak kapal bermula ketika rombongan jurnalis berangkat menggunakan speedboat (kapal cepat) dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas vulkanik di wilayah tersebut.

Delapan orang yang masih dalam pencarian terdiri dari lima pewarta foto, Muhammad Bagus Khoirunas (ANTARA), Arie Basuki (merdeka.com), Donal Husni (fotografer lepas), Yudhistira (iNews), dan Daus (Anadolu).

Selain lima jurnalis, terdapat tiga orang lain yang berada di dalam kapal yakni nakhoda, Anak Buah Kapal (ABK), dan seorang pemandu. Ketiganya yakni Warta (55) selaku kapten kapal, Surakman (60) selaku ABK dan Heriyanto (49) selaku guide.

(dis/isn)
placeholder