12 Bekantan Mati Gosong Akibat Kebakaran Hutan di Kalimantan Selatan

CNN Indonesia
Selasa, 15 Sep 2026 13:34 WIB
12 Bekantan Mati Gosong Akibat Kebakaran Hutan di Kalimantan Selatan
Jadi Hewan Endemik Kalimantan, 12 Bekantan Mati Gosong Akibat Karhutla. (Foto: ANTARA/HO-BKSDA Kalsel)
Jakarta, CNN Indonesia --

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Selatan mengonfirmasi kematian 12 ekor bekantan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di habitatnya di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

"Dari keterangan Kepala Desa Balimau terdapat sekitar 60 ekor bekantan di kawasan tersebut, namun jumlah populasi itu masih perlu diverifikasi BKSDA melalui pemantauan lapangan setelah kebakaran melanda habitat satwa dilindungi tersebut," kata Kepala BKSDA Kalsel Agus Ngurah Krisna kepada ANTARA dikonfirmasi di Banjarmasin, Senin (14/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan pihaknya menerima laporan pada Minggu (13/9) dari petugas pemadam kebakaran Hulu Sungai Selatan dan masyarakat mengenai bekantan yang terdampak kebakaran di kawasan Area Penggunaan Lain (APL) Desa Balimau.

"Jadi, ada 12 ekor bekantan ya, kurang lebih, serta satu ekor ular piton dan satu ekor king kobra ikut terbakar," ujarnya.

Selain satwa endemik Kalimantan itu, Agus mengatakan bahwa kawasan tersebut juga menjadi habitat satwa lain, seperti lutung atau hirangan dalam bahasa lokal, serta monyet ekor panjang. Satwa-satwa tersebut masih dipantau keberadaannya oleh tim BKSDA Kalsel.

Tim penyelamatan BKSDA Kalsel telah mendatangi lokasi untuk memeriksa kondisi habitat yang terbakar, luas kawasan terdampak, serta memastikan kemungkinan masih terdapat satwa yang selamat dan membutuhkan penyelamatan atau evakuasi.

Hasil pengecekan menunjukkan habitat bekantan di lokasi tersebut terdiri atas dua kawasan terpisah yang masing-masing memiliki luas sekitar dua hingga tiga hektare dan dipisahkan oleh jalan, dengan satu kawasan merupakan tanah desa dan kawasan lainnya milik masyarakat.

Agus mengungkapkan kebakaran hutan, terutama terjadi di kawasan milik masyarakat dengan sekitar 80 persen lahan terbakar. Sedangkan kawasan tanah desa aman dari kebakaran. Adapun bekantan yang mati ditemukan berada di kawasan milik masyarakat.

Kedua kawasan itu, kata dia, menjadi bagian dari wilayah jelajah bekantan. Area tersebut merupakan jalur pergerakan bekantan meskipun habitatnya terfragmentasi dan tidak membentuk satu hamparan ekosistem yang menyatu.

"Habitatnya memang terfragmentasi, jadi tidak satu hamparan habitat atau satu ekosistem yang menyatu, tetapi terpisah-pisah," ucapnya.

Ia menyampaikan bahwa kondisi habitat yang terbatas, kemudian kebakaran dengan api cukup besar dan disertai angin kencang, diduga menyebabkan bekantan yang berada di kawasan tersebut tidak sempat menyelamatkan diri dari kobaran api.

BKSDA Kalsel telah menangani seluruh bangkai bekantan yang ditemukan dengan menguburkan mereka. Apabila ditemukan indikasi kematian akibat faktor lain seperti penembakan, bangkainya akan dibawa untuk diperiksa oleh dokter hewan.

BKSDA Kalsel selanjutnya berkoordinasi dengan pemerintah daerah, pemerintah desa dan kecamatan serta mengajak masyarakat menjaga habitat bekantan yang berstatus satwa. Masyarakat juga diimbau ikut memantau kemungkinan adanya satwa yang masih membutuhkan evakuasi.

"Tim BKSDA masih mengecek kondisi bentang alam dan status lahan di kawasan APL tersebut untuk menentukan langkah penanganan berikutnya serta memastikan kondisi habitat dan satwa liar yang terdampak kebakaran," ujar Agus.

(antara/wis)
placeholder