Sebanyak 25 kecamatan di Kabupaten Tangerang, Banten, berstatus Awas Bencana Kekeringan akibat kemarau ekstrem. Sejumlah wilayah tersebut berpotensi mengalami hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang Achmad Taufik mengatakan status Awas Bencana Kekeringan ditetapkan pada wilayah yang berpotensi mengalami HTH lebih dari 60 hari dan memiliki curah hujan sangat rendah.
"Kekeringan itu hampir di seluruh kecamatan, total saat ini ada 25 kecamatan itu enggak ada hujan," kata Taufik, Selasa (15/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Taufik, 25 kecamatan yang berstatus awas tersebut meliputi Balaraja, Cikupa, Cisauk, Curug, Gunung Kaler, Jambe, Jayanti, Kelapa Dua, Kresek, Kronjo, Kosambi, Legok, Mauk, Mekar Baru, Pagedangan, Pakuhaji, Panongan, Pasar Kemis, Rajeg, Sepatan Timur, Solear, Sukadiri, Sukamulya, Teluknaga, dan Tigaraksa.
"Hampir seluruhnya itu. Karena ada hujan pun hanya gerimis ya, paling sekitaran Tigaraksa gitu. Tapi kan malah itu yang terbanyak jumlah kebakarannya," jelas Taufik.
Berdasarkan pendataan periode Juli hingga September 2026, terdapat 73 desa/kelurahan dari 25 kecamatan tersebut yang terdampak kekeringan. Jumlah warga terdampak mencapai 62.076 jiwa dari 23.430 kepala keluarga (KK).
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, BPBD Kabupaten Tangerang telah mendistribusikan air bersih sebanyak 330 kali pengiriman ke 178 titik yang terdampak kekeringan.
Meski dampak kekeringan meluas, Taufik mengatakan kondisi tersebut masih dapat ditangani oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang. BPBD pun belum menetapkan status siaga bencana kekeringan.
"Suplai air itu seluruhnya bisa kita layani bersama, terutama suplai air ya bisa dibantu oleh PDAM, PMI, bahkan pihak swasta. Apabila kekeringan ini terus-menerus kemudian meluas baru kita akan lakukan siaga bencana," ungkapnya.