HARI TANI 2026

Cerita dari Kurang 1 Persen Lahan Sawah Tersisa di Metropolitan DKI

Yogi Anugrah | CNN Indonesia
Kamis, 24 Sep 2026 10:45 WIB
Berdasarkan data Dinas KPKP DKI, lahan sawah di Jakarta luasnya tinggal kurang dari 1 persen dari total luas wilayah ibu kota negara RI itu.
Orang-orangan sawah untuk mengusir hama burung di salah satu sudut sawah yang tersisa di Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara. (CNNIndonesia/Adi ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hamparan sawah terbentang luas di Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (9/9). Garis-garis pematang tanah membelah area persawahan, menjadi jalur melangkah para petani di salah satu daerah perbatasan DKI Jakarta dan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (Jabar) tersebut.

Pada Rabu siang itu, sesekali terlihat burung terbang rendah, mencari makan di antara tanaman padi (Oryza sativa). Di beberapa sudut, bendera-bendera hitam berkibar diterpa angin menjadi alat pengusir burung hama yang kerap turun mendekati tanaman. Angin semilir terasa di tengah cuaca yang panas.

Sawah berdiri berdampingan dengan permukiman, jalan, dan bangunan pengolahan sampah RDF Rorotan. Rorotan adalah satu dari sedikit daerah di Jakarta yang masih memiliki lahan persawahan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta, luas sawah yang masih aktif hingga 2026 ini sekitar 279 hektare.

Angka itu hanya sekitar 0,42 persen dari luas Jakarta yang lebih dari 66.233 hektare termasuk laut. Jumlah sawah itu tersebar di Kecamatan Kalideres, Kota Administrasi Jakarta Barat; Kecamatan Cakung, Kota Administrasi Jakarta Timur; dan Kecamatan Cilincing, Kota Administrasi Jakarta Utara.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) DKI 2025, luas sawah terbesar masih tetap di Jakarta Utara. Pada 2024 lalu, wilayah itu mencatat luas panen sebesar 442,75 hektare atau lebih dari 88 persen total luas panen padi di Provinsi DKI Jakarta. Namun, pada 2025 lalu, meskipun masih dominan angka panen itu mengalami penurunan menjadi 193,86 hektare.

Penurunan angka panen juga tercatat di Jakarta Timur dari total 28,31 hektare pada 2024 jadi 24,92 hektare pada 2025. Sementara itu di Jakarta Barat meningkat dari 27,25 hektare pada 2024 jadi 54,75 hektare pada 2025.

"Produksi padi di Provinsi DKI Jakarta masih didominasi oleh Jakarta Utara dengan kontribusi sekitar 70,65 persen, diikuti Jakarta Barat sebesar 20,17 persen dan Jakarta Timur sebesar 9,18 persen," demikian dikutip dari laporan Luas Panen dan Produksi Padi di Provinsi DKI Jakarta 2025 yang dipublikasi secara daring pada laman BPS DKI tersebut.

Petani Rorotan

Di tengah Jakarta yang terus berkembang dan sedikitnya lahan pertanian, Sirojudin Abas (47) adalah salah satu petani di Rorotan yang memilih bertahan menggarap sawah di salah satu kelurahan dalam Kecamatan Cilincing tersebut.

Ketua Kelompok Tani Maju itu lahir dan besar di Rorotan. Dia mengaku sudah mengenal dan terjun ke sawah sejak kecil.

"Kalau dibilang, sudah lama bertani. Saya dari masih dalam perut sudah bertani, karena bapak dan ibu saya petani," kata Sirojudin kepada CNNIndonesia.com saat mengunjunginya di tengah kegiatan bertani kala itu.

Sebelum masuk SD di tahun 1980an silam, ia mengaku juga sudah membantu orang tuanya di sawah. Tugas Sirojudin kecil kala itu mulai dari membersihkan pematang, mencabut rumput, hingga mencangkul. Kegiatannya membantu orang tua bertani di Rorotan sempat terhenti karena menempuh pendidikan di pesantren di Jawa Timur.

Lalu, pada 2003 lalu ketika ke Rorotan, dia pun mulai intens bertani serta beternak.

Lahan garapan

Saat ini, ia menggarap sekitar 3,1 hektare sawah yang tersebar di empat titik. Namun, lahan tersebut bukan miliknya. Ia menggarap lahan milik kerabat dan beberapa pemilik lahan lainnya.

"Di Rorotan, yang garap lahan punya pribadi cuma 0,00 sekian persen. Sisanya garapan. Lahan milik Jakpro dan Saran Jaya (BUMD), punya dinas," ujarnya.

Dia menerangkan pola penggarapan lahan di Rorotan berbeda-beda.

Petani mengangkat padi yang dipanen di areal persawahan Rorotan, Jakarta Utara. (CNNIndonesia/Adi ibrahim)Petani memproses padi yang dipanen di areal persawahan Rorotan, Jakarta Utara. (CNNIndonesia/Adi ibrahim)

Untuk lahan milik pemerintah atau BUMD, petani umumnya tidak dikenakan sewa. Sementara lahan milik pribadi, ada yang menggunakan sistem sewa, bagi hasil, maupun pembayaran setelah panen.

Sirojudin mengatakan mekanisme tersebut berbeda dengan sistem sewa lahan pertanian di sejumlah daerah. Di Jawa Barat, misalnya, ia menyebut sewa lahan bisa mencapai sekitar Rp6 juta per hektare dan dibayarkan di awal. Sementara itu di Rorotan, pembayaran kepada pemilik lahan terkadang baru dilakukan setelah panen. Bahkan, menurut dia, ada pemilik lahan yang tidak meminta bayaran dari petani yang menggarap lahannya.

"Jadi bayarnya kalau panen doang, itu pun semaunya, karena yang punya lahan enggak minta, yang punya Pemda enggak minta," katanya.

Dalam setahun, sawah di Rorotan rata-rata bisa dipanen dua kali, tergantung kondisi. Setelah panen, gabah umumnya langsung dijual kepada bandar. Menurutnya, pada musim panen sebelumnya, gabah petani diserap oleh Bulog. Namun saat ini, harga Bulog di bawah harga para bandar.

"Sekarang bandar lokal berani Rp7.700 sampai Rp8.000, ya petani pintar lah. Bandar lokal kasih harga di atas Bulog," katanya di sela kegiatan bertani saat dikunjungi pada awal September ini.

Rorotan dulu dan kini

Bercerita tentang sejarah kota, Sirojudin ingat betul kondisi Rorotan ketika pertama kali kembali menekuni bertani di kampung halamannya di tengah belantara beton metropolitan DKI pada 2003 silam.

Saat itu, dikisahkannya, sebagian besar wilayah yang kini dipenuhi bangunan masih berupa persawahan.

Ia mengatakan selain pemukiman, beberapa proyek pembangunan yang menggunakan lahan sawah adalah pembuatan makam bagi korban meninggal Covid beberapa tahun lalu hingga pembangunan fasilitas pengolahan sampah RDF Rorotan. Sirojudin mengaku juga mendengar akan adanya pembangunan stasiun di sekitar Rorotan yang akan kembali menggunakan lahan sawah.

"Untuk makam covid waktu itu, kelompok tani saya habis kegusur. Kurang lebih 4-5 hektare. Tanah milik orang, dibeli sama Pemda untuk dibuat makam," katanya.

Ia memperkirakan lahan pertanian di Rorotan kini hanya sekitar 250an hektare. Menurutnya, jumlah itu adalah yang paling banyak jika dibanding dengan beberapa daerah di DKI.

"Udah terancam, besok ini enggak lama lagi bahkan udah turun kemarin sebelah utara RDF mau bikin stasiun 40 hektare," ujarnya.

Data Sawah di Pemprov DKI BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2