Kiprah Majelis Sayur, Jaringan Kolektif Petani Kota di Jaksel
Dika Kardi | CNN Indonesia
Kamis, 24 Sep 2026 13:57 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Peta sederhana yang menunjukkan sebaran petani kota di Kecamatan Jagakarsa, Jaksel, yang disusun forum Majelis Sayur Jagakarsa. (CNN Indonesia/ Dika Kardi)
Jakarta, CNN Indonesia --
Berawal dari sebuah kawasan kreatif di salah satu sudut Kelurahan/Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, lima pemuda-pemudi bertukar ide mengenai pemanfaatan sumber makanan dari budi daya di sekitar 'tempat main' mereka.
Julian Riezky (40) dkk yang membangun gerakan kreatif kuliner Selarasa Foodlab di kawasan Gudskul, Jagakarsa, itu lalu bersilaturahmi ke sejumlah petani kota di kecamatan yang jadi perbatasan Jakarta-Depok tersebut.
Sahut menyahut, sambung menyambung, komunikasi pun saling terkait dan membesar hingga akhirnya mereka dan para pegiat budi daya tanaman di Jagakarsa itu sepakat membangun forum. Forum informal itu mereka namakan Majelis Sayur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara formal, beberapa pegiat mengatakan Majelis Sayur mulai dirintis sekitar 2021 silam, berawal dari sebuah acara terkait pangan dan tanaman hortikultura yang mengumpulkan mereka.
"Majelis Sayur ini sebetulnya jadi tempat kita kumpul, komunikasi saja," ujar Latif (36)--salah satu warga di Cipedak, Jagakarsa, saat berbincang dengan CNNIndonesia.com awal September ini.
Dia sehari-hari juga menggarap lahan di bantaran kali tak jauh dari rumahnya. Pria yang mempromosikan hasil panen hariannya lewat akun media sosial dengan nama akun Pojok Aselih itu bercerita pada dasarnya Majelis Sayur tak membentuk pasar dari hasil kebun mereka, tetapi untuk saling berjejaring saja lewat forum itu.
Latif bilang, sebelum ada Majelis Sayur itu para anggotanya pun sudah ada yang memiliki kelompok tani sendiri seperti kelompok tani alpukat, atau kelompok tani hutan (KTH).
Lalu seiring waktu, kata Latif, kini Majelis Sayur sedang berkolaborasi untuk membuat Sekolah Tani Kota. Untuk kurikulumnya, dia menerangkan mereka bekerja sama dengan sejumlah pihak termasuk beberapa orang yang tergabung dalam arena kreatif di Jagakarsa, Gudskul.
Untuk kegiatan selain berkolaborasi di bidang ilmu, Latif mengaku berharap Majelis Sayur juga bisa membangun 'Pasar Bersama', setidaknya di Jagakarsa.
"Di Jakarta ini kan pasarnya besar ya, [panen sayur] dari Bogor kan suplainya ke sini. Nah, gimana kita bisa bangun juga agar bisa mendapatkan pasar itu yang terdekat, ya di kecamatan ini," kata Latif.
"Nah kita ingin jadi bagian dari solusi itu," sambungnya.
Julian--kerap disapa Juli--mulanya berdomisili di Kemayoran, Jakarta Pusat, sebelum akhirnya ikut pindah ke Jagakarsa bersama Gudskul. Dia yang memang sudah menaruh perhatian pada budidaya hortikultura, bersama beberapa orang lain, kemudian mencari 'petani-petani kota' di Jagakarsa ketika mulai beraktivitas di kecamatan tersebut.
Latif salah satu anggota Majelis Sayur memperlihatkan peta 'Petani Kota' di Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang didata pihaknya. (CNN Indonesia/Febria Adha L)
Juli merupakan salah satu founder dari Selarasa Foodlab. Dia membangun itu bersama empat kawannya yakni Risya, Tahlia, Erbi, dan Bonit.
"Selarasa ini sebetulnya tempat kita, Foodlab itu dapur," katanya saat berbincang dengan CNNIndonesia.com pada Selasa (15/9) malam.
Dia lantas menegaskan Selarasa bukanlah 'pemilik' atau founder dari Majelis Sayur, melainkan bagian dari forum itu.
"Selarasa ini bagian dari Majelis Sayur. Makanya bisa dilhat sendiri, kita sampai tulis itu di sana," ujar Julie seraya menunjuk jendela kaca yang terdapat tulisan dan ilustrasi lahan pertanian.
"Selasara bagian dari Majelis Sayur," begitu tulisan di jendela outlet itu.
Kemudian, sambung Juli, Selarasa itu menjadi koperasi yang salah satu perannya saat ini jadi penghubung, baik antarpetani, maupun dengan konsumen di Jagakarsa bersama Majelis Sayur.
Selarasa Foodlab sebagai bagian dari Majelis Sayur Jagakarsa, Jakarta Selatan. (CNNIndonesia/Dika Kardi)
Urban Agriculture
Juli menceritakan Jagakarsa pada dasarnya bukan lagi kegiatan urban farming, tetapi sudah lebih menjurus pada kebudayaan budi daya pertanian di kota (urban agriculture).
"Jagakarsa ini menurut saya sudah bukan lagi sekedar urban farming, tapi urban agriculture. Bukan lagi cuma 'menanam di kota', tapi ada sebuah ikatan antara warga dan sumber kehidupan. Jadi tempat sebuah produksi kehidupan dengan budayanya sendiri," kata dia saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Jumat (11/9) petang.
Salah satu dari lima pendiri dari Selasarasa Foodlab itu mengatakan dia tak berangkat dari kertas kosong untuk mendefinisikan hal tersebut. Dia menerangkan dalam sejarahnya kawasan Jagakarsa itu adalah ladang perkebunan atau pertanian dan peternakan.
Menurutnya hal itu bisa dilihat dari toponimi daerah-daerah di sana yang dinamai dari nama-nama komoditas holtikultura seperti Jalan Durian, Pepaya, Kecapi, Matoa, hingga Kelurahan Srengseng Sawah.
Selain itu, sambungnya, masyarakat Jagakarsa juga pernah punya upacara syukuran atas hasil panen seperti Serentaun yakni Sumbang Bumi.
Oleh karena itu, katanya, Majelis Sayur hadir sebagai bagian dari kesadaran bersama sesama warga Jagakarsa--yang kebetulan bertani hingga berkebun--untuk saling menjalin komunikasi, menguatkan, dan berkembang bersama.
"Majelis Sayur ini konsepnya bertetangga. Kita kalau ketemuan, walau masih belum terjadwal sering di tempat yang berbeda. Keliling kebunlah," kata dia.
"Nah, kenapa bermajelis? Karena sepakatnya ya semua setara. Enggak ada ketuanya, ketuanya ya sama-sama nih. Semua orang ini ya ketuanya dan semua orang ini ya anggotanya," sambung Juli yang menegaskan majelis itu tak terkait dengan kepentingan apapun, apalagi politik.
Ahmad Fahrizal pembibit Alpukat di Jagakarsa yang tergabung dalam Majelis Sayur. (CNN Indonesia/Febria Adha L)
Apa yang disampaikan Juli itu diamini Latif secara terpisah. Latif menegaskan tak ada yang namanya 'ketua-ketua' di dalam Majelis Sayur.
Tapi, kalau belakangan ada pihak luar yang ingin tahu tentang Majelis Sayur, mereka memang ada yang bisa diajak ngobrol terlebih dulu sebelum ke lainnya.
Selain Juli dan Latief, beberapa yang jadi bagian Majelis Sayur itu di antaranya ada Ibnuh yang bergiat hidroponik di kebun Youngsayur, Ahmad Fahrizal yang melakukan pembibitan alpukat serta budidaya sayur bersama Peralpukatan Duniawi.
Lalu ada Sophia Louretta yang spesifik membuat kompos atau media tanam lewat Tani Alit, dan seorang ibu rumah tangga Lily Almasih yang berkebun di atap rumahnya (Kebun Emeng).
Fahrizal (38) atau Ijal--pemuda yang berkampung halaman di Jagakarsa--mengonfirmasi soal kebudayaan agrikultur di wilayah tersebut. Bahkan, sambungnya, satu-satunya sekolah kejuruan khusus pertanian di Jakarta cuma ada di Jagakarsa yakni SMKN 63 di Jalan Aselih, Cipedak.
Ijal merupakan salah satu alumni tempat pendidikan yang semula bernama SMK Negeri Pertanian dan Pembangunan tersebut. Sempat menjadi penyuluh untuk institusi pertanian, dia memilih kembali ke kampung halamannya dan menyewa lahan untuk membudidayakan alpukat varietas Miki atau Alpukat Cipedak
Selain alpukat, di lahan yang digunakannya di Kelurahan Ciganjur, dirinya juga menanam budidaya hortikultura lain.
Menurutnya sebagai petani kota di kampung halaman sendiri, mereka harus bersiasat dengan lahan yang terbatas. Namun itu tak jadi halangan, sambungnya, malah jadi karakter tersendiri bagi mereka masing-masing.
"Jadi kan nggak semuanya anak-anak teman-teman Majelis Sayur punya lahan luas ya. Ini kebetulan aja, dan Mas Latif kan pinggir kali, kebetulan juga dia [ada lahan tapak]. Tapi ada juga yang kebetulan di atas atap, dan ada yang harus beradaptasi dengan gang sempit," kata dia. "Uniknya ya, ya karakternya masing-masing," sambung dia yang mengaku baru bergabung dengan Majelis Sayur pada 2023 lalu.
Suasana salah satu kegiatan kumpul Majelis Sayur Jagakarsa di kebun salah satu anggotanya. (dok.istimewa/Majelis Sayur-Latif)
Kini selain lewat marketplace dan media sosial miliknya, Peralpukatan Duniawi, Ijal pun sudah memiliki pelanggan tetap.
Walaupun demikian diakui Latif, Ijal, hingga Lily saat berbincang secara terpisah masing-masing sebetulnya sudah memiliki pasar dan metode penjualan sendiri. Tapi, kata mereka kompak secara terpisah, Majelis Sayur itu jadi wadah komunikasi dan kolaborasi yang memberi energi baru dalam kegiatan masing-masing.
"Kita butuh nongkrong, butuh komunikasi. Enggak asyik juga kalau terlalu [fokus] di bisnis 100 persen kan? tutur Ijal.
"Jadi kita sharing-nya, ya kalau kita mungkin kebetulan kita mungkin punya pengalaman untuk mengelola tanaman yang lebih banyak ya kita cerita sama teman-teman. Kita cerita berbagilah, kalau misalkan kita memang lagi apa namanya, wah kita pengen belajar nih tentang apa yang kita enggak tahu misalkan kompos atau apa, kita pengen belajar, teman-teman kita ada yang ahli di bidang itu, di kompos kayak Mbak Sofi [Tani Alit] gitu ya misalnya. Tukar-tukar aja, tukar ini, gitu," sambungnya.
Berbeda dengan Juli yang pada dasarnya datang dari latar belakang seni dan aktivisme pangan, Ijal dan Latif tumbuh di Jagakarsa, serta melihat langsung bagaimana kebun-kebun di sekitar mereka perlahan berubah menjadi bangunan.
Selama bertahun-tahun terakhir, mereka mulai menanam kembali di lahan yang tersisa - halaman rumah, sela-sela bangunan, tanah yang banyak orang anggap tak layak pakai. Dengan cara yang khas, memanfaatkan ruang vertikal, menghemat tanah yang sempit - mereka membuktikan bahwa bertani tetap bisa dilakukan di tengah kota.
Salah satunya Lily Almasih (50) yang memiliki keterbatasan lahan mencoba memanfaatkan ruang yang ada ada rumahnya yang berada di pemukiman padat untuk bercocok tanam di rooftop. Lily berkebun di rooftop rumahnya, dan menamakannya sebagai Kebun Emeng.
"Ini awalnya memang suka berkebun, dulunya di bawah sana sebelum pindah ke atas sini," kata dia saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di kebun rooftop rumahya, Kamis (17/9). Dia sambil menunjuk letak kebun awalnya di bagian permukaan sebelah.
Lily mengaku bersama suaminya, Diarwin Komena (53) menggemari berkebun karena jadi tempat mereka untuk healing sambil menikmati kopi dan kudapan ketika sore hari bersama keluarga.
Perempuan dengan latar belakang akademis hokum itu mengaku baru akan beraktivitas di kebun setelah mempersiapkan kebutuhan anggota keluarganya untuk hari tersebut pada pagi harinya.
"Namanya juga emak-emak ya, semuanya kan harus dikerjain," selorohnya.
Lily bercerita hobinya berkebun tak lepas dari aktivitas keluarga, terutama ayahnya, yang juga memang menetap di Jagakarsa. Dia mengenang saat masih kecil mengingat Jagakarsa sebagai wilayah yang mudah menemukan ladang atau kebun.
"Dulu kan ini Jagakarsa masih banyak banget eh pokoknya serba-serba sawah ini ya. Itu tuh masih banyak yang kebun-kebun gitu, dulu tuh," kata dia.
Dia mengenang pada masa lalu ketika sepulang kerja di akhir pekan, ayahnya sering mengajak ia dan saudaranya ikut ke kebun di lahan belakang rumah mereka.
"Ngajak kita tuh main-main ke kebun itu, gitu, nanam-nanam segala. Apa yang ditanam? Singkong, tales, pokoknya gitulah," kata ibu dari dua anak tersebut.
Lily tak memungkiri, lewat Majelis Sayur membuatnya dapat ilmu baru dan berjejaring. Salah satunya dengan Tani Alit, di mana founder-nya kerap membantunya perihal media tanam.
Sementara itu, Arie (47), yang berdagang mi ayam di kawasan Jalan Durian, Jagakarsa, mengaku kerap mengambil sayur untuk tambahan dagangannya dari sejumlah petani kota yang tergabung dalam Majelis Sayur.
Hal itu tak lepas dari kiprah Arie yang juga tergabung dalam Selarasa Foodlab dan turut mengembangkan bakso sayur.
Peta petani kota di wilayah Jagakarsa yang disusun Majelis Sayur saat dipajang di Kebun Pojok Aselih, Cipedak, Jagakarsa. (CNN Indonesia/ Dika Kardi)
"Rata-rata iya, apalagi buat baso sayur.Kalau buat dagang itu kadang-kadang saya beli di pasar, atau juga kalau teman-teman ready bisa juga ngambil di mereka," kata Arie saat berbincang dengan CNNIndonesia.com tengah bulan ini.
Dalam sehari, kata dia, setidaknya suka menghabiskan minimal 2 kilogram sayur untuk tambahan pada sajian mi dagangannya.
Sebagai sosok yang lama berkecimpung di industri UMKM--terutama di areal Jagakarsa--dia mengaku jaringannya juga menjadi pasar dari hasil panen Majelis Sayur.
Kebetulan pula, sambungnya, anak sulungnya semula di SMKN 63 dan kini berkuliah di IPB. Kegiatan di Majelis Sayur, sambungnya, turut menyambung dengan jalur pendidikan buah hatinya itu.
Dari pemetaan yang dilakukan Selarasa dan Majelis Sayur, setidaknya ada 28 titik lahan pertanian mandiri di Jagakarsa dengan lebih dari 50 produk pangan olahan rumahan.
Namun selama ini para petani itu bekerja sendiri-sendiri. Ada yang menanam di halaman sempit, ada yang di tanah milik warga yang disewakan, ada yang di lahan yang dikelola bersama. Mereka tak saling kenal, tak saling berbagi bibit, tak tahu bahwa tetangganya juga menanam.
Sebagai bagian dari program atau kegiatan, Latif mengatakan mereka pernah pula menggelar pasar kaget, hingga saat ini sekolah tani. Selain itu, Juli bilang Selarasa juga turut membantu menjembatani salah satunya lewat tur odong-odong ke kebun warga, dan kuliah tumbuhan (kultum).
Sofi, komposter dengan nama usaha Tani Alit merupakan bagian dari Majelis Sayur Jagakarasa. (CNNIndonesia/Dika Kardi)
Bertani di ibu kota bukanlah hal yang mudah. Lahan makin menyempit, tergerus perumahan dan jalan tol. Sinar matahari terhalang gedung-gedung, air terbatas, tanah tak selalu subur.
Sophia atau Sofi (48) dari Tani Alit menceritakan soal pengalamannya bertemu lahan yang tak subur saat ingin berkebun. Semua itu, katanya, berawal ketika dia ingin mengelola lahan di kawasan Jalan Radio, Cipedak.
Dia cerita dulu tanah yang ingin dikelola di bawah permukaannya ternyata banyak sampah tertimbun dari mulai sampah kain, plastik, hingga kaca atau beling.
Perempuan yang pernah menjalani karier sebagai konsultan pemasaran produk dan semula menetap di Jakarta Timur itu mengaku ketika berada di Jagakarsa ingin mengolah lahan dan mengisinya dengan tanaman. Namun, kesulitan yang dialaminya di awal ingin mengolah lahan itulah kemudian dia mendalami soal ilmu tanah hingga media tanam.
Setelah berkecimpung lama, akhirnya dia memilih lebih mengembangkan media tanam dan mengembangkannya jadi usaha bersama Tani Alit.
Dia kini dikenal sebagai founder Tani Alit bersama Co-Founder, Ninik Yuniati (43) yang sebelumnya lama berkecimpung di dunia radio berita.
Sejumlah siswa di SMKN 63 Jakarta, satu-satunya sekolah menengah kejuruan pertanian di DKI. SMK ini ada di Cipedak, Jagakarsa. (CNN Indonesia/Febria Adha L)
Cerita unik dari Sofi, bahwa dia sebetulnya sudah berkomunikasi juga dengan sejumlah orang di Majelis Sayur sebelumnya. Namun, komunikasi itu terjalin lewat media sosial dan market place. Salah satunya dengan Ibnuh dari Youngsayur sebelum dirinya ikut bergabung dengan Majelis Sayur.
"Ibnuh lagi nyari media tanam, nyari cacing, jadi waktu itu kau lagi meneliti vermicomposting (pembuatan kompos dengan bantuan cacing) dan mencoba vermikomposting di rumah. Terus datanglah ini chat [dari ibnuh di aplikasi marketplace], dan kemudian ngobrollah kita tentang kompos dan cacing itu," tutur Sofi saat CNNIndonesia.com berkunjung tengah September ini
Hingga akhirnya dia diajak juga untuk berkumpul bersama Majelis Sayur. Sofi menceritakan secara umum, dirinya memiliki karakter berbeda dengan rekan-rekan lainnya di Majelis Sayur yang memang kegiatan utamanya adalah bercocok tanam.
Dia mengaku di rumah yang ditempati kini di kawasan Antariksa Raya, Cipedak, itu lebih bergiat untuk media tanam bersama Tani Alit. Walaupun demikian, dia menyatakan bisa saling sharing dengan sesama 'petani kota' di Majelis Sayur.
Salah satunya ketika dia ingin mencoba produk media tanamnya pada tumbuhan yang dibudidayakan sesama anggota Majelis Sayur.
"Nah iya, salah satunya dengan Kak Lily (Kebun Emeng) itu," katanya merespons pertanyaan soal 'uji coba media tanam'. "Jadi kita tuh ingin tahu seberapa pengaruhnya media tanam sama tumbuhan tertentu. Jadi saya pesannya kalau bisa enggak dicampur apa-apa lagi," sambungnya.
Juli mengatakan Jagakarsa pernah menjadi lumbung pangan bagi Jakarta saat masih menjadiBataviahingga pascakemerdekaan. Kini, lewat Majelis Sayur, mereka membuktikan bahwa kemandirian pangan bukan mimpi di kota besar. Ia bisa diwujudkan perlahan, bersama-sama, di tanah yang tersisa.
Menurut Juli, kembali ke pertanian bukan berarti mundur ke masa lalu. Bagi mereka, itu adalah melangkah maju - menuju kemandirian, kebersamaan, dan ketahanan pangan.
Walaupun, tak dipungkiri Juli, pada akhirnya ketika berkembang di antara mereka juga membangun kebun di daerah lain seperti dirinya dengan mangga, lalu Ijalmasih dengan alpukat di Rumpin, dan Lily dengan kebun sayurnya di Cipanas.
Jakarta, CNN Indonesia --
Berawal dari sebuah kawasan kreatif di salah satu sudut Kelurahan/Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, lima pemuda-pemudi bertukar ide mengenai pemanfaatan sumber makanan dari budi daya di sekitar 'tempat main' mereka.
Julian Riezky (40) dkk yang membangun gerakan kreatif kuliner Selarasa Foodlab di kawasan Gudskul, Jagakarsa, itu lalu bersilaturahmi ke sejumlah petani kota di kecamatan yang jadi perbatasan Jakarta-Depok tersebut.
Sahut menyahut, sambung menyambung, komunikasi pun saling terkait dan membesar hingga akhirnya mereka dan para pegiat budi daya tanaman di Jagakarsa itu sepakat membangun forum. Forum informal itu mereka namakan Majelis Sayur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara formal, beberapa pegiat mengatakan Majelis Sayur mulai dirintis sekitar 2021 silam, berawal dari sebuah acara terkait pangan dan tanaman hortikultura yang mengumpulkan mereka.
"Majelis Sayur ini sebetulnya jadi tempat kita kumpul, komunikasi saja," ujar Latif (36)--salah satu warga di Cipedak, Jagakarsa, saat berbincang dengan CNNIndonesia.com awal September ini.
Dia sehari-hari juga menggarap lahan di bantaran kali tak jauh dari rumahnya. Pria yang mempromosikan hasil panen hariannya lewat akun media sosial dengan nama akun Pojok Aselih itu bercerita pada dasarnya Majelis Sayur tak membentuk pasar dari hasil kebun mereka, tetapi untuk saling berjejaring saja lewat forum itu.
Latif bilang, sebelum ada Majelis Sayur itu para anggotanya pun sudah ada yang memiliki kelompok tani sendiri seperti kelompok tani alpukat, atau kelompok tani hutan (KTH).
Lalu seiring waktu, kata Latif, kini Majelis Sayur sedang berkolaborasi untuk membuat Sekolah Tani Kota. Untuk kurikulumnya, dia menerangkan mereka bekerja sama dengan sejumlah pihak termasuk beberapa orang yang tergabung dalam arena kreatif di Jagakarsa, Gudskul.
Untuk kegiatan selain berkolaborasi di bidang ilmu, Latif mengaku berharap Majelis Sayur juga bisa membangun 'Pasar Bersama', setidaknya di Jagakarsa.
"Di Jakarta ini kan pasarnya besar ya, [panen sayur] dari Bogor kan suplainya ke sini. Nah, gimana kita bisa bangun juga agar bisa mendapatkan pasar itu yang terdekat, ya di kecamatan ini," kata Latif.
"Nah kita ingin jadi bagian dari solusi itu," sambungnya.
Julian--kerap disapa Juli--mulanya berdomisili di Kemayoran, Jakarta Pusat, sebelum akhirnya ikut pindah ke Jagakarsa bersama Gudskul. Dia yang memang sudah menaruh perhatian pada budidaya hortikultura, bersama beberapa orang lain, kemudian mencari 'petani-petani kota' di Jagakarsa ketika mulai beraktivitas di kecamatan tersebut.
Latif salah satu anggota Majelis Sayur memperlihatkan peta 'Petani Kota' di Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang didata pihaknya. (CNN Indonesia/Febria Adha L)
Juli merupakan salah satu founder dari Selarasa Foodlab. Dia membangun itu bersama empat kawannya yakni Risya, Tahlia, Erbi, dan Bonit.
"Selarasa ini sebetulnya tempat kita, Foodlab itu dapur," katanya saat berbincang dengan CNNIndonesia.com pada Selasa (15/9) malam.
Dia lantas menegaskan Selarasa bukanlah 'pemilik' atau founder dari Majelis Sayur, melainkan bagian dari forum itu.
"Selarasa ini bagian dari Majelis Sayur. Makanya bisa dilhat sendiri, kita sampai tulis itu di sana," ujar Julie seraya menunjuk jendela kaca yang terdapat tulisan dan ilustrasi lahan pertanian.
"Selasara bagian dari Majelis Sayur," begitu tulisan di jendela outlet itu.
Kemudian, sambung Juli, Selarasa itu menjadi koperasi yang salah satu perannya saat ini jadi penghubung, baik antarpetani, maupun dengan konsumen di Jagakarsa bersama Majelis Sayur.
Selarasa Foodlab sebagai bagian dari Majelis Sayur Jagakarsa, Jakarta Selatan. (CNNIndonesia/Dika Kardi)
Urban Agriculture
Juli menceritakan Jagakarsa pada dasarnya bukan lagi kegiatan urban farming, tetapi sudah lebih menjurus pada kebudayaan budi daya pertanian di kota (urban agriculture).
"Jagakarsa ini menurut saya sudah bukan lagi sekedar urban farming, tapi urban agriculture. Bukan lagi cuma 'menanam di kota', tapi ada sebuah ikatan antara warga dan sumber kehidupan. Jadi tempat sebuah produksi kehidupan dengan budayanya sendiri," kata dia saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Jumat (11/9) petang.
Salah satu dari lima pendiri dari Selasarasa Foodlab itu mengatakan dia tak berangkat dari kertas kosong untuk mendefinisikan hal tersebut. Dia menerangkan dalam sejarahnya kawasan Jagakarsa itu adalah ladang perkebunan atau pertanian dan peternakan.
Menurutnya hal itu bisa dilihat dari toponimi daerah-daerah di sana yang dinamai dari nama-nama komoditas holtikultura seperti Jalan Durian, Pepaya, Kecapi, Matoa, hingga Kelurahan Srengseng Sawah.
Selain itu, sambungnya, masyarakat Jagakarsa juga pernah punya upacara syukuran atas hasil panen seperti Serentaun yakni Sumbang Bumi.
Oleh karena itu, katanya, Majelis Sayur hadir sebagai bagian dari kesadaran bersama sesama warga Jagakarsa--yang kebetulan bertani hingga berkebun--untuk saling menjalin komunikasi, menguatkan, dan berkembang bersama.
"Majelis Sayur ini konsepnya bertetangga. Kita kalau ketemuan, walau masih belum terjadwal sering di tempat yang berbeda. Keliling kebunlah," kata dia.
"Nah, kenapa bermajelis? Karena sepakatnya ya semua setara. Enggak ada ketuanya, ketuanya ya sama-sama nih. Semua orang ini ya ketuanya dan semua orang ini ya anggotanya," sambung Juli yang menegaskan majelis itu tak terkait dengan kepentingan apapun, apalagi politik.
Ahmad Fahrizal pembibit Alpukat di Jagakarsa yang tergabung dalam Majelis Sayur. (CNN Indonesia/Febria Adha L)
Apa yang disampaikan Juli itu diamini Latif secara terpisah. Latif menegaskan tak ada yang namanya 'ketua-ketua' di dalam Majelis Sayur.
Tapi, kalau belakangan ada pihak luar yang ingin tahu tentang Majelis Sayur, mereka memang ada yang bisa diajak ngobrol terlebih dulu sebelum ke lainnya.
Selain Juli dan Latief, beberapa yang jadi bagian Majelis Sayur itu di antaranya ada Ibnuh yang bergiat hidroponik di kebun Youngsayur, Ahmad Fahrizal yang melakukan pembibitan alpukat serta budidaya sayur bersama Peralpukatan Duniawi.
Lalu ada Sophia Louretta yang spesifik membuat kompos atau media tanam lewat Tani Alit, dan seorang ibu rumah tangga Lily Almasih yang berkebun di atap rumahnya (Kebun Emeng).
Fahrizal (38) atau Ijal--pemuda yang berkampung halaman di Jagakarsa--mengonfirmasi soal kebudayaan agrikultur di wilayah tersebut. Bahkan, sambungnya, satu-satunya sekolah kejuruan khusus pertanian di Jakarta cuma ada di Jagakarsa yakni SMKN 63 di Jalan Aselih, Cipedak.
Ijal merupakan salah satu alumni tempat pendidikan yang semula bernama SMK Negeri Pertanian dan Pembangunan tersebut. Sempat menjadi penyuluh untuk institusi pertanian, dia memilih kembali ke kampung halamannya dan menyewa lahan untuk membudidayakan alpukat varietas Miki atau Alpukat Cipedak
Selain alpukat, di lahan yang digunakannya di Kelurahan Ciganjur, dirinya juga menanam budidaya hortikultura lain.
Menurutnya sebagai petani kota di kampung halaman sendiri, mereka harus bersiasat dengan lahan yang terbatas. Namun itu tak jadi halangan, sambungnya, malah jadi karakter tersendiri bagi mereka masing-masing.
"Jadi kan nggak semuanya anak-anak teman-teman Majelis Sayur punya lahan luas ya. Ini kebetulan aja, dan Mas Latif kan pinggir kali, kebetulan juga dia [ada lahan tapak]. Tapi ada juga yang kebetulan di atas atap, dan ada yang harus beradaptasi dengan gang sempit," kata dia. "Uniknya ya, ya karakternya masing-masing," sambung dia yang mengaku baru bergabung dengan Majelis Sayur pada 2023 lalu.
Suasana salah satu kegiatan kumpul Majelis Sayur Jagakarsa di kebun salah satu anggotanya. (dok.istimewa/Majelis Sayur-Latif)
Kini selain lewat marketplace dan media sosial miliknya, Peralpukatan Duniawi, Ijal pun sudah memiliki pelanggan tetap.
Walaupun demikian diakui Latif, Ijal, hingga Lily saat berbincang secara terpisah masing-masing sebetulnya sudah memiliki pasar dan metode penjualan sendiri. Tapi, kata mereka kompak secara terpisah, Majelis Sayur itu jadi wadah komunikasi dan kolaborasi yang memberi energi baru dalam kegiatan masing-masing.
"Kita butuh nongkrong, butuh komunikasi. Enggak asyik juga kalau terlalu [fokus] di bisnis 100 persen kan? tutur Ijal.
"Jadi kita sharing-nya, ya kalau kita mungkin kebetulan kita mungkin punya pengalaman untuk mengelola tanaman yang lebih banyak ya kita cerita sama teman-teman. Kita cerita berbagilah, kalau misalkan kita memang lagi apa namanya, wah kita pengen belajar nih tentang apa yang kita enggak tahu misalkan kompos atau apa, kita pengen belajar, teman-teman kita ada yang ahli di bidang itu, di kompos kayak Mbak Sofi [Tani Alit] gitu ya misalnya. Tukar-tukar aja, tukar ini, gitu," sambungnya.
Urban Agriculture di Jagakarasa
Lily Almasih yang bergiat tani atau urban farming di rooftop kediamannya dan dinamai Kebun Emeng merupakan bagian dari forum Majelis Sayur. (CNN Indonesia/Febria Adha L)
Berbeda dengan Juli yang pada dasarnya datang dari latar belakang seni dan aktivisme pangan, Ijal dan Latif tumbuh di Jagakarsa, serta melihat langsung bagaimana kebun-kebun di sekitar mereka perlahan berubah menjadi bangunan.
Selama bertahun-tahun terakhir, mereka mulai menanam kembali di lahan yang tersisa - halaman rumah, sela-sela bangunan, tanah yang banyak orang anggap tak layak pakai. Dengan cara yang khas, memanfaatkan ruang vertikal, menghemat tanah yang sempit - mereka membuktikan bahwa bertani tetap bisa dilakukan di tengah kota.
Salah satunya Lily Almasih (50) yang memiliki keterbatasan lahan mencoba memanfaatkan ruang yang ada ada rumahnya yang berada di pemukiman padat untuk bercocok tanam di rooftop. Lily berkebun di rooftop rumahnya, dan menamakannya sebagai Kebun Emeng.
"Ini awalnya memang suka berkebun, dulunya di bawah sana sebelum pindah ke atas sini," kata dia saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di kebun rooftop rumahya, Kamis (17/9). Dia sambil menunjuk letak kebun awalnya di bagian permukaan sebelah.
Lily mengaku bersama suaminya, Diarwin Komena (53) menggemari berkebun karena jadi tempat mereka untuk healing sambil menikmati kopi dan kudapan ketika sore hari bersama keluarga.
Perempuan dengan latar belakang akademis hokum itu mengaku baru akan beraktivitas di kebun setelah mempersiapkan kebutuhan anggota keluarganya untuk hari tersebut pada pagi harinya.
"Namanya juga emak-emak ya, semuanya kan harus dikerjain," selorohnya.
Lily bercerita hobinya berkebun tak lepas dari aktivitas keluarga, terutama ayahnya, yang juga memang menetap di Jagakarsa. Dia mengenang saat masih kecil mengingat Jagakarsa sebagai wilayah yang mudah menemukan ladang atau kebun.
"Dulu kan ini Jagakarsa masih banyak banget eh pokoknya serba-serba sawah ini ya. Itu tuh masih banyak yang kebun-kebun gitu, dulu tuh," kata dia.
Dia mengenang pada masa lalu ketika sepulang kerja di akhir pekan, ayahnya sering mengajak ia dan saudaranya ikut ke kebun di lahan belakang rumah mereka.
"Ngajak kita tuh main-main ke kebun itu, gitu, nanam-nanam segala. Apa yang ditanam? Singkong, tales, pokoknya gitulah," kata ibu dari dua anak tersebut.
Lily tak memungkiri, lewat Majelis Sayur membuatnya dapat ilmu baru dan berjejaring. Salah satunya dengan Tani Alit, di mana founder-nya kerap membantunya perihal media tanam.
Sementara itu, Arie (47), yang berdagang mi ayam di kawasan Jalan Durian, Jagakarsa, mengaku kerap mengambil sayur untuk tambahan dagangannya dari sejumlah petani kota yang tergabung dalam Majelis Sayur.
Hal itu tak lepas dari kiprah Arie yang juga tergabung dalam Selarasa Foodlab dan turut mengembangkan bakso sayur.
Peta petani kota di wilayah Jagakarsa yang disusun Majelis Sayur saat dipajang di Kebun Pojok Aselih, Cipedak, Jagakarsa. (CNN Indonesia/ Dika Kardi)
"Rata-rata iya, apalagi buat baso sayur.Kalau buat dagang itu kadang-kadang saya beli di pasar, atau juga kalau teman-teman ready bisa juga ngambil di mereka," kata Arie saat berbincang dengan CNNIndonesia.com tengah bulan ini.
Dalam sehari, kata dia, setidaknya suka menghabiskan minimal 2 kilogram sayur untuk tambahan pada sajian mi dagangannya.
Sebagai sosok yang lama berkecimpung di industri UMKM--terutama di areal Jagakarsa--dia mengaku jaringannya juga menjadi pasar dari hasil panen Majelis Sayur.
Kebetulan pula, sambungnya, anak sulungnya semula di SMKN 63 dan kini berkuliah di IPB. Kegiatan di Majelis Sayur, sambungnya, turut menyambung dengan jalur pendidikan buah hatinya itu.
Dari pemetaan yang dilakukan Selarasa dan Majelis Sayur, setidaknya ada 28 titik lahan pertanian mandiri di Jagakarsa dengan lebih dari 50 produk pangan olahan rumahan.
Namun selama ini para petani itu bekerja sendiri-sendiri. Ada yang menanam di halaman sempit, ada yang di tanah milik warga yang disewakan, ada yang di lahan yang dikelola bersama. Mereka tak saling kenal, tak saling berbagi bibit, tak tahu bahwa tetangganya juga menanam.
Sebagai bagian dari program atau kegiatan, Latif mengatakan mereka pernah pula menggelar pasar kaget, hingga saat ini sekolah tani. Selain itu, Juli bilang Selarasa juga turut membantu menjembatani salah satunya lewat tur odong-odong ke kebun warga, dan kuliah tumbuhan (kultum).
Sofi, komposter dengan nama usaha Tani Alit merupakan bagian dari Majelis Sayur Jagakarasa. (CNNIndonesia/Dika Kardi)
Bertani di ibu kota bukanlah hal yang mudah. Lahan makin menyempit, tergerus perumahan dan jalan tol. Sinar matahari terhalang gedung-gedung, air terbatas, tanah tak selalu subur.
Sophia atau Sofi (48) dari Tani Alit menceritakan soal pengalamannya bertemu lahan yang tak subur saat ingin berkebun. Semua itu, katanya, berawal ketika dia ingin mengelola lahan di kawasan Jalan Radio, Cipedak.
Dia cerita dulu tanah yang ingin dikelola di bawah permukaannya ternyata banyak sampah tertimbun dari mulai sampah kain, plastik, hingga kaca atau beling.
Perempuan yang pernah menjalani karier sebagai konsultan pemasaran produk dan semula menetap di Jakarta Timur itu mengaku ketika berada di Jagakarsa ingin mengolah lahan dan mengisinya dengan tanaman. Namun, kesulitan yang dialaminya di awal ingin mengolah lahan itulah kemudian dia mendalami soal ilmu tanah hingga media tanam.
Setelah berkecimpung lama, akhirnya dia memilih lebih mengembangkan media tanam dan mengembangkannya jadi usaha bersama Tani Alit.
Dia kini dikenal sebagai founder Tani Alit bersama Co-Founder, Ninik Yuniati (43) yang sebelumnya lama berkecimpung di dunia radio berita.
Sejumlah siswa di SMKN 63 Jakarta, satu-satunya sekolah menengah kejuruan pertanian di DKI. SMK ini ada di Cipedak, Jagakarsa. (CNN Indonesia/Febria Adha L)
Cerita unik dari Sofi, bahwa dia sebetulnya sudah berkomunikasi juga dengan sejumlah orang di Majelis Sayur sebelumnya. Namun, komunikasi itu terjalin lewat media sosial dan market place. Salah satunya dengan Ibnuh dari Youngsayur sebelum dirinya ikut bergabung dengan Majelis Sayur.
"Ibnuh lagi nyari media tanam, nyari cacing, jadi waktu itu kau lagi meneliti vermicomposting (pembuatan kompos dengan bantuan cacing) dan mencoba vermikomposting di rumah. Terus datanglah ini chat [dari ibnuh di aplikasi marketplace], dan kemudian ngobrollah kita tentang kompos dan cacing itu," tutur Sofi saat CNNIndonesia.com berkunjung tengah September ini
Hingga akhirnya dia diajak juga untuk berkumpul bersama Majelis Sayur. Sofi menceritakan secara umum, dirinya memiliki karakter berbeda dengan rekan-rekan lainnya di Majelis Sayur yang memang kegiatan utamanya adalah bercocok tanam.
Dia mengaku di rumah yang ditempati kini di kawasan Antariksa Raya, Cipedak, itu lebih bergiat untuk media tanam bersama Tani Alit. Walaupun demikian, dia menyatakan bisa saling sharing dengan sesama 'petani kota' di Majelis Sayur.
Salah satunya ketika dia ingin mencoba produk media tanamnya pada tumbuhan yang dibudidayakan sesama anggota Majelis Sayur.
"Nah iya, salah satunya dengan Kak Lily (Kebun Emeng) itu," katanya merespons pertanyaan soal 'uji coba media tanam'. "Jadi kita tuh ingin tahu seberapa pengaruhnya media tanam sama tumbuhan tertentu. Jadi saya pesannya kalau bisa enggak dicampur apa-apa lagi," sambungnya.
Juli mengatakan Jagakarsa pernah menjadi lumbung pangan bagi Jakarta saat masih menjadiBataviahingga pascakemerdekaan. Kini, lewat Majelis Sayur, mereka membuktikan bahwa kemandirian pangan bukan mimpi di kota besar. Ia bisa diwujudkan perlahan, bersama-sama, di tanah yang tersisa.
Menurut Juli, kembali ke pertanian bukan berarti mundur ke masa lalu. Bagi mereka, itu adalah melangkah maju - menuju kemandirian, kebersamaan, dan ketahanan pangan.
Walaupun, tak dipungkiri Juli, pada akhirnya ketika berkembang di antara mereka juga membangun kebun di daerah lain seperti dirinya dengan mangga, lalu Ijalmasih dengan alpukat di Rumpin, dan Lily dengan kebun sayurnya di Cipanas.