HARI TANI 2026

Kiprah Majelis Sayur, Jaringan Kolektif Petani Kota di Jaksel

Dika Kardi | CNN Indonesia
Kamis, 24 Sep 2026 13:57 WIB
Sekelompok warga 'petani kota' di Kecamatan Jagakarsa, Jaksel, membangun forum yang dinamakan Majelis Sayur.
Lily Almasih yang bergiat tani atau urban farming di rooftop kediamannya dan dinamai Kebun Emeng merupakan bagian dari forum Majelis Sayur. (CNN Indonesia/Febria Adha L)

Berbeda dengan Juli yang pada dasarnya datang dari latar belakang seni dan aktivisme pangan, Ijal dan Latif tumbuh di Jagakarsa, serta melihat langsung bagaimana kebun-kebun di sekitar mereka perlahan berubah menjadi bangunan.

Selama bertahun-tahun terakhir, mereka mulai menanam kembali di lahan yang tersisa - halaman rumah, sela-sela bangunan, tanah yang banyak orang anggap tak layak pakai. Dengan cara yang khas, memanfaatkan ruang vertikal, menghemat tanah yang sempit, mereka membuktikan bertani tetap bisa dilakukan di tengah kota yang padat.

Salah satunya Lily Almasih (50) yang memiliki keterbatasan lahan mencoba memanfaatkan ruang yang ada ada rumahnya yang berada di pemukiman padat untuk bercocok tanam di rooftop. Lily berkebun di rooftop rumahnya, dan menamakannya sebagai Kebun Emeng.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini awalnya memang suka berkebun, dulunya di bawah sana sebelum pindah ke atas sini," kata dia saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di kebun rooftop rumahya, Kamis (17/9). Dia sambil menunjuk letak kebun awalnya di bagian permukaan sebelah.

Lily mengaku bersama suaminya, Diarwin Komena (53) menggemari berkebun karena jadi tempat mereka untuk healing sambil menikmati kopi dan kudapan ketika sore hari bersama keluarga.

Perempuan dengan latar belakang akademis hukum itu mengaku baru akan beraktivitas di kebun setelah mempersiapkan kebutuhan anggota keluarganya untuk hari tersebut pada pagi harinya.

"Namanya juga emak-emak ya, semuanya kan harus dikerjain," selorohnya.

Lily bercerita hobinya berkebun tak lepas dari aktivitas keluarga, terutama ayahnya, yang juga memang menetap di Jagakarsa. Dia mengenang saat masih kecil mengingat Jagakarsa sebagai wilayah yang mudah menemukan ladang atau kebun.

"Dulu kan ini Jagakarsa masih banyak banget eh pokoknya serba-serba sawah ini ya. Itu tuh masih banyak yang kebun-kebun gitu, dulu tuh," kata dia.

Lily mengenang pada masa lalu ketika sepulang kerja di akhir pekan, ayahnya sering mengajak ia dan saudaranya ikut ke kebun di lahan belakang rumah mereka.

"Ngajak kita tuh main-main ke kebun itu, gitu, nanam-nanam segala. Apa yang ditanam? Singkong, tales, pokoknya gitulah," kata ibu dari dua anak tersebut.

Lily tak memungkiri, lewat Majelis Sayur membuatnya dapat ilmu baru dan berjejaring. Salah satunya dengan Tani Alit, di mana founder-nya kerap membantunya perihal media tanam.

Sementara itu, Arie (47), yang berdagang mi ayam di kawasan Jalan Durian, Jagakarsa, mengaku kerap mengambil sayur untuk tambahan dagangannya dari sejumlah petani kota yang tergabung dalam Majelis Sayur.

Hal itu tak lepas dari kiprah Arie yang juga tergabung dalam Selarasa Foodlab dan turut mengembangkan bakso sayur.

Kebun Pojok Aselih, bagian dari Majelis Sayur JagakarsaPeta petani kota di wilayah Jagakarsa yang disusun Majelis Sayur saat dipajang di Kebun Pojok Aselih, Cipedak, Jagakarsa. (CNN Indonesia/ Dika Kardi)

"Rata-rata iya, apalagi buat baso sayur.Kalau buat dagang itu kadang-kadang saya beli di pasar, atau juga kalau teman-teman ready bisa juga ngambil di mereka," kata Arie saat berbincang dengan CNNIndonesia.com tengah bulan ini.

Dalam sehari, kata dia, setidaknya suka menghabiskan minimal 2 kilogram sayur untuk tambahan pada sajian mi dagangannya.

Sebagai sosok yang lama berkecimpung di industri UMKM--terutama di areal Jagakarsa--dia mengaku jaringannya juga menjadi pasar dari hasil panen Majelis Sayur.

Kebetulan pula, sambungnya, anak sulungnya semula di SMKN 63 dan kini berkuliah di IPB. Kegiatan di Majelis Sayur, sambungnya, turut menyambung dengan jalur pendidikan buah hatinya itu.

[Gambas:Instagram]

Dari pemetaan yang dilakukan Selarasa dan Majelis Sayur, setidaknya ada 28 titik lahan pertanian mandiri di Jagakarsa dengan lebih dari 50 produk pangan olahan rumahan.

Sebagai bagian dari program atau kegiatan, Latif mengatakan mereka pernah pula menggelar pasar kaget, hingga saat ini sekolah tani.

Selain itu, Juli bilang Selarasa juga turut membantu menjembatani salah satunya lewat tur odong-odong ke kebun warga, dan kuliah tumbuhan (kultum).

Sophie, komposter dengan nama usaha Tani Alit merupakan bagian dari Majelis Sayur Jagakarasa. (CNNIndonesia/Dika Kardi)Sofi, komposter dengan nama usaha Tani Alit merupakan bagian dari Majelis Sayur Jagakarasa. (CNNIndonesia/Dika Kardi)

Kesuburan lahan

Bertani di ibu kota bukanlah hal yang mudah. Lahan makin menyempit, tergerus perumahan dan jalan tol. Sinar matahari terhalang gedung-gedung, air terbatas, tanah tak selalu subur.

Sophia atau Sofi (48) dari Tani Alit menceritakan soal pengalamannya bertemu lahan yang tak subur saat ingin berkebun. Semua itu, katanya, berawal ketika dia ingin mengelola lahan di kawasan Jalan Radio, Cipedak.

Dia cerita dulu tanah yang ingin dikelola di bawah permukaannya ternyata banyak sampah tertimbun dari mulai sampah kain, plastik, hingga kaca atau beling.

Perempuan yang pernah menjalani karier sebagai konsultan pemasaran produk dan semula menetap di Jakarta Timur itu mengaku ketika berada di Jagakarsa ingin mengolah lahan dan mengisinya dengan tanaman. Namun, kesulitan yang dialaminya di awal ingin mengolah lahan itulah kemudian dia mendalami soal ilmu tanah hingga media tanam.

Setelah berkecimpung lama, akhirnya dia memilih lebih mengembangkan media tanam dan mengembangkannya jadi usaha bersama Tani Alit.

Dia kini dikenal sebagai founder Tani Alit bersama Co-Founder, Ninik Yuniati (43) yang sebelumnya lama berkecimpung di dunia radio berita.

Majelis Sayur, jaringan kolektif para pegiat tani kota di Jagakarsa ini berupaya menggerakkan sekolah tani. Komunitas sejak 2021 itu terbetuk oleh inisiatif sejumlah anak muda pegiat seni dengan latar belakang masing-masing yang tergabung dalam Gudskul di Jagakarsa. (CNN Indonesia/Febria Adha L)Sejumlah siswa di SMKN 63 Jakarta, satu-satunya sekolah menengah kejuruan pertanian di DKI. SMK ini ada di Cipedak, Jagakarsa. (CNN Indonesia/Febria Adha L) 

Cerita unik dari Sofi, bahwa dia sebetulnya sudah berkomunikasi juga dengan sejumlah orang di Majelis Sayur sebelumnya. Namun, komunikasi itu terjalin lewat media sosial dan market place. Salah satunya dengan Ibnuh dari Youngsayur sebelum dirinya ikut bergabung dengan Majelis Sayur.

"Ibnuh lagi nyari media tanam, nyari cacing, jadi waktu itu kau lagi meneliti vermicomposting (pembuatan kompos dengan bantuan cacing) dan mencoba vermikomposting di rumah. Terus datanglah ini chat [dari Ibnuh di aplikasi marketplace], dan kemudian ngobrollah kita tentang kompos dan cacing itu," tutur Sofi saat CNNIndonesia.com berkunjung tengah September ini

Hingga akhirnya dia diajak juga untuk berkumpul bersama Majelis Sayur. Sofi menceritakan secara umum, dirinya memiliki karakter berbeda dengan rekan-rekan lainnya di Majelis Sayur yang memang kegiatan utamanya adalah bercocok tanam.

Dia mengaku di rumah yang ditempati kini di kawasan Antariksa Raya, Cipedak, itu lebih bergiat untuk media tanam bersama Tani Alit. Walaupun demikian, dia menyatakan bisa saling sharing dengan sesama 'petani kota' di Majelis Sayur.

Salah satunya ketika dia ingin mencoba produk media tanamnya pada tumbuhan yang dibudidayakan sesama anggota Majelis Sayur.

"Nah iya, salah satunya dengan Kak Lily (Kebun Emeng) itu," katanya merespons pertanyaan soal 'uji coba media tanam'.

"Jadi kita tuh ingin tahu seberapa pengaruhnya media tanam sama tumbuhan tertentu. Jadi saya pesannya kalau bisa enggak dicampur apa-apa lagi," sambungnya.

Juli mengatakan Jagakarsa pernah menjadi lumbung pangan bagi Jakarta saat masih menjadi Batavia hingga pascakemerdekaan. Kini, lewat Majelis Sayur, mereka membuktikan bahwa kemandirian pangan bukan mimpi di kota besar.

Menurut Juli, kembali ke pertanian bukan berarti mundur ke masa lalu. Bagi mereka, itu adalah melangkah maju menuju kemandirian, kebersamaan, dan ketahanan pangan.

Walaupun, tak dipungkiri Juli, pada akhirnya ketika berkembang di antara mereka juga membangun kebun di daerah lain seperti dirinya dengan mangga, lalu Ijal masih dengan alpukat di Rumpin, dan Lily dengan kebun sayurnya di Cipanas.

(kid/ugo)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2