HARI TANI 2026

Urban Farming, Sebuah Inspirasi Kaum Tani Kota di Metropolitan Jakarta

Dika Kardi | CNN Indonesia
Kamis, 24 Sep 2026 09:31 WIB
Urban farming di Jakarta berkembang di tengah belantara beton metropolitan. Kisah warga yang a kreatif memanfaatkan lahan terbatas untuk bertani di tengah kota.
Kebun hortikultura di rooftop rumah Suryana di Pasar Manggis, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan. (CNN Indonesia/Moureen Nathalia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jakarta selama puluhan tahun Indonesia merdeka, makin penuh bangunan tegak dan pemukiman padat. Namun di sela-selanya ada sejumlah pegiat yang kreatif memanfaatkan lahan untuk bertani.

Istilahnya Urban Farming, ketika di lahan sempit perkotaan semangat warga tak pernah lelah untuk menanam komoditas hortikultura.

Tak semuanya berlatar belakang sebagai petani ataupun akademisi ilmu pertanian. Namun, keinginan dan kreativitas membuat mereka bisa bertahan dengan aktivitas urban farming.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan, sebagian malah sudah menggantungkan hidupnya pada kegiatan tani kota tersebut. Setiap tunas yang tumbuh adalah doa yang ditanam di tanah kota, ketika kebun-kebun kecil itu hidup dan tak menyerah pada hiruk pikuk Jakarta.

Pasutri pensiunan guru

Salah satunya adalah pasangan suami istri (pasutri) di Sunter Jaya, Jakarta Utara. Sutarno dan Yuliana-keduanya usia 63-memang kini bukan anak muda lagi. Namun, mereka sudah memiilih menekuni jalan tani kota alias urban farming sejak masih usia jauh lebih muda dari saat ini.

Kala itu, baik Sutarno dan Yuliana terbilang masih produktif dengan pekerjaan masing-masing sebagai guru. Sutarno lah yang lebih dulu berkecimpung dengan tanam-menanam di tengah lahan kota lalu mengambil pensiun dini pada 2015 demi fokus di dunia agrobisnis, disusul istrinya yang pensiun pada 2023 lalu.

Urban farming tak hanya sekadar menanam tanaman apa saja di tengah lahan kota yang terbatas. Oleh karena itu, selama bertahun-tahun bergerak di bidang lingkungan, Sutarno selalu membuka pintu rumahnya bagi tamu yang ingin belajar terkait urban farming ataupun yang tertarik membeli komposter buatannya.

Tamu yang datang pun disuguhi dengan berbagai kreasi pangan yang bahannya dari kebun sendiri.

Saat CNNIndonesia.com berkunjung, pasutri itu menyajikan bakwan daun kelor dan puding daun pegagan. Daun kelor dan daun pegagan yang jadi bahan utama panganan itu tidak dibeli dari sembarang tempat, melainkan dipanen dari urban farming yang dilakukan di lantai atas rumah mereka.

Sutarno bercerita dirinya sudah secara tak langsung dia sudah menekuni urban farming sejak sekitar 2008 silam. Namun, awalnya bukan tanam-menanam yang menjadi 'mainannya' melainkan pengelolaan sampah untuk dijadikan kompos atau media tanam.

"Awalnya memang bagaimana kita memanfaatkan media tanam saja. Tapi tanamnya di mana? Nah itu akan mengalir, muncul. Oh di genteng bisa, oh di tembok bisa. Nah teknologinya itu juga muncul. Sehingga yang kita lakukan ternyata membuat keluarga itu kalau mau makan cukup dari kebun saja," kata Sutarno saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Senin (7/9).

Sutarno, pegiat lingkungan sekaligus warga Sunter Jaya, Jakarta Utara.Sutarno, pegiat lingkungan sekaligus warga Sunter Jaya, Jakarta Utara, yang telah bertahun-tahun melaksanakan urban farming di atap rumahnya. (CNN Indonesia/Moureen Nathalia)

Dan lewat kiprah di kompos, dia bersama istri kini menaungi UMKM bernama Utama Composter.

Seiring berjalannya waktu, urban farming di rumahnya pun semakin berkembang di bagian atap (rooftop).

Dari tanaman pangan seperti singkong dan sayuran bayam-kangkung, hingga tanaman buah dalam pot atau Tabulampot pun ada seperti apel dan kedondong. Selain itu, ia juga merawat yang bermanfaat untuk obat-obatan alias togamas.

Sutarno mengaku hasil panen dari urban farming ini disalurkan ke berbagai tempat. Ada yang dipasarkan-baik hasil tumbuhan maupun olahannya-baik secara daring maupun luring, ada yang dikonsumsi sendiri, dan ada juga yang dibagikan.

Sutarno, pegiat lingkungan sekaligus warga Sunter Jaya, Jakarta Utara.Sutarno mendirikan rumah edukasi komposter di kediamannya. ( CNN Indonesia/Moureen Nathalia)

Beternak dan bertani di pusat kota Jakarta

Bukan di daerah perbatasan atau pinggiran kota Jakarta, Suryana (56) yang juga Ketua RT setempat memanfaatkan bagian tersisa rumahnya yang berada dalam gang di Setiabudi, Jakarta Selatan sebagai tempat beternak dan bertani alias urban farming.

Menciptakan sistem pertanian yang terintegrasi di lahan terbatas di tengah kota bukanlah hal yang mustahil baginya meski rumahnya di sebuah gang kecil di Kelurahan Pasar Manggis, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan.

Dia berkebun di atap rumah yang didak itu sejak Oktober 2024 lalu. Pembangunan dak tersebut menjadi awal dari perjalanannya menjalankan aktivitas urban farming di rooftop rumah.

"Kalau sayuran tuh, yang rutin, kangkung, cabai, tomat, terong. Nah itu sama ya sesekali, bawang merah, daun bawang. Itu cuma buat kebutuhan pribadi aja. Ya kalau berlebih kita berbagi dengan kita undang panen bareng, kadang-kadang dari PKK, kelurahan juga ikut," ujar pria yang karib disapa Pak Nana itu saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, awal September ini.

Suryana, atau yang kerap disapa dengan nama Pak Nana atau Pak RT di Pasar Manggis, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan.Suasana gang di depan rumah Suryana yang melaksanakan urban farming di rooftop kediamannya di Kelurahan Pasar Manggis, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan. (CNN Indonesia/Moureen Nathalia)

Kegiatan urban farming dan beternak itu dia pelajari secara mandiri tanpa memiliki latar belakang sebagai seorang petani ataupun peternak, maupun akademisi terkait.

Selain sayuran-sayuran tersebut, beragam tanaman lainnya juga dibudidayakan Suryana. Papan nama kecil bertuliskan lengkeng dan jenis buah buahan lainnya pun terlihat ditancapkan pada pot-pot yang dibariskan di rooftop rumahnya.

Dia mengaku pupuk yang digunakan merupakan hasil olahannya sendiri dari kotoran hewan (kohe) domba ternaknya di rumah tersebut.

"Limbah dari kohe itu, nah tadi nih, keterikatan sama pertanian terintegrasi. Limbah ini itu kan bisa kita manfaatkan buat pupuk. Itu, baik kohe-nya maupun urine-nya, gitu. Jadi alasannya itu kenapa kita melihara domba," ungkapnya

Terdapat total lima domba yang ia ternak di rumahnya. Rutinitasnya beternak pun saling beriringan dengan rutinitasnya untuk mengelola urban farming.

Suryana, atau yang kerap disapa dengan nama Pak Nana atau Pak RT di Pasar Manggis, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan.Ternak domba yang dikelola dengan bersih oleh Suryana di kediamannya. (CNN Indonesia/Moureen Nathalia

Sejauh ini, kata Suryana, keberadaan kandang domba di lahan rumahnya itu tak menuai keberatan dari tetangga maupun warga lain.

Bagi Suryana dan keluarga, manfaat dari kegiatan urban farming akhirnya tak hanya dirasakan dari berkurangnya anggaran belanja dapur. Ia pun merasakan dampak urban farming bagi kesehatan hingga kehidupan spiritualnya.

Menurut Suryana, "Dari sisi spiritualnya kan tadi ada, memang bonus lah, dihitung sedekah karena punya nilai manfaat buat lingkungan, buat manusia, maupun buat makhluk yang lain. Ini kadang-kadang burung pada ke sini, serangga, lebah kalau lagi jagung berbuah, lebah banyak di sini. Nah, itu artinya ada siklus kehidupan yang kita buat."

Sementara itu, Sutarno dalam perbincangan sambil menyusuri setiap tanaman yang ia rawat mengatakan, terlepas dari teknologi yang digunakan ataupun model urban farming yang dilakukan, dia berharap gerakan itu bisa terus meluas dan konsisten. Terkhususnya, harapan ini ia tujukan untuk masyarakat DKI Jakarta.

Seribu titik dan dua ribu pegiat urban farming

Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok mengatakan dari pendataan pihaknya saat ini setidakya diperkirakan ada 1.399 titik dan lebih dari dua ribu pegiat urban farming di seluruh kawasan ibu kota itu.

"Jumlah lokasi urban farming di DKI Jakarta 1.399 titik dengan total luasan urban farming komoditas hortikultura pada tahun 2025 sejumlah 138,38 hektare," kata dia saat diwawancara CNNindonesia.com pada pertengahan September ini.

"Penggiat urban farming di DKI Jakarta berjumlah 2.814 orang (data statistik pertanian DKPKP DKI Jakarta per Agustus 2026)," sambungnya.

Selain itu, dia bilang kegiatan urban farming di Jakarta pun sejatinya telah tertulis di Instruksi Gubernur Nomor 14 tahun 2018 tentang Pelaksanaan Pertanian Perkotaan.

Lewat Ingub itu, katanya, urban farming sudah menjadi bagian gaya hidup dalam upaya menghijaukan lingkungan dan mendukung ketahanan pangan.

Urban Agriculture dan Urban Farming BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2