HARI TANI 2026

Urban Farming, Sebuah Inspirasi Kaum Tani Kota di Metropolitan Jakarta

Dika Kardi | CNN Indonesia
Kamis, 24 Sep 2026 09:31 WIB
Urban farming di Jakarta berkembang di tengah belantara beton metropolitan. Kisah warga yang a kreatif memanfaatkan lahan terbatas untuk bertani di tengah kota.
Seorang ASN melihat kebun urban farming di rooftop Kantor Kelurahan Guntur, Jakarta Selatan. (CNN Indonesia/Moureen Nathalia)

Urban Agriculture

Di perbatasan Jakarta-Depok, tepatnya di Jagakarsa, terdapat sebuah forum warga-umumnya kelompok muda-petani kota di kecamatan itu yang menamai diri mereka sebagai Majelis Sayur. Secara formal, beberapa pegiat mengatakan Majelis Sayur mulai dirintis sekitar 2021 silam, berawal dari sebuah acara terkait pangan dan tanaman hortikultura yang mengumpulkan mereka.

Julian Riezki (40) salah satu penggiat di Majelis Sayur menceritakan Jagakarsa pada dasarnya bukan lagi kegiatan urban farming, tetapi sudah lebih menjurus pada kebudayaan budi daya pertanian di kota (urban agriculture).

"Jagakarsa ini menurut saya sudah bukan lagi sekedar urban farming, tapi urban agriculture. Bukan lagi cuma 'menanam di kota', tapi ada sebuah ikatan antara warga dan sumber kehidupan. Jadi tempat sebuah produksi kehidupan dengan budayanya sendiri," kata dia saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Jumat (11/9) petang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu dari lima pendiri dari Selasarasa Foodlab itu mengatakan dia tak berangkat dari kertas kosong untuk mendefinisikan hal tersebut. Pasalnya, kata pria yang karib disapa Juli, dalam sejarahnya kawasan Jagakarsa itu adalah ladang perkebunan atau pertanian dan peternakan.

Menurutnya hal itu bisa dilihat dari toponimi daerah-daerah di sana yang dinamai dari nama-nama komoditas holtikultura seperti Jalan Durian, Pepaya, Kecapi, Matoa, hingga Kelurahan Srengseng Sawah.

Selain itu, sambungnya, masyarakat Jagakarsa juga pernah punya upacara syukuran atas hasil panen seperti Serentaun yakni Sumbang Bumi.

Oleh karena itu, katanya, Majelis Sayur hadir sebagai bagian dari kesadaran bersama sesama warga Jagakarsa-yang kebetulan bertani hingga berkebun-untuk saling menjalin komunikasi, menguatkan, dan berkembang bersama.

"Majelis Sayur ini konsepnya bertetangga. Kita kalau ketemuan, walau masih belum terjadwal sering di tempat yang berbeda. Keliling kebunlah," kata dia.

"Nah, kenapa bermajelis? Karena sepakatnya ya semua setara. Enggak ada ketuanya, ketuanya ya sama-sama nih. Semua orang ini ya ketuanya dan semua orang ini ya anggotanya," sambung Juli yang menegaskan majelis itu tak terkait dengan kepentingan apapun, apalagi politik.

Apa yang disampaikan Juli itu diamini Abdul Latif (36) secara terpisah. Latif, pemuda Jagakarsa yang berkebun di lahan bantaran kali yang dinamainya Pondok Aselih menegaskan tak ada yang namanya 'ketua-ketua' di dalam Majelis Sayur.

Tapi, kalau belakangan ada pihak luar yang ingin tahu tentang Majelis Sayur, mereka memang ada yang bisa diajak ngobrol terlebih dulu sebelum ke lainnya.

Selain Juli dan Latief, beberapa yang jadi bagian Majelis Sayur itu di antaranya ada Ibnuh yang bergiat hidroponik di kebun Youngsayur, Ahmad Fahrizal yang melakukan pembibitan alpukat serta budidaya sayur bersama Peralpukatan Duniawi.

Lalu ada Sophia Louretta yang spesifik membuat kompos dan media tanam lewat Tanialit, dan seorang ibu rumah tangga Lily Almasih yang berkebun di atap rumahnya (Kebun Emeng).

Kebun Pojok Aselih, bagian dari Majelis Sayur JagakarsaPeta petani kota di wilayah Jagakarsa yang disusun Majelis Sayur saat dipajang di Kebun Pojok Aselih, Cipedak, Jagakarsa. (CNN Indonesia/ Dika Kardi)

Latif mengatakan seiring waktu, kini Majelis Sayur sedang berkolaborasi untuk membuat Sekolah Tani Kota. Untuk kurikulumnya, kata dia, bekerja sama dengan sejumlah pihak termasuk beberapa orang yang tergabung dalam arena kreatif di Jagakarsa, Gudskul.

Untuk kegiatan selain berkolaborasi di bidang ilmu, Latif mengaku berharap Majelis Sayur juga bisa membangun 'Pasar Bersama', setidaknya di Jagakarsa.

"Di Jakarta ini kan pasarnya besar ya, [panen dari Bogor] kan suplainya ke sini. Nah, gimana kita bisa bangun juga agar bisa mendapatkan pasar itu yang terdekat, ya di kecamatan ini," kata Latif.

"Nah kita bagian dari solusi itu," sambungnya.

Walaupun demikian diakui Latif, Rizal, hingga Lily saat berbincang secara terpisah masing-masing sebetulnya sudah memiliki pasar dan metode penjualan sendiri. Tapi, kata mereka kompak secara terpisah, Majelis Sayur itu jadi wadah komunikasi dan kolaborasi yang memberi energi baru dalam kegiatan masing-masing.

(dok.istimewa/Majelis Sayur-Latif)Suasana salah satu kegiatan kumpul Majelis Sayur Jagakarsa di kebun salah satu anggotanya. (dok.istimewa/Majelis Sayur-Latif)

Urban farming di kantor pemerintah

Tak hanya dimonopoli warga biasa, pemerintah kota dan jajarannya turut turun tangan membina dan mengurus urban farming, termasuk di lingkungan perkantoran masing-masing. Salah satunya di Kantor Kelurahan Guntur, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan.

Dari kejauhan, Kantor Kelurahan Guntur, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan tampak seperti kantor pemerintahan daerah seperti biasanya.

Seluruh pegawai hingga petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) terlihat berkumpul di lantai dasar untuk mengikuti apel pada Senin (7/9), sekitar pukul 08.00 pagi.

Pasca-apel, sejumlah petugas PPSU langsung beranjak naik ke lantai 5 kantor. Bukan untuk istirahat, melainkan untuk mengelola urban farming yang ada di rooftop kantor.

Sebelumnya, rooftop ini hanyalah tempat terbengkalai yang digunakan untuk menaruh sejumlah barang tidak digunakan. Namun, sejak 2 tahun lalu, tempat ini disulap menjadi tempat untuk budi daya tanaman.

"Karena di wilayah Kelurahan Guntur kebetulan sudah padat, karena bertepatan di tengah kota, untuk lahan makin susah. Jadi jalan satu-satunya harus memanfaatkan lahan yang ada, seperti rooftop dan pekarangan rumah," ujar Lurah Guntur, Teguh Tri Atmanto, saat berbincang CNNIndonesia.com pertengahan September ini.

petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) mengelola urban farming yang ada di rooftop kantor Kelurahan Guntur.Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) mengelola urban farming yang ada di rooftop kantor Kelurahan Guntur. (CNN Indonesia/Moureen Nathalia)

Bukan untuk sembarang alasan, jelas Teguh, urban farming ini ditujukan untuk mendukung ketahanan pangan warga serta menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih hijau.

"Selain sebagai ketahanan pangan dan penghijauan, juga sebagai edukasi kepada masyarakat. Kan kita harus memberi contoh dulu," lanjutnya.

Pengelolaan urban farming ini tak hanya melibatkan satu pihak tertentu. Kelurahan, petugas PPSU, hingga anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) turut andil dalam kegiatan ini. Tidak disalurkan secara acak, hasil panen ini utamanya dibagikan secara khusus kepada warga yang membutuhkan.

"Pengelolaannya kalau sudah panen diserahkan ke PKK. Kan PKK yang tahu mana yang membutuhkan karena dia berhubungan langsung sama masyarakat," lanjutnya.

Hasil panen dari urban farming ini tidak ucuk-ucuk ada. Para pengelola, yang awalnya tidak yakin bisa menanam karena tidak ada lahan kosong, telah melalui berbagai proses belajar sejumlah pihak-termasuk PPSU yang ditugaskan--seiring berjalannya waktu.

"Belajar, kita semua dari belajar, sih. Ya coba, terus kita kan di sini kan kita juga dimonitori dari KPKP, dari Dinas KPKP untuk penanaman, untuk ketahanan pangan. Banyak informasi. Jadi dari KPKP kita kalau seandainya ada kendala apa, kita bisa main ke KPKP, kita butuh apa. Ya, terus kita semua dari nol sebenarnya," ujar Harno, salah satu petugas PPSU yang bertugas mengelola urban farming.

Ketika dikunjungi tim CNNIndonesia.com, petugas sedang menanam kembali pakcoy di sistem hidroponik ini. Tak hanya menanam, mengairi, dan menuai, para petugas juga pada akhirnya belajar terkait menjaga tanaman dari hama.

"Galon-galon yang udah enggak kepakai, mungkin kan orang nggak ngerti, buat sebagai pot. Kita isi tanamannya, ya alhamdulillah kan ada cabai, jagung, ya macam-macam, kan nyatanya hidup. Kalau seandainya kita semua mau nanam gini, kebutuhan ibaratnya ngurangin biaya," ujar salah satu PPSU yang mengelola urban farming di kantor kelurahan itu, Harno.

petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) mengelola urban farming yang ada di rooftop kantor Kelurahan Guntur.Tanaman terong yang sudah menunjukkan hasil di kebun urban farming yang dikelola PPSU di rooftop antor Kelurahan Guntur. (CNN Indonesia/Moureen Nathalia)

Terpisah, Selain di Kantor Kelurahan Guntur itu, Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok mengatakan, "Banyak Instansi di Pemprov DKI Jakarta secara mandiri sudah melakukan urban farming baik secara konvensional maupun dengan teknologi vertikal garden, hidroponik, rooftop hingga green house."

Pelaksanan itu tak lepas dari Ingub 14/2018, Desain Besar Pertanian Perkotaan DKI Jakarta (2018-2030), Instruksi Sekretaris Daerah Ibukota Jakarta Nomor 40 tentang tentang Pelaksanaan Pertanian Perkotaan Melalui Pelaksanaan Gerakan Menaman Tanaman Pangan Pendamping Beras untuk Ketahanan Pangan Keluarga di DKI Jakarta.

"DKI Jakarta memang bukan sentra produksi pangan namun kebutuhannya sangat tinggi akan pasokan pangan, sehingga sebagai upaya ketahanan pangan pada lingkup keluarga melalui diversifikasi sumber pangan pada komoditas tanaman pangan pendamping beras," kata dia.

"Melalui kegiatan urban Farming dapat menjadi solusi di tengah luasan lahan di perkotaan yang semakin terbatas," sambungnya.

Untuk membantu warga, pihaknya secara rutin melakukan pembinaan, pendampingan dan memfasilitasi kelompok dan penggiat urban farming melalui pelatihan, monoitoring pemberian bantuan sarana produksi (saprodi). Bahkan, sambungnya, ada juga pengiriman tim mobile secara berkala untuk membantu kemungkinan risiko penyakit tanaman.

"Melalui UPT Pusat Pengembangan Benih dan Proteksi Tanaman, DKPKP DKI Jakarta secara rutin menerjunkan mobil klinik tanaman dan tim brigade proteksi tanaman sebagai sarana konsultasi, pengecekan tanaman skala lab mobil, rekomendasi hingga penanganan serangan organisme penggangu tumbuhan (OPT) kepada masyarakat secara gratis," tuturnya.

(mou/yoa/kid/ugo)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2