276 Siswa dan Orang Tua di Batang Diduga Keracunan MBG

CNN Indonesia
Kamis, 24 Sep 2026 09:11 WIB
Sebanyak 276 warga di Batang diduga keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis. (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebanyak 276 warga di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pemkab Batang menyiapkan empat layanan kesehatan untuk menangani warga yang terdampak.

Wakil Bupati Batang Suyono mengatakan penanganan dilakukan di sejumlah fasilitas kesehatan, yakni Puskesmas Batang, RSU Limpung, Puskesmas Subah, dan RSUD Kalisari Batang.

"Kita berikan layanan di sejumlah tempat layanan kesehatan, seperti Puskesmas Batang, RSU Limpung, Puskesmas Subah, dan RSUD Kalisari Batang," kata Wakil Bupati Batang, Suyono, ditemui di RSUD Kalisari, Rabu (23/9) malam.

Suyono menyebut jumlah warga yang terdampak masih dapat berubah karena pendataan dan pemeriksaan masih berlangsung.

"Update jam 20.38 WIB, total 276 (orang) yang terdampak di Bawang. Jadi perkembangan nantinya kita tunggu, saat ini kita perhatian bersama," lanjut Suyono.

Pemkab Batang juga telah meminta Dinas Kesehatan mengambil sampel makanan MBG untuk diperiksa di laboratorium.

"Kita tunggu bersama, sambil menunggu hasil lab. Tadi saya sudah telepon Dinas Kesehatan agar mengambil sampel," tuturnya.

Keluhan dialami warga beberapa jam setelah menyantap MBG yang dibagikan pada Selasa (22/9). Suyono mengatakan makanan tersebut dikonsumsi para siswa sekitar pukul 11.00 WIB, sementara gejala mulai dirasakan pada siang hingga sore hari.

"Yang anak sekolah makan jam 11.00 WIB, tapi terasanya sore, jam 01.00 (13.00 WIB) atau jam 02.00 (14.00 WIB)," ujarnya.

Selain siswa, sejumlah orang tua murid juga mengalami keluhan setelah mencicipi makanan MBG yang dibawa pulang anak mereka. Gejala yang dirasakan di antaranya mual dan pusing.

Dugaan sumber keracunan dari telur

Suyono mengatakan telur menjadi salah satu dugaan awal makanan yang menyebabkan keluhan tersebut. Namun, dugaan itu belum dapat dipastikan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar.

"Telur, makan telur, rasanya beda. Setelahnya menjadi mual. Tadi saya tanya pusing dan mual," katanya.

Sebanyak 276 warga tersebut diketahui menerima MBG dari SPPG atau dapur MBG yang sama. Dapur tersebut melayani 11 titik penerima manfaat di Kecamatan Bawang dengan total 2.700 penerima manfaat.

Titik penerima manfaat tersebut meliputi TK Al Ikhlas, SDN 3 Bawang, TK Pertiwi, MA Sunan Kalijaga, MTs Sunan Kalijaga, TK Kuncup Mekar, TP Ananda, Pos PAUD Anggrek Mas, TK Korotayun, RA Al Hidayah, dan MI Salafiyah Pasusukan.

Dikutip detikJateng, di RSUD Kalisari Batang menunjukkan belasan ambulans keluar masuk rumah sakit sejak pukul 19.13 WIB hingga menjelang pukul 21.00 WIB. Hingga pukul 21.00 WIB, terdapat 20 pasien dari Bawang yang menjalani perawatan akibat dugaan keracunan.

Korban yang menjalani perawatan tidak hanya pelajar, tetapi juga orang tua murid. Suyono mengatakan jumlah tersebut masih bisa berubah seiring pendataan dan pemeriksaan yang dilakukan di lapangan.

SPPG dihentikan sementara

SPPG yang menyediakan MBG untuk warga terdampak dihentikan sementara setelah ratusan orang mengalami keluhan. Suyono mengatakan pemerintah akan memanggil koordinator wilayah dan pengelola dapur untuk dimintai keterangan serta pertanggungjawaban.

"Ya diberhentikan sementara ini SPPG yang itu. Yang bersangkutan berhenti," tegasnya.

Penghentian tersebut dilakukan sebagai langkah kehati-hatian sembari menunggu hasil pemeriksaan. Suyono mengatakan tindakan lebih lanjut dapat diambil jika ditemukan pelanggaran dan tidak ada pertanggungjawaban dari pengelola dapur.

Dia juga meminta seluruh pengelola dapur MBG menjalankan standar operasional prosedur (SOP), khususnya dalam proses pengolahan dan penyajian makanan.

"Ini rawan sekali. Sekali lagi, yang mempunyai SPBG, hati-hati. SOP dipegang teguh, jangan sampai menimbulkan keracunan berikutnya yang bahkan bisa mengancam nyawa manusia," kata dia menegaskan.

Terkait kemungkinan kejadian tersebut ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), Suyono mengatakan pemerintah belum mengambil keputusan.

"Saya belum bisa mengambil bahasa KLB, Kejadian Luar Biasa. Karena nanti harus ada rapat tersendiri kalau itu," katanya.

Pemkab Batang masih menunggu perkembangan kondisi para penerima manfaat dan hasil pemeriksaan sampel makanan. Suyono berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi dan pengawasan terhadap keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG ditingkatkan.

"Sekali lagi ini menjadi keprihatinan kita bersama. Semoga kejadian ini menjadi kejadian yang terakhir," katanya.

Baca selengkapnya di sini.

(tim/isn)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK