Pimpinan Ponpes di NTB Minta Rekaman Pelecehan Seksual Tak Diviralkan
Ahmad Imanuddin Sumar alias Abah memutuskan mundur dari jabatannya sebagai pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Abul Barokat Wannafahat di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Keputusan itu diambil setelah rekaman suara yang diduga miliknya, berisi permintaan agar dugaan pelecehan seksual tidak dibongkar, viral di media sosial.
"Kalau sudah nyampe media, hancur sudah Abah, Nak, hancur lebur Abah, Nak, hancur pondok nanda. NWDI Nanda. Bukan begitu caranya sayang ke Abah, Nak, ya Allah, tutup aib gurumu nanda, tutup aib gurunya nanda," kata Abah dalam video beredar, seperti diberitakan detikcom, Kamis (24/9).
Rekaman itu viral setelah adanya investigasi dugaan kasus kekerasan seksual terhadap sejumlah santriwati ponpes yang terletak di Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, tersebut.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi, turut membenarkan bahwa rekaman suara tersebut merupakan hasil investigasi salah satu santri atas nama Yusron.
Yusron, disebut, saat itu tengah mengumpulkan barang bukti perbuatan Abah.
Kini, rekaman tersebut telah diserahkan ke penyidik Satreskrim Polresta Lombok Tengah untuk didalami. Abah pun telah dilaporkan ke polisi.
"Waktu itu Yusron sudah membuat materi kronologis yang diserahkan ke salah satunya ke saya," kata Joko.
Joko mengatakan Abah sempat menawarkan Yusron untuk kuliah di Mesir dengan syarat bukti-bukti yang telah diperolehnya tidak disebarluaskan ke media.
"Supaya Yusron tidak menyebarluaskan, maka dia ditelepon dan ditawarkan untuk kuliah di Mesir," tegasnya.
Tak hanya Yusron, kata Joko, Abah juga menghubungi salah satu korban berinisial Z yang kini masih kuliah di Mesir, untuk tidak melaporkan perbuatannya ke polisi.
Kala itu, Abah disebut mengaku khilaf dan meminta maaf atas perbuatannya kepada Z.
"Yusron dan Z sama-sama ditelepon Abah," bebernya.
Abah membantah
Kendati demikian, Abah membantah seluruh tudingan tersebut. Ia mengatakan pihaknya tengah menyiapkan surat pengaduan untuk melaporkan mantan santrinya, Yusron, ke polisi atas dugaan pencemaran nama baik.
"Atas tuduhan tidak benar yang merugikan nama baik saya, saya menyatakan akan mengambil langkah hukum dan melaporkan saudara Yusron kepada pihak berwajib," ujarnya dalam konferensi pers, Rabu (23/9).
Adapun, ia mengatakan keputusan untuk mundur sebagai pengasuh Ponpes dilakukan agar kegiatan belajar-mengajar tetap berlangsung normal di tengah polemik tersebut.
"Guna merespons situasi yang saat ini berkembang dan telah menjadi perhatian publik, serta demi menjamin seluruh aktivitas belajar-mengajar di pondok pesantren tetap berjalan normal tanpa gangguan, saya mengambil sikap dengan hati yang ikhlas untuk mundur dan melepaskan seluruh jabatan yang saya emban di Pondok Pesantren Abul Barokat Wannafahat, maupun di ponpes-ponpes yang lain," katanya.
Ia turut menegaskan bahwa kasus yang kini menyeretnya merupakan persoalan pribadi yang tidak berkaitan dengan Ponpes.
"Saya kembali menegaskan bahwa persoalan yang saya hadapi saat ini merupakan persoalan pribadi dan tidak ada kaitannya dengan Pondok Pesantren Abul Barokat Wanafahat yang saya pimpin," tegasnya.
Abah mengaku tak rela jika ponpes yang telah dibangunnya ikut terdampak akibat tuduhan yang disebutnya tidak mendasar.
"Saya sangat tidak rela jika kegiatan proses pendidikan di Abul Barokat Wanafahat berhenti atau terganggu gara-gara fitnah dan tuduhan yang tidak mendasar sama sekali," katanya.
Baca selengkapnya di sini.
(van/isn)