Rano Karno: Guruh Soekarnoputra Mencintai Indonesia dengan Cara Indah

CNN Indonesia
Sabtu, 26 Sep 2026 16:36 WIB
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengenang sosok mendiang Guruh Soekarnoputra sebagai tokoh yang memiliki cara sangat indah dalam mencintai Indonesia. (CNN Indonesia/ Endrapta Ibrahim).
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Gubernur DKI Jakarta sekaligus politikus PDIP Rano Karno mengenang sosok mendiang Guruh Soekarnoputra sebagai tokoh yang memiliki cara sangat indah dalam mencintai Indonesia.

Kecintaan itu disebut diekspresikan secara konsisten melalui karya musik dan dedikasinya di atas panggung.

"Mas Guruh mencintai Indonesia dengan cara yang sangat indah. Dia tidak hanya berbicara tentang Indonesia. Ia menyanyikannya, ia menciptakan panggung untuknya, ia menggali kekayaan tradisinya, dan dia mempersembahkan hidupnya untuk kebudayaan Indonesia," ujar Rano saat prosesi pemakaman Guruh di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta, Sabtu (26/9).

Rano kemudian mencontohkan dua karya legendaris ciptaan Guruh, yakni "Melati Suci" dan "Untukmu Indonesiaku".

Ia menilai ada kelembutan sekaligus kedalaman rasa dalam lagu "Melati Suci", sedangkan "Untukmu Indonesiaku" diibaratkan sebagai sebuah sumpah cinta Tanah Air.

"Tentang jiwa, raga, dan karya yang dipersembahkan untuk Indonesia," ujar Rano.

Apabila lagu ciptaan mendiang didengarkan kembali saat ini, Rano merasa Guruh seakan tengah menyampaikan pesan bahwa Indonesia terlalu indah untuk tidak dicintai.

"Terlalu berharga untuk tidak dijaga dan terlalu besar untuk tidak diperjuangkan," ujar Rano.

Di luar kiprah keseniannya, Rano juga mengenang Guruh sebagai sosok pejuang partai yang merupakan seorang Marhaenis.

Rano menyebut keberpihakan Guruh kepada kelompok masyarakat kecil bukanlah sekadar slogan politik semata.

"Itu adalah keyakinan yang ia bawa dalam perjalanan hidup dan politiknya," ujar Rano.

Dalam berbagai kesempatan, Guruh dikenal selalu menekankan ajaran Bung Karno dan nilai-nilai Pancasila.

Semangat perjuangan itu juga ditinggalkan dalam Mars PDI Perjuangan. Karya tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan dan tradisi partai berlogo banteng tersebut.

"Dinyanyikan dalam berbagai kegiatan partai dan menjadi salah satu jejak yang terus menghidupkan ingatan terhadap Mas Guruh," ujar Rano.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir, seluruh jajaran pengurus PDIP dari tingkat dewan pimpinan pusat (DPP) hingga anak ranting diinstruksikan untuk mengibarkan bendera partai setengah tiang selama tujuh hari sebagai bentuk penghormatan dan duka.

(dhz/sfr)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK