Penjelasan Feby Indirani Penulis Buku 'Memburu Muhammad'

CNN Indonesia
Senin, 28 Sep 2026 14:03 WIB
Ilustrasi. Feby Indirani menjelaskan karya fiksinya, "Memburu Muhammad" dan "Bukan Perawan Maria", sebagai refleksi kehidupan Muslim di Indonesia. (StokPic)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penulis buku Memburu Muhammad dan Bukan Perawan Maria, Feby Indirani, buka suara mengenai kedua karyanya yang belakangan dipersoalkan sejumlah pihak. Feby menegaskan karya fiksi yang ditulisnya lahir dari niat baik dan berangkat dari pengalaman serta pengamatannya sebagai seorang Muslim.

Feby menjelaskan dirinya lahir dan tumbuh sebagai seorang Muslim. Menurut dia, karya-karya yang ditulisnya memiliki keterkaitan erat dengan tradisi, khazanah, dan keragaman tafsir dalam dunia Islam.

"Saya lahir dan tumbuh sebagai seorang Muslim. Perjalanan kepenulisan saya berakar kuat pada tradisi, kekayaan khazanah, serta keragaman tafsir dalam dunia Islam. Sejak kecil, saya terbiasa membaca dan mendengar kisah-kisah hikmah yang memotret dunia, manusia, dan kebenaran secara arif, reflektif, penuh humor, serta tidak pernah hitam-putih," kata Feby saat dihubungi, Senin (28/9)

Dia mengatakan isi Bukan Perawan Maria (BPM) dan Memburu Muhammad (MM) berasal dari pengalaman dan pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari umat Muslim di Indonesia.

Menurut Feby, kedua buku tersebut dibuat sebagai upaya untuk menggambarkan keberagaman dan kompleksitas kehidupan beragama.

"Semua cerita di dalam Bukan Perawan Maria (BPM) dan Memburu Muhammad (MM) bersumber dari pengalaman serta pengamatan atas kehidupan sehari-hari umat Muslim di Indonesia. Kedua buku tersebut merupakan ikhtiar untuk mencerminkan warna, dinamika, serta kompleksitas laku beragama kita sehari-hari," ucap dia.

Feby juga menilai karya sastra tidak semestinya dipahami hanya berdasarkan judul pemberitaan maupun artikel opini. Dia mengatakan fiksi memiliki perangkat sastra tersendiri dalam menyampaikan cerita.

"Sebagai karya sastra, fiksi bekerja melalui perangkat-perangkat sastrawi: ia bertumpu pada sudut pandang tokoh fiktif, simbol, dan kiasan. Teks sastra tidak dapat dinilai dengan cara membaca judul berita atau artikel opini," imbuh dia.

Terkait Memburu Muhammad, Feby menjelaskan cerpen tersebut menggunakan sudut pandang tokoh fiktif Abu Jahal, yang dikenal sebagai salah satu musuh utama Nabi Muhammad SAW.

Dalam cerita itu, Abu Jahal digambarkan sebagai sosok yang tidak mengakui kenabian Rasulullah, tetapi secara diam-diam mengakui keagungan pribadi Nabi Muhammad.

"Sebagai contoh, dalam cerpen Memburu Muhammad-sebagaimana cerita-cerita lainnya di kedua buku tersebut-saya menggunakan sudut pandang tokoh fiktif, yakni Abu Jahal, musuh utama Nabi Muhammad SAW. Sebagai musuh, ia tentu enggan mengakui kenabian Rasulullah, tetapi diam-diam tidak kuasa menyangkal keagungan pribadi beliau. Salah satu ukuran tertinggi kemuliaan seseorang adalah ketika musuhnya sekalipun mengakui kehebatannya. Dalam cerita tersebut, Abu Jahal heran melihat begitu banyak orang menyandang nama Muhammad, namun tidak meneladani akhlaknya," jelas dia.

Feby menjelaskan makna judul Memburu Muhammad tidak merujuk pada sosok Nabi Muhammad secara harfiah. Menurut dia, hal yang dicari dalam cerita tersebut adalah sifat-sifat mulia Nabi.

"Apa yang sesungguhnya 'diburu' dalam konteks ini adalah sifat-sifat mulia sang Nabi-selaras dengan makna kata 'memburu' dalam KBBI, yakni berusaha keras untuk mendapatkan atau meraih sesuatu," lanjutnya.

Dia juga menyebut Memburu Muhammad telah ditempatkan dalam koridor sastra dakwah dalam sejumlah kajian akademis. Menurut Feby, kedua bukunya juga telah dibahas di sejumlah forum perguruan tinggi dan dibaca oleh ribuan umat Muslim.

"Secara akademis, kajian terhadap buku ini bahkan menempatkannya dalam koridor sastra dakwah (seperti yang dicatat dalam riset jurnal ilmiah STID Al-Hadid). Karya-karya ini juga telah dibahas di berbagai forum perguruan tinggi, termasuk di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jejak perjalanan kedua buku ini sudah panjang dan telah dibaca secara wajar oleh ribuan umat Muslim," tutur dia.

Feby kemudian menjelaskan perjalanan penerbitan Bukan Perawan Maria. Buku tersebut pertama kali terbit pada 2017. Saat peluncurannya, Menteri Agama RI kala itu, Lukman Hakim Saifuddin, disebut hadir dan memberikan pidato kebudayaan.

Buku tersebut kemudian diterjemahkan dan diterbitkan di Italia pada 2019. Di Indonesia, buku itu diterbitkan kembali oleh Bentang Pustaka, yang merupakan bagian dari Mizan Group.

Sementara Memburu Muhammad terbit pada 2020 dengan kata pengantar dari Gus Nadirsyah Hosen. Feby mengatakan buku tersebut juga pernah dibahas secara mendalam oleh Gus Ulil Abshar Abdalla dalam peluncuran daring pada masa pandemi.

Feby menegaskan kedua karyanya dibuat dari perspektif masyarakat Muslim dan dengan tujuan mengajak pembaca melakukan refleksi.

"Saya menulis dari dalam diri masyarakat Muslim sendiri. Karya-karya ini lahir dengan niat baik, sebuah ikhtiar kreatif mengajak kita merenung, berdialog, dan memeriksa diri sendiri. Menghakimi karya sastra hanya dari judul atau potongan teks di media sosial yang dibingkai sedemikian rupa secara tidak berimbang, justru menjauhkan misi sastra sebagai bagian dari pendidikan dan kemaslahatan umat," katanya.

Penjelasan Nadirsyah Hosen


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :