Kabel Semrawut di Jalan Kuningan Barat Daya. (CNN Indonesia/ Putri Kunaefi).
Jakarta, CNN Indonesia --
Di ujung Jalan Kuningan Barat Raya, Jakarta Selatan, berdiri sebuah tiang yang dipenuhi ratusan kabel-kabel tebal. Menjulang tinggi bak karya seni yang mengerikan karena membahayakan pengguna jalan.
Di balik tiang itulah, Ira menjalankan usaha toko material. Kabel berukuran raksasa menghalangi halaman toko miliknya.
"Itu tuh banyak motor pada jatoh kalau belanja, ada yang sampai kuncinya patah, ada yang orangnya terguling, apalagi kalau abis hujan, licin banget," kata Ira, Senin (28/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia berkata kondisi itu akan semakin parah ketika hujan tiba. Kabel yang semula berada di dalam tanah, bisa muncul ke permukaan.
Ia menuding petugas-petugas tak bertanggung jawab yang tidak maksimal dalam mengerjakan galian.
"Ya kayaknya pada enggak izin, itu gali, kayaknya enggak begitu dalam (galinya), jadi pas ujan pada nongol keluar semua kabelnya," kata Ira.
Ira juga mengaku tidak habis pikir dengan keberadaan kabel-kabel ini yang sudah hampir lima tahun tidak pernah ada solusi. Ia juga mengaku tidak pernah ada perbaikan yang signifikan untuk membenahi kabel-kabel raksasa ini.
"Sudah lama banget ada kali ya 5 tahun, belum ada perbaikan ya sudah gitu saja," katanya.
Padahal, menurutnya, beberapa kali sudah ada petugas yang mengecek. Namun, hanya sekadar memeriksa dan tidak ada tindakan lebih lanjut lagi apalagi sampai urusan membenahi.
"Belum ada solusinya, tapi kalau ngecek-ngecek sering," kata Ira.
Pemilik toko material lainnya, Sri, juga menuturkan bahwa ia tidak tahu kabel-kabel raksasa menjuntai di halaman tokonya. Ia mengaku tak ada seorang pun yang izin dengannya.
"Kabel apa ya saya enggak tau tuh tahu-tahu pagi pagi sudah jadi aja tuh," ucap Sri.
Patung kabel raksasa ini rupanya tidak hanya berdiam di depan toko Sri. Kabel turunannya menjalar sepanjang Jalan Kuningan Barat Raya. Sekitar 60 meter dari toko Sri, ular kabel ini melintasi sebuah sekolah Islam.
Tidak satu, tetapi tiga sekolah, mulai dari jenjang Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah, dan Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Satpam sekolah, Komar, mengaku kabel-kabel bak ular raksasa depan sekolah kerap membahayakan pengendara motor yang hendak masuk ke sekolah.
"Yang jelas-jelas ya, korban yang pengendara sudah banyak, saya juga sempat kepeleset," kata Komar.
Ia juga memprotes kepada petugas yang kerap meletakkan kabel di depan gerbang sekolah. Ia merasa para petugas menata kabel secara sembarangan.
"Digali iya, kadang-kadang ya dia tutup, tapi sembarangan lah ya, istilah kasarnya enggak pakai semen atau gimana kan enggak kuat," ucapnya.
Hampir tidak ada pembenahan dari pihak pemasang kabel, Komar mengaku bahwa sekolah sempat merogoh dana sendiri untuk menutupi kabel di depan gerbang yang menjadi akses keluar masuk.
"Tadi ini kan melur sendiri, sekolah sendiri, bukan dari dia ini, soalnya kalau pas belok itu sering tauh kalau malam," ujar Komar.
Ia mengaku kabel-kabel raksasa yang menjuntai liar di depan gerbang sekolah sudah ada sejak lama, sekitar 5 tahun. Namun, ia masih tidak tahu harus protes ke siapa.
"Yang jelas sekarang orang mau protes, protesnya ke siapa gitu kan?" ucapnya.
Kabel Raksasa, Sebenarnya Kabel Apa?
Di depan instalasi kabel raksasa juga nampak para petugas mengenakan rompi serta helm pelindung. Mereka berkelompok mengerubungi lobang-lobang galian. Tampak serius mencermati helaian demi helaian kabel tipis sebagai pembuka jaringan.
Rudi, salah satu teknisi kabel, duduk di bawah pohon dekat tiang kabel raksasa. Di depannya ada lobang besar yang dalam berisi tumpukan kabel-kabel raksasa.
Ia menjelaskan, bahwa kabel tebal yang menempel tiang tinggi itu adalah kabel fiber optik. Di dalamnya merupakan pusat data jaringan internet yang terdiri dari berbagai macam provider.
"Kalau untuk kabel ini dia kabel fiber optik jadi masuk macam macam provider dari provider, kebetulan di dalam sini nih ada data center indonesia, jadi keseluruhan internet indonesia tuh terpusat dari sini semua gitu," katanya.
Menurut keterangan Rudi, sebelum jaringan internet disebarluaskan ke seluruh Indonesia, pusat datanya berada di sini. Setelah ia berhasil membuka jaringan internet, maka terlebih dahulu disalurkan ke area Jabodetabek sebelum akhirnya disebarluaskan lagi ke daerah-daerah lain di Indonesia.
"Kebetulan di dalam ini itu ada pusatnya, tujuannya jabodetabek sih, nanti baru terpecah belah ke tujuannya," ucap Rudi.
Sebagai teknisi, Rudi mengingatkan tidak mudah baginya untuk membenahi kabel-kabel raksasa ini. Ia mengaku kabel itu, tidak dapat langsung diputus begitu saja atau langsung menanam kabel ke bawah tanah. Harus ada jalur sementara untuk menampung kabel selama proses pembenahan.
"Kemungkinan ada cuma memang enggak bisa langsung diputus semua, harus disiapkan jalur apa namanya jalur sementaranya gitu, harus dibenahi dulu sedikit demi sedikit karena kalo misalkan diputus satu itu akan terpusat kemana-mana, impactnya bakal banyak," ucap Rudi.
Ia juga menyinggung kabel-kabel ini milik banyak perusahaan provider. Sehingga, untuk mencabut, memindahkan, atau memotong perlu izin dari pihak-pihak tertentu.
"Enggak bisa main asal potong saja, karena banyak klien besar kayak PT, kantor, atau sekolah, atau rumah rumah juga, terpusat semuanya dari sini," katanya.
Tak hanya persoalan kepentingan, urusan membenahi kabel juga memakan waktu yang tidak sedikit. Menurut Rudi, harus dilakukan perlahan tidak dapat sekaligus.
"Butuh waktu agak lumayan lama sih mbak harus pelan pelan gabisa langsung sekaligus," ucapnya.
Dugaan Sumber Kabel Semrawut
Tidak ada yang mengetahui pasti sumber kabel semrawut di Kuningan Barat ini berasal, tetapi Yuliana, membawa pengakuan.
Pedagang es teh yang sudah hampir enam tahun berjualan di pinggir Jalan Kuningan Barat ini mengaku munculnya kabel semrawut diduga dari perusahaan depan lokasinya berjualan.
Perusahaan E, katanya, sejak didirikan tahun 2019, menambah ruwet kabel-kabel di sepanjang jalan.
"Ini kak depan E, semenjak ada dia, ini banyak kabel, tadinya ada tapi gak terlalu banyak gini," kata Yuliana.
Ia juga menambahkan bahwa tak hanya E, banyak perusahaan lain yang serupa. Ia berkata, di dalam perusahaan itu tidak banyak karyawan, hanya ada alat-alat server saja.
"Tapi kan disitu kan cuma alat-alat doang kak, orangnya gak banyak, cuman orang-orang tertentu aja, palingan security aja," ujarnya.
Namun, ia tidak merasa terlalu khawatir. Sebab banyak pembenahan yang dilakukan oleh pemerintah setempat. Misalnya, ia bercerita, ketika ada kabel yang terlalu mengganggu, maka warga dapat melapor ke kelurahan agar dapat dibenahi.
"Misalkan ada lapor nih, foto, abis itu kelurahan langsung gerak," ucapnya.
Meski demikian, tindakan dari yang berwenang belum sepenuhnya optimal. Ia pernah mendengar akan dilakukan pembenahan dari awal Januari 2026 tetapi sampai sekarang belum juga terlaksana.
"Katanya kan mau ini 2026 mau di kebawah kebawahin makanya ini dibongkar bongkar biar kayak scbd katanya, scbd kan begitu tuh gak ada kabel kabel gini," kata Yuliana.
"Udah awal Januari ini 2026 tapi belom, tanya september agustus selesai, sampe sekarang (belum)," sambungnya.
CNN Indonesia kemudian mengonfirmasi pernyataan Yuliana soal dugaan perusahaan yang mengakibatkan munculnya kabel semrawut ini.
Ditemui di rumahnya, Ketua RW 03, Sariman juga membenarkan hal itu. Ia menyebut di wilayah ini terdapat sejumlah perusahaan penyedia layanan data.
"Jadi untuk data center kebanyakan di situ ada gedung namanya Gedung NTT, itu khusus penyimpanan arsip, bukan hanya Jakarta saja tapi seluruh Indonesia. Kemaren ada gedung baru juga disitu, Cyber 4," ucap Sariman.
Diketahui, dua perusahaan yang disebut Sariman merupakan perusahaan sejenis dengan Perusahaan E. Perusahaan-perusahaan ini ibarat pelabuhan raksasa tempat jutaan data tersimpan. Untuk sampai kepada pengguna internet, maka ia butuh jembatan yakni kabel fiber optik yang menjuntai sepanjang Jalan Kuningan Barat hingga puncaknya di tiang raksasa di ujung tikungan mengarah ke Jalan Kapten Tendean.
Hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan atau komentar dari perusahaan E tentang kesemrawutan kabel di Jalan Kuningan Barat.
Sariman membeberkan, kabel semrawut ini juga kerap memicu konflik. Bukan di wilayahnya, tetapi di wilayah tetangga yakni RW 02, terdapat warga yang sempat mengadukan gugatan ke pengadilan soal galian kabel semrawut.
Menurut keterangan Sariman, warga ini merasa terganggu akibat kabel semrawut menghalangi akses jalannya.
"Jadi dia katanya mengganggu masalah penggalian itu, kan dia gali sampe dalam beberapa meteran, mungkin dia terganggu dengan masalah lalu lintasnya karena keluar masuk, di situ ada parkiran motor tapi enggak resmi, yang punya yang protes, nah akhirnya gugat ke pengadilan, gugatnya ke pemborong, nah sidang, tinggal nunggu keputusan," kata Sariman.
Sariman berkata, warga itu meminta kompensasi kepada perusahaan yang membuka galian sembarangan di depan rumahnya.
Sariman mengatakan sebenarnya sudah sering dilakukan pembenahan, terutama pada kabel-kabel menjulur di sepanjang Jalan Kuningan Barat.
Sebagian dari Jalan Kuningan Barat sudah dilakukan pembenahan kabel, termasuk sampai di depan sekolah. Namun, untuk jalan paling ujung di mana tiang kabel raksasa itu berada, tidak juga dilakukan pembenahan.
"Di depan gedung cyber udah diperbaiki, dan itu dari sekolah sampai Jalan Gatot Subroto sudah, tinggal yang anu di ujung belum dikerjakan," kata Sariman.
Pernah juga Sariman mengusulkan penerangan jalan di sepanjang Jalan Kuningan Barat. Sebab, sepanjang jalan ini dipenuhi pohon-pohon besar yang keadaannya sangat gelap jika malam. Namun, pihak yang mengurus Penerangan Jalan Umum (PJU) justru menunda. Menurut mereka, adanya galian kabel di sana membuat pemasangan lampu menjadi terkendala.
"Saya usulin lampu, udah dipasang, udah saya kasih tau sini sini, begitu anu gak jadi dari pihak itu, apa alasannya, katanya pak ini kalau saya pasang, ini jalanan masih digali, terganggu, percuma, nanti kalau sudah rapih," ujar Sariman.
Menurut Sariman, penggalian kabel semrawut ini memang tak ada ujungnya. Mereka akan terus melakukan itu. Biasanya, kata Sariman, mereka mulai menggali malam hari agar tidak mengganggu lalu lintas yang menyebabkan kemacetan.
"Pengerjaan itu malem, karena kalau siang mengganggu lalu lintas," ucap Sariman.
Sariman mengaku, penggalian kabel pada malam hari itu, ia kerap bertemu beberapa petugas gali kabel yang nakal alias tidak mengantongi izin.
"Kadang pekerjaan jam 12 malem gitu, kadang ditanya ini udah izin belum dari mana pt apa," kata Sariman.
Menurut keterangan Sariman, ia hanya diberitahukan oleh kelurahan bahwa akan ada penggalian di titik mana. Perusahaan memohon izinnya kepada kelurahan, bukan kepadanya. Ia hanya menerima pemberitahuan. Namun, ia justru beberapa kali mendapati petugas galian yang tidak mengantongi izin.
Pemda DKI Rencana Benahi Kabel Semrawut
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan bakal membenahi kabel semrawut di wilayah Jakarta. Target pengerjaannya dapat selesai dalam waktu lima tahun.
"Saya terus terang mem-planning-kan dalam lima tahun semua kabel-kabel yang ada di permukaan itu bisa diturunkan dan kalau itu bisa diturunkan maka wajah Jakarta pasti akan sangat berbeda. Apakah lima tahun itu bisa atau tidak? Karena memerlukan kurang lebih 6.500 km yang harus ditangani," kata Pramono ketika meninjau SJUT di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (10/9).
Pramono juga mengatakan Pembangunan Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT) akan melibatkan Dinas Bina Marga serta berbagai pihak lainnya.
"Keterlibatan swasta sangat diperlukan untuk ini secara bersama-sama karena payung hukumnya sudah ada. Kami meyakini secara bisnis juga menarik sehingga dengan demikian penurunan kabel ini bisa menjadi gerakan bersama yang dilakukan oleh seluruh stakeholder yang ada di Jakarta," lanjutnya.
Adapun, Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Heru Suwondo mengatakan biaya pembangunan SJUT di seluruh ruas jalan Jakarta mencapai Rp90 miliar.
"Jadi anggaran kami untuk membangun SJUT ini adalah 90 miliar di delapan ruas jalan, Pak," ujar Heru.
Heru melanjutkan, pembangunan SJUT dilakukan di jalan-jalan utama sepanjang 16,9 kilometer.
"Ternyata panjangnya 16,9 kilometer dan itu lokasinya di MT Haryono, Gatot Subroto, Soepomo, Abdullah Syafei, Saharjo, Pemuda, Otista, Tebet Barat Dalam Raya, Matraman, dan Jatinegara," katanya.
Menurutnya pembangunan SJUT ini juga berkoordinasi dengan berbagai lembaga, salah satunya Dinas Perhubungan.
"Jadi semua kegiatan kami yang ada di badan jalan kami lakukan rekayasa lalu lintas bersama Dinas Perhubungan. Ya, tentunya ada pengaturan-pengaturan dan juga ada pres rilis yang disampaikan ke masyarakat ya tentunya di lokasi ini ada kegiatan untuk menghindari jalan lain," ujarnya.
Di ujung Jalan Kuningan Barat Raya, Jakarta Selatan, berdiri sebuah tiang yang dipenuhi ratusan kabel-kabel tebal. Menjulang tinggi bak karya seni yang mengerikan karena membahayakan pengguna jalan.
Di balik tiang itulah, Ira menjalankan usaha toko material. Kabel berukuran raksasa menghalangi halaman toko miliknya.
"Itu tuh banyak motor pada jatoh kalau belanja, ada yang sampai kuncinya patah, ada yang orangnya terguling, apalagi kalau abis hujan, licin banget," kata Ira, Senin (28/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia berkata kondisi itu akan semakin parah ketika hujan tiba. Kabel yang semula berada di dalam tanah, bisa muncul ke permukaan.
Ia menuding petugas-petugas tak bertanggung jawab yang tidak maksimal dalam mengerjakan galian.
"Ya kayaknya pada enggak izin, itu gali, kayaknya enggak begitu dalam (galinya), jadi pas ujan pada nongol keluar semua kabelnya," kata Ira.
Ira juga mengaku tidak habis pikir dengan keberadaan kabel-kabel ini yang sudah hampir lima tahun tidak pernah ada solusi. Ia juga mengaku tidak pernah ada perbaikan yang signifikan untuk membenahi kabel-kabel raksasa ini.
"Sudah lama banget ada kali ya 5 tahun, belum ada perbaikan ya sudah gitu saja," katanya.
Padahal, menurutnya, beberapa kali sudah ada petugas yang mengecek. Namun, hanya sekadar memeriksa dan tidak ada tindakan lebih lanjut lagi apalagi sampai urusan membenahi.
"Belum ada solusinya, tapi kalau ngecek-ngecek sering," kata Ira.
Pemilik toko material lainnya, Sri, juga menuturkan bahwa ia tidak tahu kabel-kabel raksasa menjuntai di halaman tokonya. Ia mengaku tak ada seorang pun yang izin dengannya.
"Kabel apa ya saya enggak tau tuh tahu-tahu pagi pagi sudah jadi aja tuh," ucap Sri.
Patung kabel raksasa ini rupanya tidak hanya berdiam di depan toko Sri. Kabel turunannya menjalar sepanjang Jalan Kuningan Barat Raya. Sekitar 60 meter dari toko Sri, ular kabel ini melintasi sebuah sekolah Islam.
Tidak satu, tetapi tiga sekolah, mulai dari jenjang Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah, dan Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Satpam sekolah, Komar, mengaku kabel-kabel bak ular raksasa depan sekolah kerap membahayakan pengendara motor yang hendak masuk ke sekolah.
"Yang jelas-jelas ya, korban yang pengendara sudah banyak, saya juga sempat kepeleset," kata Komar.
Ia juga memprotes kepada petugas yang kerap meletakkan kabel di depan gerbang sekolah. Ia merasa para petugas menata kabel secara sembarangan.
"Digali iya, kadang-kadang ya dia tutup, tapi sembarangan lah ya, istilah kasarnya enggak pakai semen atau gimana kan enggak kuat," ucapnya.
Hampir tidak ada pembenahan dari pihak pemasang kabel, Komar mengaku bahwa sekolah sempat merogoh dana sendiri untuk menutupi kabel di depan gerbang yang menjadi akses keluar masuk.
"Tadi ini kan melur sendiri, sekolah sendiri, bukan dari dia ini, soalnya kalau pas belok itu sering tauh kalau malam," ujar Komar.
Ia mengaku kabel-kabel raksasa yang menjuntai liar di depan gerbang sekolah sudah ada sejak lama, sekitar 5 tahun. Namun, ia masih tidak tahu harus protes ke siapa.
"Yang jelas sekarang orang mau protes, protesnya ke siapa gitu kan?" ucapnya.
Kabel Raksasa, Sebenarnya Kabel Apa?
Di depan instalasi kabel raksasa juga nampak para petugas mengenakan rompi serta helm pelindung. Mereka berkelompok mengerubungi lobang-lobang galian. Tampak serius mencermati helaian demi helaian kabel tipis sebagai pembuka jaringan.
Rudi, salah satu teknisi kabel, duduk di bawah pohon dekat tiang kabel raksasa. Di depannya ada lobang besar yang dalam berisi tumpukan kabel-kabel raksasa.
Ia menjelaskan, bahwa kabel tebal yang menempel tiang tinggi itu adalah kabel fiber optik. Di dalamnya merupakan pusat data jaringan internet yang terdiri dari berbagai macam provider.
"Kalau untuk kabel ini dia kabel fiber optik jadi masuk macam macam provider dari provider, kebetulan di dalam sini nih ada data center indonesia, jadi keseluruhan internet indonesia tuh terpusat dari sini semua gitu," katanya.
Menurut keterangan Rudi, sebelum jaringan internet disebarluaskan ke seluruh Indonesia, pusat datanya berada di sini. Setelah ia berhasil membuka jaringan internet, maka terlebih dahulu disalurkan ke area Jabodetabek sebelum akhirnya disebarluaskan lagi ke daerah-daerah lain di Indonesia.
"Kebetulan di dalam ini itu ada pusatnya, tujuannya jabodetabek sih, nanti baru terpecah belah ke tujuannya," ucap Rudi.
Sebagai teknisi, Rudi mengingatkan tidak mudah baginya untuk membenahi kabel-kabel raksasa ini. Ia mengaku kabel itu, tidak dapat langsung diputus begitu saja atau langsung menanam kabel ke bawah tanah. Harus ada jalur sementara untuk menampung kabel selama proses pembenahan.
"Kemungkinan ada cuma memang enggak bisa langsung diputus semua, harus disiapkan jalur apa namanya jalur sementaranya gitu, harus dibenahi dulu sedikit demi sedikit karena kalo misalkan diputus satu itu akan terpusat kemana-mana, impactnya bakal banyak," ucap Rudi.
Ia juga menyinggung kabel-kabel ini milik banyak perusahaan provider. Sehingga, untuk mencabut, memindahkan, atau memotong perlu izin dari pihak-pihak tertentu.
"Enggak bisa main asal potong saja, karena banyak klien besar kayak PT, kantor, atau sekolah, atau rumah rumah juga, terpusat semuanya dari sini," katanya.
Tak hanya persoalan kepentingan, urusan membenahi kabel juga memakan waktu yang tidak sedikit. Menurut Rudi, harus dilakukan perlahan tidak dapat sekaligus.
"Butuh waktu agak lumayan lama sih mbak harus pelan pelan gabisa langsung sekaligus," ucapnya.
Dugaan Sumber Kabel Semrawut
Tidak ada yang mengetahui pasti sumber kabel semrawut di Kuningan Barat ini berasal, tetapi Yuliana, membawa pengakuan.
Pedagang es teh yang sudah hampir enam tahun berjualan di pinggir Jalan Kuningan Barat ini mengaku munculnya kabel semrawut diduga dari perusahaan depan lokasinya berjualan.
Perusahaan E, katanya, sejak didirikan tahun 2019, menambah ruwet kabel-kabel di sepanjang jalan.
"Ini kak depan E, semenjak ada dia, ini banyak kabel, tadinya ada tapi gak terlalu banyak gini," kata Yuliana.
Ia juga menambahkan bahwa tak hanya E, banyak perusahaan lain yang serupa. Ia berkata, di dalam perusahaan itu tidak banyak karyawan, hanya ada alat-alat server saja.
"Tapi kan disitu kan cuma alat-alat doang kak, orangnya gak banyak, cuman orang-orang tertentu aja, palingan security aja," ujarnya.
Namun, ia tidak merasa terlalu khawatir. Sebab banyak pembenahan yang dilakukan oleh pemerintah setempat. Misalnya, ia bercerita, ketika ada kabel yang terlalu mengganggu, maka warga dapat melapor ke kelurahan agar dapat dibenahi.
"Misalkan ada lapor nih, foto, abis itu kelurahan langsung gerak," ucapnya.
Meski demikian, tindakan dari yang berwenang belum sepenuhnya optimal. Ia pernah mendengar akan dilakukan pembenahan dari awal Januari 2026 tetapi sampai sekarang belum juga terlaksana.
"Katanya kan mau ini 2026 mau di kebawah kebawahin makanya ini dibongkar bongkar biar kayak scbd katanya, scbd kan begitu tuh gak ada kabel kabel gini," kata Yuliana.
"Udah awal Januari ini 2026 tapi belom, tanya september agustus selesai, sampe sekarang (belum)," sambungnya.
CNN Indonesia kemudian mengonfirmasi pernyataan Yuliana soal dugaan perusahaan yang mengakibatkan munculnya kabel semrawut ini.
Ditemui di rumahnya, Ketua RW 03, Sariman juga membenarkan hal itu. Ia menyebut di wilayah ini terdapat sejumlah perusahaan penyedia layanan data.
"Jadi untuk data center kebanyakan di situ ada gedung namanya Gedung NTT, itu khusus penyimpanan arsip, bukan hanya Jakarta saja tapi seluruh Indonesia. Kemaren ada gedung baru juga disitu, Cyber 4," ucap Sariman.
Diketahui, dua perusahaan yang disebut Sariman merupakan perusahaan sejenis dengan Perusahaan E. Perusahaan-perusahaan ini ibarat pelabuhan raksasa tempat jutaan data tersimpan. Untuk sampai kepada pengguna internet, maka ia butuh jembatan yakni kabel fiber optik yang menjuntai sepanjang Jalan Kuningan Barat hingga puncaknya di tiang raksasa di ujung tikungan mengarah ke Jalan Kapten Tendean.
Hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan atau komentar dari perusahaan E tentang kesemrawutan kabel di Jalan Kuningan Barat.
Kabel Semrawut di Jalan Kuningan Barat Daya. (CNN Indonesia/ Putri Kunaefi).
Sariman membeberkan, kabel semrawut ini juga kerap memicu konflik. Bukan di wilayahnya, tetapi di wilayah tetangga yakni RW 02, terdapat warga yang sempat mengadukan gugatan ke pengadilan soal galian kabel semrawut.
Menurut keterangan Sariman, warga ini merasa terganggu akibat kabel semrawut menghalangi akses jalannya.
"Jadi dia katanya mengganggu masalah penggalian itu, kan dia gali sampe dalam beberapa meteran, mungkin dia terganggu dengan masalah lalu lintasnya karena keluar masuk, di situ ada parkiran motor tapi enggak resmi, yang punya yang protes, nah akhirnya gugat ke pengadilan, gugatnya ke pemborong, nah sidang, tinggal nunggu keputusan," kata Sariman.
Sariman berkata, warga itu meminta kompensasi kepada perusahaan yang membuka galian sembarangan di depan rumahnya.
Sariman mengatakan sebenarnya sudah sering dilakukan pembenahan, terutama pada kabel-kabel menjulur di sepanjang Jalan Kuningan Barat.
Sebagian dari Jalan Kuningan Barat sudah dilakukan pembenahan kabel, termasuk sampai di depan sekolah. Namun, untuk jalan paling ujung di mana tiang kabel raksasa itu berada, tidak juga dilakukan pembenahan.
"Di depan gedung cyber udah diperbaiki, dan itu dari sekolah sampai Jalan Gatot Subroto sudah, tinggal yang anu di ujung belum dikerjakan," kata Sariman.
Pernah juga Sariman mengusulkan penerangan jalan di sepanjang Jalan Kuningan Barat. Sebab, sepanjang jalan ini dipenuhi pohon-pohon besar yang keadaannya sangat gelap jika malam. Namun, pihak yang mengurus Penerangan Jalan Umum (PJU) justru menunda. Menurut mereka, adanya galian kabel di sana membuat pemasangan lampu menjadi terkendala.
"Saya usulin lampu, udah dipasang, udah saya kasih tau sini sini, begitu anu gak jadi dari pihak itu, apa alasannya, katanya pak ini kalau saya pasang, ini jalanan masih digali, terganggu, percuma, nanti kalau sudah rapih," ujar Sariman.
Menurut Sariman, penggalian kabel semrawut ini memang tak ada ujungnya. Mereka akan terus melakukan itu. Biasanya, kata Sariman, mereka mulai menggali malam hari agar tidak mengganggu lalu lintas yang menyebabkan kemacetan.
"Pengerjaan itu malem, karena kalau siang mengganggu lalu lintas," ucap Sariman.
Sariman mengaku, penggalian kabel pada malam hari itu, ia kerap bertemu beberapa petugas gali kabel yang nakal alias tidak mengantongi izin.
"Kadang pekerjaan jam 12 malem gitu, kadang ditanya ini udah izin belum dari mana pt apa," kata Sariman.
Menurut keterangan Sariman, ia hanya diberitahukan oleh kelurahan bahwa akan ada penggalian di titik mana. Perusahaan memohon izinnya kepada kelurahan, bukan kepadanya. Ia hanya menerima pemberitahuan. Namun, ia justru beberapa kali mendapati petugas galian yang tidak mengantongi izin.
Pemda DKI Rencana Benahi Kabel Semrawut
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan bakal membenahi kabel semrawut di wilayah Jakarta. Target pengerjaannya dapat selesai dalam waktu lima tahun.
"Saya terus terang mem-planning-kan dalam lima tahun semua kabel-kabel yang ada di permukaan itu bisa diturunkan dan kalau itu bisa diturunkan maka wajah Jakarta pasti akan sangat berbeda. Apakah lima tahun itu bisa atau tidak? Karena memerlukan kurang lebih 6.500 km yang harus ditangani," kata Pramono ketika meninjau SJUT di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (10/9).
Pramono juga mengatakan Pembangunan Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT) akan melibatkan Dinas Bina Marga serta berbagai pihak lainnya.
"Keterlibatan swasta sangat diperlukan untuk ini secara bersama-sama karena payung hukumnya sudah ada. Kami meyakini secara bisnis juga menarik sehingga dengan demikian penurunan kabel ini bisa menjadi gerakan bersama yang dilakukan oleh seluruh stakeholder yang ada di Jakarta," lanjutnya.
Adapun, Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Heru Suwondo mengatakan biaya pembangunan SJUT di seluruh ruas jalan Jakarta mencapai Rp90 miliar.
"Jadi anggaran kami untuk membangun SJUT ini adalah 90 miliar di delapan ruas jalan, Pak," ujar Heru.
Heru melanjutkan, pembangunan SJUT dilakukan di jalan-jalan utama sepanjang 16,9 kilometer.
"Ternyata panjangnya 16,9 kilometer dan itu lokasinya di MT Haryono, Gatot Subroto, Soepomo, Abdullah Syafei, Saharjo, Pemuda, Otista, Tebet Barat Dalam Raya, Matraman, dan Jatinegara," katanya.
Menurutnya pembangunan SJUT ini juga berkoordinasi dengan berbagai lembaga, salah satunya Dinas Perhubungan.
"Jadi semua kegiatan kami yang ada di badan jalan kami lakukan rekayasa lalu lintas bersama Dinas Perhubungan. Ya, tentunya ada pengaturan-pengaturan dan juga ada pres rilis yang disampaikan ke masyarakat ya tentunya di lokasi ini ada kegiatan untuk menghindari jalan lain," ujarnya.