Bahaya Kabel Semrawut di Kuningan Barat

CNN Indonesia
Selasa, 29 Sep 2026 08:10 WIB
Bahaya Kabel Semrawut di Kuningan Barat
Kabel Semrawut di Jalan Kuningan Barat Daya. (CNN Indonesia/ Putri Kunaefi).

Sariman membeberkan, kabel semrawut ini juga kerap memicu konflik. Bukan di wilayahnya, tetapi di wilayah tetangga yakni RW 02, terdapat warga yang sempat mengadukan gugatan ke pengadilan soal galian kabel semrawut.

Menurut keterangan Sariman, warga ini merasa terganggu akibat kabel semrawut menghalangi akses jalannya.

"Jadi dia katanya mengganggu masalah penggalian itu, kan dia gali sampe dalam beberapa meteran, mungkin dia terganggu dengan masalah lalu lintasnya karena keluar masuk, di situ ada parkiran motor tapi enggak resmi, yang punya yang protes, nah akhirnya gugat ke pengadilan, gugatnya ke pemborong, nah sidang, tinggal nunggu keputusan," kata Sariman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sariman berkata, warga itu meminta kompensasi kepada perusahaan yang membuka galian sembarangan di depan rumahnya. 

Sariman mengatakan sebenarnya sudah sering dilakukan pembenahan, terutama pada kabel-kabel menjulur di sepanjang Jalan Kuningan Barat. 

Sebagian dari Jalan Kuningan Barat sudah dilakukan pembenahan kabel, termasuk sampai di depan sekolah. Namun, untuk jalan paling ujung di mana tiang kabel raksasa itu berada, tidak juga dilakukan pembenahan.

"Di depan gedung cyber udah diperbaiki, dan itu dari sekolah sampai Jalan Gatot Subroto sudah, tinggal yang anu di ujung belum dikerjakan," kata Sariman.

Pernah juga Sariman mengusulkan penerangan jalan di sepanjang Jalan Kuningan Barat. Sebab, sepanjang jalan ini dipenuhi pohon-pohon besar yang keadaannya sangat gelap jika malam. Namun, pihak yang mengurus Penerangan Jalan Umum (PJU) justru menunda. Menurut mereka, adanya galian kabel di sana membuat pemasangan lampu menjadi terkendala.

"Saya usulin lampu, udah dipasang, udah saya kasih tau sini sini, begitu anu gak jadi dari pihak itu, apa alasannya, katanya pak ini kalau saya pasang, ini jalanan masih digali, terganggu, percuma, nanti kalau sudah rapih," ujar Sariman.

Menurut Sariman, penggalian kabel semrawut ini memang tak ada ujungnya. Mereka akan terus melakukan itu. Biasanya, kata Sariman, mereka mulai menggali malam hari agar tidak mengganggu lalu lintas yang menyebabkan kemacetan.

"Pengerjaan itu malem, karena kalau siang mengganggu lalu lintas," ucap Sariman.

Sariman mengaku, penggalian kabel pada malam hari itu, ia kerap bertemu beberapa petugas gali kabel yang nakal alias tidak mengantongi izin.

"Kadang pekerjaan jam 12 malem gitu, kadang ditanya ini udah izin belum dari mana pt apa," kata Sariman.

Menurut keterangan Sariman, ia hanya diberitahukan oleh kelurahan bahwa akan ada penggalian di titik mana. Perusahaan memohon izinnya kepada kelurahan, bukan kepadanya. Ia hanya menerima pemberitahuan. Namun, ia justru beberapa kali mendapati petugas galian yang tidak mengantongi izin.

Pemda DKI Rencana Benahi Kabel Semrawut

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan bakal membenahi kabel semrawut di wilayah Jakarta. Target pengerjaannya dapat selesai dalam waktu lima tahun.

"Saya terus terang mem-planning-kan dalam lima tahun semua kabel-kabel yang ada di permukaan itu bisa diturunkan dan kalau itu bisa diturunkan maka wajah Jakarta pasti akan sangat berbeda. Apakah lima tahun itu bisa atau tidak? Karena memerlukan kurang lebih 6.500 km yang harus ditangani," kata Pramono ketika meninjau SJUT di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (10/9).

Pramono juga mengatakan Pembangunan Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT) akan melibatkan Dinas Bina Marga serta berbagai pihak lainnya.

"Keterlibatan swasta sangat diperlukan untuk ini secara bersama-sama karena payung hukumnya sudah ada. Kami meyakini secara bisnis juga menarik sehingga dengan demikian penurunan kabel ini bisa menjadi gerakan bersama yang dilakukan oleh seluruh stakeholder yang ada di Jakarta," lanjutnya.

Adapun, Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Heru Suwondo mengatakan biaya pembangunan SJUT di seluruh ruas jalan Jakarta mencapai Rp90 miliar.

"Jadi anggaran kami untuk membangun SJUT ini adalah 90 miliar di delapan ruas jalan, Pak," ujar Heru.

Heru melanjutkan, pembangunan SJUT dilakukan di jalan-jalan utama sepanjang 16,9 kilometer.

"Ternyata panjangnya 16,9 kilometer dan itu lokasinya di MT Haryono, Gatot Subroto, Soepomo, Abdullah Syafei, Saharjo, Pemuda, Otista, Tebet Barat Dalam Raya, Matraman, dan Jatinegara," katanya.

Menurutnya pembangunan SJUT ini juga berkoordinasi dengan berbagai lembaga, salah satunya Dinas Perhubungan.

"Jadi semua kegiatan kami yang ada di badan jalan kami lakukan rekayasa lalu lintas bersama Dinas Perhubungan. Ya, tentunya ada pengaturan-pengaturan dan juga ada pres rilis yang disampaikan ke masyarakat ya tentunya di lokasi ini ada kegiatan untuk menghindari jalan lain," ujarnya.

(ugo/knf)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2