DKI Siapkan Penataan Terpadu Anak Kali Krukut 2,3 Km Tanpa Penggusuran
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan penataan kawasan terpadu sepanjang 2,3 kilometer di kawasan Anak Kali Krukut, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, berdasarkan keputusan Gubernur Pramono Anung bahwa penanganan di wilayah tersebut tidak lagi sebatas pengerukan sedimentasi lumpur.
Langkah penataan direncanakan mencakup pembangunan turap, pembenahan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) komunal, hingga penghijauan di sepanjang bantaran sungai.
Hal itu dipastikan Pramono dalam peninjauan pengerukan Anak Kali Krukut pada Senin (28/9), sebagai bagian dari penanganan kawasan sepanjang 2.315 meter.
"Hari ini saya sengaja datang kembali ke Anak Kali Krukut, dan saya memutuskan bahwa penanganan ini tidak bisa lagi hanya sekadar menggali lumpur. Kita akan menata ini menjadi kawasan terpadu sepanjang 2,3 kilometer secara matang, termasuk pembangunan turap, penataan MCK komunal yang lebih baik, serta penghijauan di sepanjang bantaran," kata Pramono.
Pramono menegaskan, penataan kawasan akan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat yang telah lama tinggal dan mencari nafkah di lokasi tersebut. Pemprov DKI memastikan tidak ada langkah penggusuran.
"Kami tidak melakukan penggusuran karena masyarakat rata-rata sudah tinggal puluhan tahun dan mencari nafkah di kawasan ini. Yang kita lakukan adalah merapikan fasilitas penunjang seperti MCK agar lebih layak dan bersih, sehingga lingkungannya tertata dengan sehat," katanya.
Gubernur telah meminta Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta untuk mempresentasikan rencana teknis penataan pada pekan depan. Pekerjaan fisik kawasan terpadu ini ditargetkan mulai pada awal 2027 dan rampung pada 2028.
"Saya minta minggu depan Kepala Dinas Sumber Daya Air mempresentasikan rencananya, dan awal tahun depan pekerjaan fisik kawasan sudah harus dimulai. Jika regulasinya memerlukan penetapan lokasi, kami dorong demi penataan menyeluruh dengan target rampung pada 2028," ujar Pramono.
Rencana penataan terpadu disampaikan di tengah proses penanganan pengerukan sedimentasi Anak Kali Krukut yang melintasi tiga kelurahan, yakni Kebon Melati, Kebon Kacang, dan Kampung Bali. Pengerjaan dibagi menjadi lima segmen.
Saat ini, progres terjauh berada di Segmen 1C, dari Jalan Jati Bunder hingga Jalan Lontar Raya, di mana pengerukan telah mencapai 376 meter dari total 390 meter dengan volume material diangkat sekitar 2.494,2 meter kubik.
Di Segmen 1B (Jembatan Rel hingga Jalan Jati Bunder), pengerukan mencapai 91 meter dari total 345 meter dengan volume 236 meter kubik.
Namun, kepadatan permukiman membatasi mobilisasi alat berat sehingga sebagian pengangkutan material harus dilakukan secara manual.
"Di sini kawasan sangat padat, sehingga mobilisasi alat berat sulit dan sebagian pengangkutan harus dilakukan secara manual," ujar Pramono.
Sementara itu, Segmen 1A sepanjang 270 meter belum masuk tahap pengerukan karena masih terdapat bangunan di sisi jalan dan menunggu penataan kawasan, setelah sebelumnya perbaikan turap dilakukan pada 2025.
Di Segmen 2, pengerukan baru mencapai 35 meter dari total 430 meter, di mana proses pengepukan dilakukan secara estafet dan belum masuk tahap loading.
Adapun di Segmen 3 (Blok G Pasar Tanah Abang hingga Jalan Jatibaru sepanjang 880 meter), penanganannya masih dalam tahap perencanaan akibat keterbatasan akses alat dan area pemuatan.
"Di Segmen 2, pengerukan baru mencapai 35 meter dari 430 meter, di mana proses pengepukan dilakukan secara estafet dan belum masuk tahap loading. Untuk Segmen 3, dari Blok G Pasar Tanah Abang sampai Jalan Jatibaru sepanjang 880 meter, penanganannya masih dalam proses perencanaan karena akses alat dan loading terbatas," tambah Pramono.
Pada kesempatan yang sama, Pramono mendorong warga Jakarta untuk ikut menjaga Anak Kali Krukut dengan menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai agar perbaikan tidak sia-sia.
"Kami meminta kepada masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran agar tidak membuang sampah ke sungai. Percuma kita lakukan perbaikan jika kebiasaan membuang sampah masih ada, karena hal itu akan membuat sungai cepat tersumbat kembali," ujar Gubernur DKI.
(rea/rir)