Nestapa Santri Disabilitas di Gresik Diduga Disetrika Junior

CNN Indonesia
Rabu, 30 Sep 2026 07:53 WIB
Seorang santri penyandang disabilitas tuna wicara di sebuah pondok pesantren di Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, MO (17), diduga menjadi korban perundungan dan kekerasan oleh rekan sesama santri. Korban bahkan sampai mengalami luka bakar di punggung dan tangan akibat ditempel setrika panas. (Dok. Istimewa).
Surabaya, CNN Indonesia --

Seorang santri penyandang disabilitas tuna wicara di sebuah pondok pesantren di Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, MO (17), diduga menjadi korban perundungan dan kekerasan oleh rekan sesama santri. Korban bahkan sampai mengalami luka bakar di punggung dan tangan akibat ditempel setrika panas.

Perwakilan keluarga korban, Suyadi, mengatakan, kekerasan ini terungkap saat ibu korban menjenguk anaknya di pesantren, pertengahan September 2026 lalu.

Saat itu, secara tidak sengaja ibu korban melihat ada bekas luka bakar di tangan anaknya. Karena curiga, keluarga meminta korban membuka baju, lalu betapa terkejutnya sang ibu mendapati luka bakar di bagian punggung MO.

"Ada dua luka serius di tangan dan punggung akibat disetrika," kata Suyadi, Selasa (29/9).

Sang ayah sebenarnya juga mengaku sempat menaruh curiga setelah melihat ada beberapa kejanggalan luka di tubuh korban pada waktu sebelumnya. Namun saat itu korban masih terus mengelak dan menutupi ulah pelaku.

Sebelum luka setrika, ditemukan juga luka menyerupai bekas sundutan rokok di beberapa bagian tubuh korban. Kemudian, setelah terus didesak, korban akhirnya memberanikan diri untuk menceritakan semua penderitaan yang ia alami kepada sang ibu.

Suyadi menyebut, pelakunya ialah MR (15), yang merupakan junior korban di pesantren. Saat dicecar soal tindakannya itu, pelaku berdalih sedang memeriksa suhu alat setrika yang akan digunakannya.

"Alasannya mencoba setrika panas atau tidak," ucapnya.

Perundungan dan kekerasan ini diduga tak hanya terjadi sekali. Pelaku diduga kerap mem-bully dan menyuruh korban untuk mencuci bajunya. Jika tak menuruti, MR kerap melakukan kekerasan dengan menyundut tangan korban dengan rokok. Puncaknya adalah insiden setrika panas tersebut.

Suyadi mengatakan, pihak keluarga awalnya kaget dan marah usai mengetahui apa yang menimpa korban. Namun, setelah melakukan pertemuan dengan pihak pengurus pesantren, keluarga akhirnya memilih untuk berbesar hati dan tidak membawa kasus ini ke jalur hukum.

"Kondisi korban sekarang sudah membaik. Dan pelaku juga sudah mengakui perbuatannya," ujar dia.

Suyadi menjelaskan, keluarga bersedia menyelesaikan masalah ini secara legowo dengan syarat terduga pelaku harus menanggung seluruh biaya pengobatan korban hingga sembuh total. Tapi korban kini mengalami trauma berat dan enggan menginjakkan kaki lagi di lingkungan pesantren.

"Anaknya trauma tidak mau ke pondok, asal bisa ikut ujian, agar bisa lulus menyelesaikan sekolah. Itu permintaan keluarga, sehingga tidak ada tuntutan apa-apa," ucapnya.

Kasus penganiayaan ini sempat memicu reaksi publik setelah foto luka bakar korban beredar luas di media sosial. Pihak kepolisian dari Polsek Dukun langsung turun tangan dan mendatangi rumah korban untuk mengecek kebenaran informasi tersebut.

Kanit Reskrim Polsek Dukun Aiptu Moh Maksum menyatakan pihak keluarga bersikukuh menolak membawa kasus penyiksaan ini ke ranah pidana.

"Diselesaikan secara kekeluargaan, kedua belah pihak tidak menghendaki menempuh jalur hukum," kata Maksum.

(ugo/frd/ugo)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK