Dugaan aksi perundungan atau bulllying berujung maut terjadi di Pemalang, Jawa Tengah.
Korban, Aqib (7), warga Kebondalem, Pemalang, tewas usai dirawat setidaknya sembilan hari di rumah sakit setelah diduga korban perundungan kakak kelasnya.
"Ya, kami Sat Reskrim bersama Polsek Pemalang Kota menerima laporan dari masyarakat atau adanya informasi bahwa ada seorang anak meninggal dunia yang diduga akibat adanya tindakan kekerasan," ungkap Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP M Wildan Umar saat ditemui detikJateng di RSUD M Azhari, Kamis (1/10) dikutip dari detikJateng.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Wildan menyampaikan, pihaknya sudah meminta keterangan awal dari sejumlah saksi, termasuk orang tua korban sejak Rabu (30/9).
"Dan hari ini, kami sedang melaksanakan autopsi kepada korban untuk mengetahui penyebab kematian dari korban," ucap Wildan.
Ibu korban, Diah Indriyanti (36), mengaku sangat terpukul atas kematian anak ketiganya tersebut. Ia menceritakan, sejak kejadian perundungan, korban berubah jadi pendiam, bahkan tidak berani bercerita terkait penganiayaan yang dialaminya.
Siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem itu juga sempat dirawat di RSUD M Azhari selama sembilan hari sejak Kamis (17/9) lalu. Korban sempat diperbolehkan pulang selama 3 hari di rumah, sebelum akhirnya meninggal saat dalam perjalanan ke rumah sakit, Rabu (30/9) sore.
"Hari Kamis tanggal 17 kemarin, selama 9 hari dirawat di rumah sakit. Pulang dari rumah sakit 3 hari, kemudian kemarin berniat dibawa ke rumah sakit kembali, tapi seperti itu (meninggal)," kata Diah di rumah duka.
Diah mengungkapkan, selama sakit anaknya jadi berubah dari yang periang dan doyan makan menjadi pendiam. Korban bahkan menceritakan perundungan yang dialaminya kepada dokter.
"Cuma saya merasa udah beda, dari pola makan sama pola setiap hari. Anak itu biasanya ceria tapi berubah pendiam," katanya.
"Dia baru bercerita itu setelah diperiksa sama dokter, baru dia cerita," imbuh Diah.
Dari pengakuan korban semasa hidupnya, Diah mengatakan dugaan penganiayaan itu terjadi saat jam istirahat. Sementara hari dan tanggalnya, Diah tidak mengetahuinya.
"Dipukul perut, ada yang menendang pakai sepatu. Dan itu pun saya pertama enggak tahu kalau anak itu udah dipukul. Saya baru tahu itu kemarin-kemarin," katanya.
Diah menuturkan ada luka memar di perut dan kaki anaknya tersebut.
"Memar di perut dan kaki, warna biru-biru lebam," katanya.
"Tiga hari di rumah, anak merasakan sakit-sakit, mengeluhkan perut sakit." imbuh Diah.
Ia juga mengatakan karena kondisi yang dialami korban membuatnya sulit berjalan.
"Kalau diangkat juga mengeluh sakit," katanya.
Diah mengungkapkan, selama tiga hari sepulang dari rumah sakit, kondisi buah hatinya kian parah. Pada Rabu (30/9), keluarga membawa korban kembali ke rumah sakit. Namun, dalam perjalanan korban dinyatakan meninggal.
"Harapan kami selaku orang tua udah cukup Aqib saja. Yang lain jangan. Mungkin saya ikhlas enggak ikhlas, karena (anak) enggak sakit nggih. Jadi kan saya merasa, enggak sakit kok tiba-tiba kayak gitu," ungkap Diah.
Suami Diah, Nurwandi (43) sempat mendatangi sekolah untuk meminta penjelasan soal perundungan yang dialami putranya. Namun, upayanya sia-sia.
"Anak saya itu sebelum meninggal sudah ngomong siapa-siapa yang mukul dia, dilihatin foto terus dia nunjuk. Ada tiga anak, yang dua kelas 5 dan satu kelas 6. Saya mencoba minta kejelasan sekolah, namun belum ada hasilnya, kata Nurwandi.
Kini, keluarga korban berharap polisi dapat segera mengungkap secara gamblang dugaan kekerasan atau perundungan terhadap putranya dan ada keadilan untuk anaknya.
Baca berita lengkapnya di sini.
(tim/kid)