Ojol di Palembang Meninggal Usai Sesak Nafas, Diduga Imbas Kabut Asap

CNN Indonesia
Sabtu, 03 Okt 2026 21:00 WIB
Seorang driver ojol di Palembang meninggal setelah mengalami sesak napas, diduga akibat kabut asap karhutla yang masih menyelimuti Bumi Sriwijaya.
Ilustrasi. Sejumlah pengendara melintas di Jalan Lintas Timur (jalintim) Palembang-Indralaya yang tertutup kabut asap di Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Jumat (25/9/2026). (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Selatan selama hampir dua bulan terakhir meninggalkan duka mendalam bagi keluarga Ardiansyah (41), warga Jalan Mataram Ujung, Kelurahan Kemas Rindo, Kecamatan Kertapati, Palembang.

Ardiansyah yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol) meninggal dunia setelah mengalami sesak napas. Pihak keluarga menduga kondisi tersebut berkaitan dengan paparan asap karhutla yang belakangan menyelimuti Kota Palembang.

Rita Yunita mengatakan suaminya, almarhum Ardiansyah, memang memiliki riwayat asma. Sejak kabut asap mulai menyelimuti Palembang, katanya, almarhum lebih sering mengalami batuk dan sesak, terutama setelah beraktivitas di luar rumah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau dia sudah selesai kerja jadi driver dan aktivitas di luar, waktu dia pulang sering batuk, sering sesak," kata Rita, Sabtu (3/10) dikutip dari detikSumbagsel.

Sebagai pengemudi ojek online, Ardiansyah menghabiskan sebagian besar waktunya di luar rumah. Almarhum biasanya mulai bekerja sejak pagi, kemudian beristirahat siang dan kembali beraktivitas hingga sore menjelang malam.

Dalam sehari, Ardiansyah diperkirakan menghabiskan sekitar sembilan jam di luar rumah dengan sepeda motor. Kondisi itu membuatnya cukup sering terpapar udara luar, termasuk ketika kabut asap menyelimuti Palembang.

Sejak kondisi kabut asap memburuk, aktivitas Ardiansyah di luar rumah mulai dikurangi. Namun, kata Rita, pada pagi sebelum meninggal, kondisi sesaknya kembali kambuh.

Rita mengatakan saat itu Ardiansyah baru saja keluar dari kamar mandi. Kondisi di luar rumah ketika itu sedang dipenuhi kabut karena kamar mandi tidak ada plafon jadi kabut itu langsung masuk ke dalam ruang.

Ardiansyah sempat mengeluhkan sulit bernapas, dan mengeluhkan pekatnya asap.

"Dia bilang, 'Ya Allah, kabut asap ini'," kata Rita mengenang ucapan suaminya.

Keluarga kemudian berusaha memberikan pertolongan dan membawa Ardiansyah ke rumah sakit. Namun, kondisi Ardiansyah memburuk dengan cepat.

Setibanya di rumah sakit, Ardiansyah langsung mendapatkan penanganan di IGD RS Bari. Keluarga menyebut dokter melakukan pemeriksaan dan memberikan pertolongan medis, termasuk tindakan resusitasi. Namun, nyawanya tetap tidak tertolong.

Ardiansyah meninggalkan istri dan anak-anak yang kini harus menghadapi kehilangan sosok yang selama ini menjadi bagian penting dalam keluarga.

Rita mengatakan paparan asap Karhutla itu bukan lagi sekedar persoalan jarak pandang atau terganggunya aktivitas warga. Keluarganya kini merasakan langsung dampak kehilangan orang yang diduga berkaitan dengan kondisi udara tersebut.

"Pengennya pemerintah ini bergerak. Kalau memang kondisi lagi tidak aman, kabut sudah ada, asap sudah ada, jangan sampai ada korban yang lain. Cukup kami," ujarnya.

Penerbangan terganggu

Paparan asap dampak karhutla pada Sabtu pagi cukup tinggi di Palembang. Salah satunya bahkan membuat penerbangan terganggu.

General Manager Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) Palembang Ahmad Syaugi Sahab mengatakan setidaknya ada delapan penerbangan yang terganggu pagi sampai siang tadi imbas rendahnya jarak pandang karena asap.

Jarak pandang yang berada di bawah standar minimum penerbangan membuat sejumlah penerbangan mengalami penundaan, bahkan satu pesawat harus kembali ke bandara asal.

"Untuk arrival ada empat penerbangan yang terdampak dan departure juga ada empat penerbangan," kata Ahmad Syaugi, Sabtu dikutip dari detikSumbagsel.

Pada sisi kedatangan, penerbangan yang terdampak yakni QG 980 rute Jakarta-Palembang, IU 933 rute Yogyakarta-Palembang, IU 924 rute Jakarta-Palembang, dan GA 102 rute Jakarta-Palembang.

Untuk QG 980 rute Jakarta-Palembang, penerbangan tersebut mengalami return to base (RTB) atau kembali ke bandara asal.

Sementara itu, empat penerbangan yang terdampak pada sisi keberangkatan yakni QG 981 rute Palembang-Jakarta, IU 964 rute Palembang-Jakarta, IU 871 rute Palembang-Jakarta, dan GA 107 rute Palembang-Jakarta.

Ahmad menjelaskan kondisi tersebut terjadi karena visibility below minimum, yakni jarak pandang berada di bawah batas minimum yang dipersyaratkan untuk operasional penerbangan.

"Penundaan ini terjadi akibat visibility below minimal atau jarak pandang di bawah standar minimal penerbangan," ujarnya.

Saat ini, kata Ahmad, pihak bandara bersama maskapai terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan kondisi cuaca. Penyesuaian operasional penerbangan dilakukan dengan tetap mengutamakan faktor keselamatan.

Ahmad juga mengimbau para penumpang yang akan melakukan perjalanan dari maupun menuju Palembang untuk memantau informasi penerbangan melalui maskapai masing-masing.

Baca berita lengkapnya di sini.

(tim/kid)
placeholder