Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Andi Sudirman Sulaiman mengklaim bakal mengeluarkan surat untuk penggunaan masker akibat kualitas udara di Makassar dan sekitarnya memburuk dalam beberapa hari terakhir.
"Nanti baru buat edaran untuk yang wajib masker. Nanti kita mau analisis, kita data dulu nanti berapa (kadar bahayanya). Ya yang di luar harus pakai masker," kata Andi Sudirman kepada wartaan, Minggu (4/10).
Senada, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin mengatakan bahwa penggunaan masker bagi masyarakat yang melakukan aktivitas di luar ruangan sangat penting untuk mengurangi dampak polusi terhadap kesehatan, mengingat kualitas udara masih berada dalam kondisi kurang baik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau bisa di kegiatan outdoor ini menggunakan masker atau pengaman supaya memastikan bahwa udara yang sekarang kondisinya lagi kurang baik ini tidak langsung berdampak pada kita," kata Munafri.
Menurut Appi, sapaan akrabnya, Pemkot akan segera mempertimbangkan langkah-langkah lebih lanjut jika kondisi udara di Makassar masih kurang baik untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat.
"Pasti akan kita membuat edaran yang lebih maksimal. Karena kondisinya memang dengan udara yang sangat kering ini sangat mengganggu. Kalau tidak langsung diintervensi, ini bisa mengakibatkan banyak hal yang lebih parah terutama penyakit-penyakit terhadap saluran pernapasan dan sebagainya," jelasnya.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) wilayah IV Makassar menyebutkan kualitas udara di Makassar akibat dipengaruhi kondisi asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dari Kalimantan yang terbawa angin menuju wilayah Sulawesi Selatan.
"Beberapa hari ini terpantau kualitasnya untuk indikator PM2,5 Maros dan sekitarnya termasuk Makassar itu masuk dalam kategori kurang sehat hingga sedang," kata Prakirawan BMKG Makassar, Asriani Idrus, Minggu (4/10).
Kualitas udara cenderung memburuk pada malam hingga pagi hari. Namun, kondisi tersebut biasanya mulai membaik ketika memasuki siang hingga sore.
"Yang kurang sehatnya itu biasanya terjadi pada dini hari, tengah malam hingga pagi hari. Tadi ini terpantau sampai jam 11, pas jam 12 itu sudah kembali," ujarnya.
Menurut Asriani, pola pergerakan angin menjadi salah satu indikator yang memperkuat dugaan masuknya asap karhutla dari luar Sulawesi Selatan. Saat angin bertiup dari arah barat hingga barat laut, partikel asap dari wilayah Kalimantan berpotensi terbawa menuju Sulsel.
Sementara, ketika angin dominan dari timur, asap karhutla dari wilayah Papua dan Maluku juga berpeluang masuk ke wilayah Sulsel.
"Nah, penyebabnya itu kebanyakan dari kebakaran, asap kebakaran hutan. Karena tadi saya lihat arah anginnya umumnya berasal dari barat, jadi kemungkinan terbawa dari Kalimantan menuju ke wilayah Sulawesi Selatan," jelasnya.

