Gagal Penuhi Target Tangkapan Cumi, 4 ABK Disiksa dalam Tong Air

CNN Indonesia
Senin, 05 Okt 2026 08:23 WIB
Ilustrasi penganiayaan
Sejumlah ABK disiksa dalam tong air karena gagal penuhi target tangkapan cumi dan ikan. iStockphoto/cyano66
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepolisian Resor (Polres) Pelabuhan Tanjung Priok mengungkap motif penyiksaan sadis terhadap sejumlah anak buah kapal (ABK) yang videonya belakangan viral di media sosial.

Para korban diketahui dianiaya secara fisik lantaran dinilai gagal memenuhi target tangkapan laut.

Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, AKBP Alrasyidin Fajri, menjelaskan bahwa pihak kapal membebankan kuota tangkapan harian kepada para ABK. Kegagalan memenuhi kuota tersebut berujung pada penyiksaan fisik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dugaan sementara korban memang dilakukan penganiayaan apabila tidak mencapai satu target untuk menangkap cumi-cumi maupun komoditi lainnya," kata AKBP Alrasyidin dikutip detikcom, Minggu (4/10).

"(Target tangkapan) 3 kilo harus tercapai, kalau tidak tercapai, maka akan dilakukan tindakan-tindakan tertentu. Tapi ini harus kita dapatkan bukti dan data yang faktual," jelasnya.

Aksi penganiayaan ini membetot perhatian publik setelah rekaman kejadiannya beredar luas. Dalam video tersebut, tampak seorang laki-laki didudukkan di dalam sebuah tong berisi air.

Ia kemudian diinjak pada bagian bawah tubuhnya, ditonjok berkali-kali, hingga disemprot air tepat di wajahnya. Dalam rekaman yang sama, terlihat pula seorang pria berbaju biru yang ikut memukul dan menarik baju korban dari belakang.

Pihak kepolisian mencatat terdapat empat ABK yang menjadi korban penyiksaan di kapal tersebut. Keempatnya adalah Ilham Shalahudin, Oktavian Makhreza, Syawal Suswono, dan Johan Saputra. Rata-rata dari mereka baru bekerja di kapal itu selama dua bulan.

Pelaku berbohong bilang korban sakit beri-beri

Guna menutupi aksi kejahatannya, para pelaku sempat menghubungi orang tua korban dan merekayasa cerita. Pengurus kapal berbohong dengan mengklaim bahwa korban jatuh sakit dan sedang dirawat.

"Pada awal Agustus, pengurus kapal ini juga melakukan komunikasi dengan ibu korban atas nama Ilhash ini bahwa menyatakan, 'Anak Ibu sakit beri-beri dan sudah dilakukan perawatan di Rumah Sakit Dobo di wilayah hukum Kepulauan Aru,'" ungkap Alrasyidin.

Namun, polisi memastikan bahwa informasi tersebut adalah alibi palsu semata. "Dan setelah kita dalami juga, rupanya dugaan sementara informasi tersebut bahwa korban dilakukan perawatan dan lain-lain itu tidak dilakukan perawatan oleh oleh pengurus kapal," imbuhnya.

Saat ini, kepolisian tengah berfokus pada pemulihan kondisi fisik maupun psikologis para korban. Bersamaan dengan itu, perburuan terhadap para terduga pelaku penganiayaan di atas kapal masih terus dilakukan.

"Dari ABK tersebut sekitar ada 14 orang ya, ada 14 orang. Tapi tentunya bisa jadi semuanya, bisa jadi beberapa, bisa jadi hanya satu, bisa jadi hanya dua, itu tentu tentunya harus kita temukan data faktual melalui pemeriksaan," tuturnya.

Selengkapnya di sini.

(gil/gil)
placeholder