Kesaksian Warga RI, Malaysia dan Singapura Terdampak Asap Karhutla

CNN Indonesia
Selasa, 06 Okt 2026 06:36 WIB
Sejumlah masyarakat dari Indonesia, Malaysia, hingga Singapura membagikan kesaksian mereka terkait asap kebakaran hutan dan lahan yang berdampak lintas negara. ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah masyarakat dari Indonesia, Malaysia, hingga Singapura membagikan kesaksian mereka terkait asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah berdampak lintas negara.

Kesaksian ini mereka sampaikan melalui konferensi pers yang diselenggarakan Greenpeace Indonesia secara daring pada Senin (5/10).

Pertama, kesaksian datang dari Bimpi Permata Restu, seorang warga Pontianak, Kalimantan Barat, yang aktif sebagai Relawan Tim Cegah Api.

"Situasi sekarang di Kalimantan Barat beberapa hari lalu sudah mulai aman cuman dua hari ini kayaknya kabut asapnya udah balik lagi," ujar Bimpi.

Karhutla dan asapnya ia sebut sangat berdampak bagi kehidupan masyarakat setempat. Misalnya, banyak sekolah yang akhirnya diliburkan.

Karhutla pun disebut telah memakan korban, entah itu warga yang menjadi sakit karena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) atau warga yang meninggal dunia dalam proses pemadaman api.

Dampak lain yang dirasakan Bimpi ialah berkurangnya kualitas air, bahkan air berubah menjadi asin. Hal ini menimbulkan kesulitan bagi masyarakat, terutama bagi Bimpu dan keluarganya yang baru saja dikaruniai seorang bayi.

"Juga sempat berat juga bagi saya karena kesusahan air ini membuat kita untuk kebutuhan di rumah tuh yang agak berat. Karena punya bayi kan prioritas untuk cuci baju pakaian bayi yang susah karena airnya asin," jelasnya.

Selanjutnya, kesaksian disampaikan oleh seorang warga Desa Lebung Itam, Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Sulatan.

"Yang kami rasakan setiap hari kami cuma bisa menghirup asap, udara bercampur asap. Jadi, situasi di kami saat ini sangat sangat buruk, sudah berbulan-bulan kami mengalami hal ini karena terbakarnya lahan gambut yang ada di wilayah saya," ungkap Pralensa atau yang juga dikenal dengan nama Jay.

Asap karhutla pun ia sebut telah sangat memengaruhi aktivitas dan kesehatan masyarakat setempat. Secara khusus, Jay melihat pengaruh ini terhadap istrinya.

"Istri saya kalau di musim asap ini dia rutin tidak bisa keluar rumah karena dia mempunyai riwayat asma. Jadi, ketika mereka menghirup udara yang bercampur asap ini asmanya begitu mulai kambuh," ujarnya.

Bahkan, kondisi asap yang memprihatinkan membuat tingkat aktivitas masyarakat sangat berkurang. Masyarakat menjadi tidak leluasa untuk beraktivitas dan jadi harus selalu menggunakan masker.

Ia melihat hingga saat ini belum ada upaya yang dapat menghentikan kebakaran lahan gambut. Salah satu tantangan yang ia sebutkan adalah adanya keterbatasan air.

"Air di wilayah tersebut sudah tidak ada lagi. Kita coba menggali sumur secara manual itu bisa kedalaman tiga sampai empat meter, tidak bisa menimbulkan air," katanya.

Terakhir dari Indonesia, kesaksian soal dampak asap karhutla disampaikan oleh warga Palembang, Sumatera Selatan, dengan nama Kartika Lestari.

"Saat ini, Palembang dengan mengalami kondisi ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) yang sangat mengerikan. Pagi tadi kami terbangun di titik ISPU tertinggi yang kami alami untuk tahun 2026, 1702. Tentu saja itu sangat berpengaruh kepada kami," ujar Kartika.

Ia menekankan bahwa situasi di Palembang semakin memburuk. Meskipun seperti itu, ia melihat pemerintah kota dan pemerintah provinsi belum sepenuhnya memberikan rasa aman kepada masyarakat.

Kasus ISPA juga melanda wilayah setempat. Kartika cerita, ia banyak mendengar kabar dari teman-teman di layanan kesehatan atau rumah sakit.

"Terutama misalnya yang saya tahu itu di rumah sakit Pusri itu sudah banyak sekali anak-anak yang harus mendapatkan tindakan nebulizer, misalnya karena situasi asap yang sangat buruk, buruk, buruk sekali," ungkapnya.

Kartika juga menyebutkan soal kondisi langit yang tampak menguning. Meski masyarakat sudah memakai masker N95, asap ini tetap menembus dan bekasnya bahkan dapat melekat pada pakaian.

Asap karhutla juga mempengaruhi kegiatan belajar-mengajar di Palembang. Kartika bilang, kini peserta didik di bangku SD, SMP, hingga SMA terpaksa harus menjalankan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Tak hanya di wilayah Indonesia, dampak karhutla pun sampai ke negara-negara tetangga.

Warga negara Malaysia bernama Muhammad Syahir bercerita anak perempuannya sampai harus dirawat di rumah sakit karena kena dampak asap karhutla.

"Dia mengalami sesak dada dan juga kesulitan bernapas. Dan saat saya membawanya ke rumah sakit, dia didiagnosis terkena mycoplasma dan juga bronkitis," jelasnya.

Anak perempuan Syahir dirawat selama kurang lebih lima hari di rumah sakit. Perawatan di rumah sakit ini tentunya membutuhkan biaya yang tak sedikit.

"Biayanya kira-kira mencapai hampir 10 ribu ringgit (atau sekitar Rp43 juta)," ungkap Syahir.

Sementara itu, di Singapura, kesaksian disampaikan oleh Yi Feng, seorang warga Singapura sekaligus anggota Climate Rally.

Feng sebut, walaupun Singapura tidak terlalu dekat dengan lokasi kebakaran utama di Indonesia, kualitas udara di sana menjadi cukup fluktuatif. Masyarakat pun disarankan tidak beraktivitas di luar ruangan, terlebih ketika asap sedang cukup parah.

Selain itu, ia banyak mendengar dari teman-temannya terkait keluhan orang-orang yang memiliki masalah pernapasan. Mereka disebut mengalami flare-ups, yaitu keluhan/gejala suatu penyakit kronis yang tiba-tiba memburuk atau kambuh.

Ia sendiri pun mengalami masalah kesehatan ini.

"Buat saya pribadi, saya memiliki rinitis alergi sehingga saya juga memiliki kesulitan bernapas dalam beberapa minggu terakhir. Dan saya membutuhkan semacam layanan dan dukungan medis hanya agar bisa berkegiatan sehari-hari," jelasnya.

Berdasarkan Dashboard Informasi Penanganan Karhutla milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu, (4/10), masih terdapat 6.999 titik panas dan 196 titik api karhutla di enam provinsi Indonesia.

Enam provinsi ini terdiri dari Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

(mou/gil)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK