Update Karhutla: Hotspot Kalteng, Kalbar, Kalsel, Sumsel Meningkat
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat terjadi peningkatan titik panas (hotspot) sebagai indikator terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah, terutama Kalimantan dan Sumatra.
Dalam siaran pers yang diunggah di situs Kemenhut pada Kamis (8/10), lembaga itu menyatakan secara nasional jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) menunjukkan penurunan tipis dibandingkan sehari sebelumnya.
Namun, di enam provinsi prioritas yang berada di Sumatra dan Kalimantan mayoritas terjadi peningkatan hotspot.
"Dinamika di enam provinsi prioritas menunjukkan perkembangan yang perlu terus diwaspadai. Hotspot high confidence tercatat sebagai berikut: Kalimantan Tengah: 225 titik, meningkat dari 182 titik; Sumatera Selatan: 224 titik, meningkat dari 71 titik; Kalimantan Barat: 47 titik, meningkat dari 34 titik; Kalimantan Selatan: 31 titik, meningkat dari 18 titik; Jambi: 16 titik, turun dari 21 titik; dan Riau: nihil, tetap nihil," demikian dikutip dari laman tersebut yang diakses Jumat (9/10) pagi.
Kemenhut menyatakan berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan hingga Rabu (7/10) pukul 21.00 WIB, terdeteksi 1.176 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence berdasarkan satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20.
"Jumlah tersebut turun 25 titik dibandingkan Selasa (6/10) yang mencatat 1.201 hotspot," ujarnya.
Kemenhut menyatakan perkembangan tersebut menunjukkan meski secara nasional terjadi penurunan tipis, konsentrasi hotspot pada wilayah tertentu masih membutuhkan perhatian dan respons lapangan yang kuat.
"Pemantauan, patroli, dan groundcheck terus diperkuat terutama di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan," demikian ditegaskannya.
Dalam paparan itu, Kemenhut kembali menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit, sehingga tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar.
"Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi tetap harus diverifikasi melalui pemeriksaan langsung untuk mengetahui kondisi sebenarnya dan menentukan tindakan penanganan di lapangan," tuturnya.
Kemenhut juga memastikan pengendalian karhutla dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, serta para pihak terkait.
Sejauh ini pemerintah tetap menyiagakan 61 unit armada udara, yang terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing.
Kualitas udara berbahaya
Dalam siaran pers itu, Kemenhut menyatakan pemerintah juga terus memantau kondisi udara berdasarkan konsentrasi PM2,5 sebagai bagian dari upaya perlindungan kesehatan masyarakat. Pantauan terkini menunjukkan sebagian wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang, namun sejumlah wilayah masih menunjukkan kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, terutama pada beberapa bagian Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Papua.
"Pada sebagian wilayah Kalimantan juga masih terlihat kantong dengan kategori berbahaya, sehingga perkembangan kualitas udara dan pergerakan asap terus menjadi perhatian," demikian dipaparkan Kemenhut.
"Kondisi udara dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran, konsentrasi partikulat, arah dan kecepatan angin, serta dinamika atmosfer lainnya," sambungnya.
Kemenhut meminta masyarakat di wilayah terdampak diminta terus mengikuti informasi kualitas udara dan arahan pemerintah daerah. Apabila kondisi udara memburuk, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar.
"Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis," imbuhnya.
Kemenhut juga mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
"Apabila menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar yang membutuhkan penanganan, masyarakat diminta segera melaporkan kepada petugas agar respons dapat dilakukan sedini mungkin. Kontak pelaporan informasi karhutla di Posko Karhutla Kementerian Kehutanan: Telepon: 021-5704618; WhatsApp: +62 8131-00-35000; dan, Email: posko.karhutla@kehutanan.go.id," demikian disampaikan Kemenhut.
(kid/kid)