Nestapa Masyarakat Palangka Raya Tercekik Asap Karhutla

CNN Indonesia
Jumat, 09 Okt 2026 22:15 WIB
Petugas menarik selang saat memadamkan kebakaran lahan yang mendekati kawasan permukiman warga di Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (9/10/2026). Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Palangka Raya menyebutkan sejak pene
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda wilayah Palangka Raya, Kalimantan Tengah, hingga Jumat (9/10). Masyarakat semakin tedampak asap karhutla tersebut. (ANTARA FOTO/Auliya Rahman)
Jakarta, CNN Indonesia --

Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin mencekik wilayah Palangka Raya, Kalimantan Tengah, hingga Jumat (9/10). Aktivitas masyarakat setempat terganggu dan khawatir terkena gangguan pernapasan.

Suteja, seorang warga Kelurahan Sei Gohong, Kecamatan Bukit Batu, Kota Palangka Raya, menyebut kondisi udara setempat masih parah.

"Pagi dan siang pekat. Pemandangan menguning, udaranya sangat kotor," ujar Suteja kepada CNNIndonesia.com, Jumat (9/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suteja membagikan foto yang ia ambil di Jalan Tjilik Riwut, Kota Palangka Raya, pada pukul 09.55 WITA.

Dalam foto tersebut, terlihat pemandangan langit Palangka Raya yang menguning. Pekatnya asap bahkan hampir menutupi pemandangan masjid dan pohon-pohon yang hanya terletak di seberang jalan.

Suteja menyebut kondisi langit yang menguning sudah berlangsung sekitar tujuh hari terakhir. Namun, kabut asap pekat di Palangka Raya kini telah memasuki bulan ketiga.

"Sempat ada hujan di beberapa daerah di Kota Palangka Raya sepertinya akibat dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tetapi hujan itu hanya sebentar sekitar 30 menit atau kurang dari 1 jam, yang malah asap jadi semakin tebal," jelasnya.

Suteja mengatakan kondisi asap ini sangat mengganggu aktivitas sehari-hari dirinya dan warga setempat lain. Anak sekolah jadi harus menjalani pembelajaran jarak jauh. Kegiatan bekerja pun jadi terganggu.

"Udara menguning seperti ini kalau lama di luar membuat sakit kepala," katanya.

Sebagai pekerja pemasaran di sebuah resort setempat, ia menyebutkan kabut asap sangat mengganggu berjalannya roda ekonomi.

Suteja mengirimkan foto lokasi tempat ia bekerja sebelum dan sesudah terdampak asap karhutla.

Sebelum adanya asap, resort tersebut tampak asri, apalagi dengan pemandangan langit biru di belakangnya. Kini, resort yang sama justru tampak gersang dan gelap.

Ini bukan kali pertama Palangka Raya terdampak karhutla. Suteja mengatakan kejadian serupa terjadi di 2015 dan 2019, di mana 2015 menjadi tahun dengan tingkat karhutla yang sangat parah.

Namun, kondisi langit yang kini menguning membuatnya berpandangan bahwa karhutla tahun 2026 dapat berubah menjadi separah tahun 2015.

"Kemampuan pemerintah untuk menangani karhutla ini sumber tenaganya sudah habis, kita hanya berharap dengan hujan lebat semalaman," ujar Suteja.

Ia mengakui bahwa pemerintah telah bekerja sangat keras untuk menangani persoalan ini. Namun, hingga sekarang, berita terkait kebakaran lahan di sekitarnya tak kunjung berhenti.

Aktivitas sehari-hari pun akhirnya menyesuaikan kondisi asap. Ia mengatakan, rumah harus memiliki ruangan khusus yang ditutup rapat menggunakan plastik agar aman dari asap.

Suteja juga kini berupaya mengurangi paparan udara luar. Kalau pun harus keluar, mengenakan masker jadi sebuah kewajiban. Meski kebutuhan terhadap masker terus meningkat, kedatangan stok bantuan logistik, termasuk masker, malah terhambat.

"Bantuan logistik sangat terhambat karena penerbangan Bandara Tjilik Riwut sudah sekitar dua minggu kurang lebih ditutup. Jadi, terhambat karena lewat jalur laut dan darat," ungkapnya.

Padahal, bantuan logistik tersebut berisikan kebutuhan yang saat ini sangat dibutuhkan masyarakat. Kebutuhan tersebut mulai dari masker jenis N95 atau KN95, vitamin C, obat-obatan, hingga kacamata untuk tim relawan pemadam kebakaran.

Melansir keterangan yang diunggah pada Jumat (9/10) di laman resmi Kementerian Kehutanan, masih terdapat 86 titik panas (hotspot) karhutla dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah.

Data ini didasari pada pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kemenhut hingga Kamis (8/10) pukul 21.10 WIB.

Kemenhut kini memberikan perhatian lebih pada wilayah Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. Hal ini dikarenakan keduanya merupakan provinsi yang masih memiliki jumlah hotspot tertinggi dari antara enam provinsi prioritas.

(mou/fra)
placeholder