Pengalaman Erupsi, Klaten Siapkan Warga Lereng Merapi Hadapi Bencana
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten menggelar simulasi evakuasi mandiri dan pertolongan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten serta Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) di Desa Balerante dan kawasan Ekowisata Kalitalang, Klaten, pada Kamis (8/10).
Kegiatan ini merupakan upaya memperkuat kemampuan masyarakat dan relawan dalam menghadapi situasi darurat, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi erupsi maupun kondisi darurat di kawasan gunung dan hutan seperti peristiwa erupsi Gunung Merapi pada 2010 silam.
Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo mengatakan, simulasi penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, terutama bagi warga yang tinggal di kawasan rawan bencana Gunung Merapi.
Menurutnya, kesiapsiagaan tidak cukup hanya mengandalkan keberadaan petugas dan peralatan penanggulangan bencana. Masyarakat juga perlu memahami tindakan yang harus dilakukan ketika situasi darurat terjadi.
"Dengan adanya kegiatan ini harapan kami tentu warga masyarakat jadi lebih siaga, relawan kita jadi lebih paham bagaimana cara menanggulangi bencana. Kemudian yang ketiga bagaimana kemudian simulasi kita bersama kalau terjadi bencana ini apa yang harus kita lakukan," kata Hamenang.
Ia berharap, latihan itu dapat membangun pemahaman bersama mengenai pembagian tugas dan prosedur penyelamatan. Dengan demikian, masyarakat tidak kebingungan ketika menghadapi keadaan darurat yang membutuhkan tindakan cepat.
Hamenang juga menekankan pentingnya mengurangi kepanikan saat terjadi bencana. Masyarakat yang sudah memahami jalur evakuasi, lokasi titik kumpul, serta peran masing-masing pihak akan lebih siap mengambil tindakan untuk menyelamatkan diri.
"Harapannya tidak ada lagi kepanikan, sudah tahu siapa harus berbuat apa. Nah, ketika siapa berbuat apa ini sudah paham, di mana titik kumpulnya sehingga bisa meminimalisir terjadinya risiko korban," ujarnya.
Kepala Pelaksana BPBD Klaten Syahruna menjelaskan, kegiatan pelatihan penanggulangan bencana di kawasan gunung dan hutan yang dilanjutkan simulasi evakuasi mandiri ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana.
Pelatihan tersebut diikuti 60 peserta dari berbagai unsur yang terlibat dalam penanggulangan bencana, antara lain Palang Merah Indonesia (PMI), kepolisian, Basarnas, TNI, relawan, BPBD, serta unsur relawan kecamatan. Mereka mendapatkan materi pelatihan yang kemudian diterapkan melalui simulasi di lapangan.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut bertujuan memperkuat koordinasi ketika menghadapi kondisi darurat. Dalam penanganan bencana, kerja sama antarlembaga dan masyarakat diperlukan agar pertolongan, pengamanan, serta proses evakuasi dapat dilakukan sesuai peran masing-masing.
Syahruna menjelaskan, Desa Balerante dipilih sebagai lokasi kegiatan karena menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan cukup parah menyusul erupsi Merapi pada 2010.
Selain faktor riwayat bencana, lokasi desa yang relatif jauh dari kantor BPBD juga menjadi pertimbangan penting dalam mendorong kemampuan masyarakat melakukan evakuasi secara mandiri.
"Pada waktu terjadi erupsi tahun 2010, kerusakan yang paling banyak yaitu di Balerante dan lokasinya jauh dari BPBD, sehingga perlunya evakuasi mandiri," tutur Syahruna.
Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya kesiapsiagaan di tingkat desa. Dalam situasi bencana, masyarakat harus menunggu bantuan tiba di lokasi. Sehingga, pemahaman mengenai prosedur penyelamatan awal mutlak diperlukan.
Melalui simulasi ini, warga dan relawan diharapkan semakin memahami tindakan yang perlu dilakukan sejak peringatan bahaya dikeluarkan hingga mencapai lokasi aman.
Selain simulasi evakuasi, kegiatan juga beragendakan pencanangan tiga desa siaga bencana. Penguatan kapasitas desa penting karena masyarakat merupakan kelompok yang berada paling dekat dengan sumber risiko.
Sementara itu, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyerahkan perangkat Early Warning System (EWS), berupa sirine dan alat pemantau bahaya di kawasan Gunung Merapi, kepada Bupati Klaten.
Keberadaan sistem peringatan dini diharapkan mendukung penyampaian informasi bahaya kepada masyarakat. Warga diingatkan perlu memahami arti peringatan dan tindakan yang diambil segera setelah menerima informasi bahaya.
Karena itu, latihan evakuasi menjadi pelengkap penting bagi penyediaan perangkat peringatan dini. Sirine yang berbunyi perlu diikuti respons yang tepat, mulai dari mengenali situasi, mengikuti arahan petugas, hingga bergerak melalui jalur evakuasi menuju tempat aman.
Melalui pelatihan, simulasi, pencanangan desa siaga bencana, hingga dukungan peralatan peringatan dini, Pemkab Klaten mendorong masyarakat memahami prosedur penyelamatan, sehingga dapat meminimalisir risiko kepanikan serta korban.
(rea/rir)