Wagub Jatim Buka Suara soal Bayi Tewas Dicekoki Telur di Surabaya

CNN Indonesia
Senin, 12 Okt 2026 19:39 WIB
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak (tengah). (CNN Indonesia/Farid)
Surabaya, CNN Indonesia --

Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) Emil Elestianto Dardak angkat bicara mengenai kasus meninggalnya bayi berusia 28 hari berinisial A di Surabaya. Bayi tersebut sebelumnya viral di media sosial setelah diduga diberi makan telur mentah oleh neneknya demi menurunkan demam.

Emil menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas kepergian bayi tersebut. Ia mengungkapkan, pihaknya telah memantau perkembangan kondisi korban secara ketat sejak awal masuk ke rumah sakit hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir.

"Kami sangat berduka, kami intensif memantau sejak beberapa hari terakhir, ananda A meninggal dunia di unit perawatan NICU. Saya meyakini tim RSUD Soetomo telah memberikan pelayanan semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa ananda A sejak dirujuk dalam kondisi yang sangat memprihatinkan saat tiba di RSUD Soetomo," kata Emil saat dikonfirmasi wartawan, Senin (12/10).

Lebih lanjut, Emil meminta masyarakat untuk memberikan ruang bagi keluarga korban, terutama sang ibu, yang saat ini tengah mengalami guncangan psikologis.

Ia mengaku telah menjalin komunikasi langsung dengan ibunda bayi A sejak dilarikan ke ruang perawatan intensif.

"Untuk saat ini, izinkan saya menghormati kondisi ibunda dari A dan keluarga yang sangat berduka. Saya menyadari betul kesedihan ibunya karena kami berkomunikasi langsung beberapa hari terakhir dari sejak anak beliau dirujuk ke NICU RSUD Dr Soetomo," katanya.

Mengenai dugaan bahwa kondisi kritis dan kematian bayi A dipicu oleh konsumsi telur mentah, Emil enggan berspekulasi.

Ia memilih untuk menyerahkan penjelasan detail mengenai penyebab pasti kematian kepada para tenaga medis profesional yang menangani korban. Meskipun, Emil membenarkan adanya masalah pada sistem pencernaan bayi tersebut.

"Untuk keterkaitan dengan apa yang dikonsumsi, mohon kita serahkan ke tim medis terkait untuk memberi keterangan. Info yang kami dapat, terjadi infeksi serius di saluran pencernaan," tuturnya.

Sebagai penutup, Ketua DPD Demokrat Jawa Timur tersebut menyatakan bahwa pihaknya akan memberikan informasi tambahan kepada publik ketika situasinya sudah lebih tenang dan kondusif bagi pihak keluarga.

"Keterangan lebih lanjut akan kami sampaikan di waktu yang tepat," ucapnya.

Kisah pilu menimpa seorang bayi perempuan berinisial A di Surabaya, Jawa Timur. Bayi yang belum genap berusia satu bulan tersebut meninggal dunia setelah diduga diberi makan telur mentah oleh nenek dari pihak ayah dengan dalih untuk menyembuhkan demam.

Peristiwa ini menjadi viral dan menyita perhatian publik di media sosial. Kejadian ini bermula ketika bayi A mengalami gejala demam. Berdasarkan informasi yang beredar, neneknya diduga mencekoki bayi tersebut dengan telur mentah.

Tindakan yang disebut-sebut sebagai cara tradisional untuk menurunkan suhu tubuh itu justru berakibat fatal. Kondisi kesehatan bayi A dilaporkan langsung memburuk secara drastis setelah kejadian tersebut.

Melihat kondisi yang semakin kritis, pihak keluarga segera melarikan bayi A ke RSUD Dr Soetomo Surabaya untuk mendapatkan pertolongan medis darurat. Bayi malang tersebut tiba di rumah sakit pada Jumat (9/10).

"Masuk rumah sakit tanggal 9 pukul 08.25 WIB," kata Kepala Bagian Umum RSUD Dr Soetomo, Robeth Jabbar, Senin (12/10).

Setibanya di rumah sakit, bayi A harus menjalani perawatan sangat intensif. Ia ditempatkan di ruang Neonatal Intensive Care Unit atau NICU karena kondisinya yang terus menurun dan membutuhkan pantauan ketat dari tim dokter.

Selama beberapa hari dirawat di ruang NICU, tim medis telah berupaya sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa bayi A. Namun, setelah berjuang melewati masa kritis selama kurang lebih dua hari, bayi A akhirnya mengembuskan napas terakhirnya pada Minggu (11/10).

"Pasien tersebut memang benar sempat dirawat di RSDS dan tim medis telah memberikan upaya penanganan maksimal sesuai standar pelayanan dan kebutuhan pasien. Namun, pasien dinyatakan meninggal dunia pada Minggu pagi sekitar pukul 07.10 WIB," ucapnya.

Robeth mengatakan, usia pasti pasien terhitung belum genap sebulan saat peristiwa nahas itu terjadi. Tepatnya bayi A masih berusia 28 hari.

"28 hari usia adiknya saat meninggal," kata dia.

Meskipun kasus ini viral dan mengundang banyak pertanyaan dari masyarakat luas, pihak RSUD Dr Soetomo memilih untuk menjaga kerahasiaan medis pasien.

Robeth menegaskan tidak akan membeberkan rekam medis maupun penyebab pasti perburukan kondisi bayi A kepada publik. Hal ini dilakukan sebagai bentuk empati dan perlindungan terhadap privasi keluarga yang sedang tertimpa musibah.

"Terkait kronologi dan detail diagnosis pasien, kami tidak dapat menyampaikannya secara terbuka serta demi menghormati masa berduka pihak keluarga," ucapnya.

(frd/kid)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK