Jerit Warga Batam-Bintan: Listrik Mati, Air Tak Ada, Dikepung Asap

CNN Indonesia
Selasa, 13 Okt 2026 12:26 WIB
Kualitas udara di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dikategorikan sangat tidak sehat akibat dampak kiriman asap Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan, Selasa (15/9). Berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU
Listrik PLN di Batam dan Pulau Bintan padam total lebih dari 15 jam, mengganggu aktivitas warga. (CNN Indonesia/Arpandi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jaringan listrik PLN masih terpantau padam di sejumlah wilayah Batam dan Pulau Bintan Kepulauan Riau (Kepri), Selasa (13/10).

Listrik padam secara total (blackout) terjadi sejak Senin (12/10) dini dan belum pulih sepenuhnya. Pemadaman secara total berlangsung lebih dari 15 jam ini membuat aktivitas warga setempat terganggu. Mulai dari air tidak mengalir hingga tidak bisa mengakses internet. Keadaan diperparah dengan asap kiriman akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dari Sumatra dan Kalimantan.

"Listrik masih padam, air pun enggak ngalir di rumah ini, sinyal susah, ditambah lagi asap karhutla kiriman, lengkap sudahlah penderitaan kami di Batam," kata salah satu warga Batam, Yusuf saat dihubungi CNNIndonesia.com.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yusuf yang tinggal di Kavling Dapur 12 Kecamatan Sagulung, Kota Batam sudah mengalami listrik padam sejak Senin pagi (12/10) dan baru menyala pada malam harinya.

Namun itu tidak berlangsung lama, lantaran listrik kembali padam. Imbas kejadian ini, air bersih di rumahnya tidak mengalir dan harus menunggu. Dia menyebut, selain tempat tinggalnya, di wilayah Batu Aji, Batam Center dan Nagoya juga mengalami listrik padam.

"Listrik padam lagi, malam tadi sempat menyala. Di tempat teman-teman saya juga padam," ucapnya.

Selain Yusuf, warga di Pulau Bintan yang tinggal di Jalan Raja Haji Fisabillah Tanjungpinang bernama Andi juga mengeluhkan hal yang sama.

Dia bahkan baru bisa menikmati listrik pada Selasa dini hari atau sekitar pukul 00.00 WIB, setelah padam pada Senin sekitar pukul 05.30 WIB. Andi pun terpaksa nongkrong di kafe yang masih menggunakan genset untuk mengisi ulang daya baterai gadgetnya.

"Masih padam listrik, sekarang saya ngecas handphone di kafe," kata Andi.

Yusuf dan Andi hanya bisa pasrah sebagai warga Batam dan Pulau Bintan yang terdampak pemadaman listrik secara total.

Mereka berharap PLN Batam dan Tanjungpinang segera melakukan pemulihan pasokan listrik di tengah kabar pemadaman total terencana 12-14 Oktober 2026 akibat kerusakan kabel bawah laut Singapura-Batam.

Sementara itu, PLN Batam menegaskan kabar yang beredar mengenai gangguan layanan internet akibat kerusakan kabel bawah laut Singapura-Batam tidak berkaitan dengan gangguan maupun proses pemulihan sistem kelistrikan PLN Batam.

Sekretaris PLN Batam Rudi Antono mengimbau masyarakat mengecek berkala dan mencari informasi melalui kanal media sosial resmi PLN.

"Masyarakat diimbau untuk mengikuti dan memantau kanal media sosial resmi PLN Batam guna memperoleh informasi terbaru, akurat dan terpercaya mengenai perkembangan pemulihan sistem kelistrikan," Kata Rudi dalam keterangan tertulisnya, Selasa.

Ia menegaskan unggahan di media sosial terkait pengumuman pemadaman listrik terencana selama 3 hari (12-14 Oktober 2026) adalah berita bohong alias hoaks. Ia pun membantah informasi yang beredar di pesan berantai Whatsapp yang menyatakan listrik hanya menyala dari PLTD Tanjungpinang dan warga hanya kebagian 6 jam.

"PLN Batam tidak pernah mengeluarkan pengumuman pemadaman selama 3 hari berturut - turut, maupun pemberlakukan pembatasan nyala listrik 6 jam sebagaimana dinarasikan dalam pesan dan gambar yang beredar luas di masyarakat," jelasnya.

Kami senantiasa berkomitmen untuk memberikan pembaruan informasi mengenai perkembangan pemulihan sistem kelistrikan secara transparan dan akurat. PT. PLN Batam juga mengucapkan terima kasih atas dukungan seluruh pihak, sehingga proses pemulihan ini dapat berjalan dengan baik dan lancar.

(arp/isn)
placeholder