Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo mengubah sejarah kelam era kolonial Belanda Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan sepanjang 1.000 kilometer menjadi momentum kebangkitan ekonomi dan pariwisata daerah.
Dalam inisiatif Festival Anyer-Panarukan yang resmi diluncurkan pada Minggu (11/10) di Jakarta, Pemkab Situbondo menggandeng Pemkab Serang, kementerian, hingga komunitas lokal untuk menghidupkan kembali potensi koridor sejarah tersebut.
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, menyatakan bahwa langkah berani ini diambil agar peninggalan sejarah tak sekadar menjadi artefak pasif, melainkan penggerak kesejahteraan masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Artefak sejarah itu sayang kalau dibiarkan. Nah, justru dengan artefak sejarah dan cerita historis, kita bisa melampaui masa depan," ujar Bupati Rio.
Ia menjelaskan, narasi Anyer-Panarukan ini difungsikan sebagai "perahu besar" untuk memperkuat konektivitas infrastruktur, pariwisata, hingga pertumbuhan ekonomi desa-desa di sepanjang Jalan Raya Pos.
Selama ini, potensi ekonomi dan sejarah di sepanjang koridor Jalan Raya Pos sering kali berjalan sendiri-sendiri tanpa integrasi yang jelas. Menjawab tantangan tersebut, Pemkab Situbondo menyiapkan serangkaian program agar festival ini tidak berhenti sebagai ajang seremonial.
Langkah terdekat yang dilakukan adalah menggelar Ekspedisi Anyer-Panarukan. Tim dari Situbondo dan Serang akan menyusuri titik-titik bersejarah untuk memetakan potensi lokal yang bisa dikembangkan pada tahun mendatang, mulai dari desa wisata, desa digital, desa agrikultur, hingga sektor maritim.
Di tingkat lokal, Pemkab Situbondo juga membenahi infrastruktur bersejarah yang terlupakan. Salah satunya, merevitalisasi kawasan Kota Besuki untuk disulap menjadi pusat sejarah (heritage hub), serta menggelar ajang kebudayaan seperti Hari Raya Tembakau dan pesta rakyat.
"Di Situbondo sendiri, kami punya acara bagian dari rangkaian Anyer-Panarukan, seperti Hari Raya Tembakau. Ada pesta rakyat juga, dan memperbaiki infrastruktur yang sudah lama rusak, contohnya Kota Besuki kita perbaiki menjadi heritage hub," papar Rio.
Inisiatif proaktif dari Pemkab Situbondo ini pun mendapat sambutan dari Pemkab Serang sebagai titik awal Anyer, serta Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) yang melihat peluang besar bagi ribuan desa di sepanjang jalur untuk berkembang dan naik kelas.
Rio optimistis, kolaborasi lintas daerah ini dapat menjadi agenda tahunan yang berdampak langsung pada perekonomian warga, UMKM, dan keberlanjutan lingkungan.
"Intinya kita ingin ngajak bareng-bareng naik kelas besar bersama," pungkas Rio.
Festival Anyer-Panarukan menandai posisi Situbondo sebagai ujung dari jalur Panarukan menjadi penggerak utama dalam membangkitkan potensi ekonomi berbasis sejarah di Indonesia.
(rea/rir)