Asap Kiriman Sumsel-Kalimantan Selimuti Sumut, Kualitas Udara Memburuk

CNN Indonesia
Kamis, 15 Okt 2026 13:46 WIB
Ilustrasi. Kabut asap di Sumatera Utara mengganggu jarak pandang, berasal dari Sumatera Bagian Selatan dan Kalimantan. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera Utara (Sumut) semakin mengganggu jarak pandang.

Kabut asap ini disebut merupakan kiriman dari wilayah Sumatra bagian selatan (Sumbagsel) dan Pulau Kalimantan yang terbawa pergerakan angin atau massa udara.

"Berdasarkan pemantauan citra satelit sebaran asap di wilayah Sumatra pada 15 Oktober 2026 pukul 08.00 WIB, terdeteksi sebaran asap di wilayah Sumatera Utara, dari analisis angin permukaan, angin bertiup dari arah timur - tenggara menuju barat laut - utara," ujar Kepala BBMKG Wilayah I Medan, Hendro Nugroho, Kamis (15/10).

Hendro menyebutkan pergerakan angin tersebut mengindikasikan bahwa sebaran asap di wilayah Sumatera Utara berpotensi merupakan asap kiriman dari wilayah Sumatera Bagian Selatan dan Kalimantan yang terbawa oleh pergerakan massa udara.

"Namun demikian, penentuan sumber asal asap secara pasti memerlukan analisis lebih lanjut dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer dan data pendukung lainnya," urainya.

Sementara itu, tambah Hendro, berdasarkan pemantauan kondisi kualitas udara pada 15 Oktober 2026, kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera Utara berada dalam kategori sedang hingga tidak sehat.

"Hasil pengamatan Stasiun Meteorologi Kualanamu, Stasiun Meteorologi Aek Godang, dan Stasiun Meteorologi Silangit pada 15 Oktober 2026 pukul 09.00 WIB juga menunjukkan penurunan jarak pandang berkisar antara 1-3 km," jelasnya.

Oleh karena itu, masyarakat yang berada di wilayah dengan jarak pandang rendah akibat kabut dan asap diimbau untuk berhati-hati saat berkendara, mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, serta menyalakan lampu kendaraan sesuai kebutuhan.

"Masyarakat juga diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara memburuk dan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel asap," ujarnya.

Hendro menambahkan para kepala daerah diimbau untuk berkoordinasi dengan BPBD, TNI, dan Polri setempat dalam mengantisipasi dampak sebaran asap serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

"Masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi resmi yang disampaikan oleh Balai Besar Meteorologi Klimatologi Geofisika Wilayah I Medan," kata dia.

Sementara itu terkait indikasi karhutla di wilayah Sumut, Hendro mengatakan berdasarkan pemantauan citra satelit terdapat tiga titik panas (hotspot) dengan kategori sedang. Hotspot adalah citra satelit yang mengindikasikan terjadinya karhutla. 

Pada pengamatan pada Rabu (14/10), kata Hendro, hotspot kategori sedang di Sumut adalah di Labuhanbatu dan Tapanuli Selatan.

(fnr/kid)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK