Fenomena Lubang Api Bawah Tanah di Palangkaraya Kalteng, Ini Kata BNPB

CNN Indonesia
Kamis, 15 Okt 2026 14:06 WIB
Api berkobar saat terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan.
BNPB buka suara soal video viral yang memperlihatkan lubang api bawah tanah di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) buka suara soal video viral yang memperlihatkan lubang api bawah tanah di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Dalam video yang beredar di media sosial, tampak lubang api menganga berwarna merah di lahan yang terbakar. Selain itu, juga terlihat bara api yang tengah berusaha dipadamkan oleh para petugas di lapangan.

"Fenomena lubang api bawah tanah pada kebakaran lahan gambut di Kalimantan merupakan bentuk ground fire atau api bawah permukaan," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan saat dihubungi, Kamis (15/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berton menerangkan lahan gambut yang terbakar di lokaso karhutla itu tersusun atas tumpukan material organik tebal yang banyak mengandung gas metana. Kata dia, ketika terjadi kebakaran, area permukaan mungkin terlihat sudah padam, tetapi bara api di bawah tanah masih menyala.

"Saat lapisan organik di dalam tanah habis terbakar, struktur tanah di atasnya melesak dan membentuk rongga atau lubang yang mengeluarkan asap serta pijar api," ucap dia.

"Sifatnya yang tersembunyi dan minim radiasi panas tinggi di permukaan membuat api bawah tanah ini sulit terdeteksi oleh citra satelit pemantau hotspot biasa," sambungnya.

Disampaikan Berton, untuk menangani fenomena tersebut, upaya pemadaman dilakukan lewat pembasahan total (ground soaking) dengan teknik penyuntikan air (water injection) menembus kedalaman gambut menggunakan pipa bertekanan tinggi.

Bila memungkinkan, lanjut dia, langkah ini dikombinasikan dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BMKG dan TNI untuk memicu hujan buatan di titik-titik yang sulit dijangkau satgas darat.

Selain itu, Berton menyebut pengerjaan sumur bor serta penutupan sekat kanal juga terus dioptimalkan guna menjaga tinggi muka air tanah tetap basah.

"Membatasi akses masyarakat ke lokasi terdampak jadi penting karena struktur tanah yang tersisa sangat rapuh dan rawan ambles, sehingga berisiko membuat warga terperosok ke dalam rongga bara panas," ujarnya.

(dis/gil)
placeholder