Palembang Kembali Diselimuti Kabut Asap Tebal Minggu Pagi

CNN Indonesia
Minggu, 18 Okt 2026 08:35 WIB
Kota Palembang kembali diselimuti kabut asap tebal pada Minggu (18/10) pagi setelah sempat menipis pada Sabtu (17/10) siang.
Kota Palembang kembali diselimuti kabut asap tebal pada Minggu (18/10) pagi setelah sempat menipis pada Sabtu (17/10) siang. (CNN Indonesia/Hanif Khairandi)
Palembang, CNN Indonesia --

Kota Palembang kembali diselimuti kabut asap tebal pada Minggu (18/10) pagi setelah sempat menipis pada Sabtu (17/10) siang.

Asap pekat kembali mengepung pemukiman warga sejak Minggu (18/10) pukul 06.00 WIB. Di sejumlah ruas jalan, jarak pandang terbatas dan bau asap menyengat tercium hingga ke dalam rumah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi terparah terpantau di wilayah Gandus. Di Perumahan Albarian Gandus, asap tebal menyelimuti permukiman sejak dini hari dan bertahan hingga pagi hingga mengganggu aktivitas warga.

"Ya tebal, saat saya keluar rumah dan mau berjualan asap sangat tebal," kata Yana, salah satu warga yang tinggal di Perumahan Albarian Gandus, kepada CNNIndonesia.com, Minggu (18/10). "Mata perih dan sesak napas."

"Padahal kemarin sudah sedikit berkurang. Kemarin kabut menipis tapi pagi ini sangat tebal," kata warga yang lain, Yudi, seraya menambahkan jarak pandang di wilayahnya hanya sekitar 100 meter akibat tertutup kabut asap.

Berdasarkan data live yang dipantau pada Minggu dini hari hingga pagi, wilayah Gandus mencatat Air Quality Index (AQI) 163 kategori tidak sehat dengan kondisi smoke.

Suhu 27 derajat Celsius, kelembapan 83 persen, dan kecepatan angin hanya 2 km per jam membuat asap cenderung mengendap dan tidak bergerak.

Kota Palembang kembali diselimuti kabut asap tebal pada Minggu (18/10) pagi setelah sempat menipis pada Sabtu (17/10) siang.Asap pekat kembali mengepung pemukiman warga sejak Minggu (18/10) pukul 06.00 WIB. Di sejumlah ruas jalan, jarak pandang terbatas dan bau asap menyengat tercium hingga ke dalam rumah. Foto: (CNN Indonesia/Hanif Khairandi)

Sementara itu, data pemantauan kota Palembang secara umum mencatat AQI 149 kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif dengan polutan utama PM2.5.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya melakukan uji coba penyemaian 2,4 ton dry ice untuk mengurai kabut asap dan meningkatkan jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II dari 1.000 meter menjadi 2.800 meter.

Namun, kondisi pagi ini yang menunjukkan asap kembali menebal membuat warga mempertanyakan efektivitas Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang telah dilakukan pemerintah.

"Padahal pemerintah sudah melakukan uji coba dry ice kenapa masih tebal. Habisin uang saja," kata Yudi.

Asap yang menyelimuti Palembang diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan wilayah sekitarnya.

Pergerakan asap yang terbawa angin serta tingginya kelembapan di pagi hari membuat konsentrasi polutan meningkat.

BMKG memprediksi pada Minggu (18/10) siang suhu Palembang akan mencapai 36 derajat Celsius dengan terasa 41 derajat Celsius dan potensi hujan 11 persen.

Warga diimbau untuk tetap menggunakan masker, mengurangi aktivitas di luar ruangan, dan segera memeriksakan diri jika mengalami gangguan pernapasan.

(hnf/end)
placeholder