Gubernur Luthfi Salurkan Beasiswa ke 424 Mahasantri dan 58 Santri

Pemprov Jateng | CNN Indonesia
Senin, 19 Okt 2026 19:43 WIB
Foto: arsip Pemprov Jateng
Jakarta, CNN Indonesia --

Menjelang peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyalurkan beasiswa kepada 424 mahasantri dan 58 santri penggerak di wilayahnya. Bantuan tersebut merupakan bagian dari program Pesantren Obah yang digagas bersama Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen.

Penyerahan beasiswa sekaligus pembekalan penerima program Ma'had Aly dan Santri Penggerak 2026 itu berlangsung di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Senin (19/10).

"Hari ini kita serahkan beasiswa terkait program Pesantren Obah. Di antaranya beasiswa Ma'had Aly untuk santri yang kuliah di pesantren serta beasiswa santri penggerak yang aktif dan tinggal di pesantren," kata Luthfi.

Menurut Luthfi, santri memiliki pemahaman mendalam mengenai kehidupan pesantren, mulai dari kearifan lokal hingga metodologi pengajaran. Mahasantri yang menempuh pendidikan tinggi juga dinilai memiliki bekal untuk memahami tradisi keilmuan pesantren sekaligus dunia perguruan tinggi.

"Santri adalah garda terdepan, tidak hanya ilmu dunia dan akhirat tetapi juga menjaga NKRI dari degradasi moral generasi muda," katanya.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan, program beasiswa tersebut tidak hanya bertujuan membantu pembiayaan pendidikan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga ingin membuka ruang kolaborasi antara mahasiswa perguruan tinggi umum dan mahasantri yang menempuh pendidikan tinggi berbasis pesantren.

Salah satu rencana yang disiapkan adalah menggabungkan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa perguruan tinggi umum dengan mahasantri Ma'had Aly. Melalui kolaborasi tersebut, para peserta diharapkan dapat bertemu di lokasi pengabdian, bertukar pandangan, dan bersama-sama mengidentifikasi kebutuhan masyarakat.

"Kami ingin memadukan, ingin mengajak kolaborasi. Nanti KKN dari kampus umum dan KKN dari Ma'had Aly bisa kita gabungkan. Mungkin nanti satu bertemu di daerah yang dibutuhkan, mereka bisa berdiskusi di sana," ujarnya.

Taj Yasin menambahkan, seleksi penerima beasiswa turut mempertimbangkan kondisi ekonomi dan capaian akademik. Pertimbangan tersebut diharapkan membuat bantuan menjangkau mahasiswa yang membutuhkan sekaligus membantu mereka menyelesaikan pendidikan.

Manfaat program itu dirasakan Alaika Hilma, mahasantri semester enam Ma'had Aly Yanbu'ul Qur'an (MAYQ) Kudus, yang mengambil jurusan Ulumul Qur'an di Fakultas Ushuluddin.

Sebelum memperoleh beasiswa, Alaika harus menjalani pekerjaan lepas atau freelance untuk membantu memenuhi kebutuhan biaya kuliah. Bantuan dari Pemprov Jawa Tengah kini membuatnya dapat mengurangi beban biaya pendidikan dan lebih berkonsentrasi pada perkuliahan.

"Dengan adanya program ini saya sangat-sangat terbantu dari permasalahan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT). Belajar juga makin fokus dan perkuliahan lebih maksimal lagi," ujarnya.

Alaika mengatakan proses pengajuan beasiswa di Ma'had Aly Yanbu'ul Qur'an berjalan lancar berkat bantuan pihak lembaga dalam pengurusan berkas. Dari institusi tersebut, sebanyak 13 mahasantri dinyatakan lolos sebagai penerima bantuan.

Pengalaman serupa juga dirasakan Silvi Dyah Oktaviani, mahasiswa semester lima UIN Sunan Kudus asal Demak. Selain mengikuti perkuliahan, Silvi tinggal di Pondok Pesantren Bustanul Furqon Asy-Syafi'iyyah, Kudus, yang menjadi tempat tinggal mahasiswa sekaligus lingkungan untuk mendalami ilmu agama.

Aktivitas Silvi berlangsung sejak kegiatan akademik di kampus hingga kegiatan pesantren. Ia juga aktif dalam organisasi kampus dan mengikuti kegiatan mengaji selepas Magrib hingga sekitar pukul 21.00 WIB.

Di tengah kesibukan tersebut, biaya pendidikan dan kebutuhan sehari-hari menjadi hal yang perlu diperhitungkan. Selama ini, Silvi masih mengandalkan bantuan orang tua untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kondisi itu mendorongnya mencari beasiswa untuk mendukung keberlanjutan pendidikan.

"Saya memang lagi cari beasiswa buat pendukung pendidikan saya agar lebih semangat. Kebetulan saya juga berada di pondok pesantren," kata Silvi.

Ia menilai program Santri Penggerak menjadi peluang bagi mahasiswa yang menjalani pendidikan di perguruan tinggi sekaligus menimba ilmu di pesantren. Selain membantu dari sisi finansial, program tersebut dinilai dapat meningkatkan semangat belajar para santri.

"Menurut saya ini merupakan terobosan baru agar santri-santri sekaligus mahasiswa lebih semangat dalam belajar, menimba ilmu di universitas masing-masing ataupun di Ma'had Aly. Secara keuangan sangat membantu," ujarnya.

Dalam program tersebut, setiap penerima memperoleh bantuan biaya pendidikan sebesar Rp1 juta per semester selama enam semester.

Bantuan ini diharapkan dapat meringankan biaya pendidikan mahasiswa dan mahasantri, mendukung kelanjutan studi, serta membuka kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan akademik dan berkontribusi lebih luas kepada masyarakat.

(ory/ory)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK