Asap Karhutla Selimuti Jembatan Ampera, Penarik Becak Merana

CNN Indonesia
Selasa, 20 Okt 2026 11:10 WIB
Ikon kebanggaan Kota Palembang, Jembatan Ampera, hilang ditelan kabut asap tebal pada Selasa (20/10/2026) pagi. Jarak pandang di pusat kota hanya 20 meter.Kabut putih pekat berbau sangit menyelimuti Sungai Musi. Langit putih, mata perih, dan napas se
Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (20/10). Jembatan Ampera, bahkan hilang ditelan asap yang semakin pekat. (CNN Indonesia/ Hanif Khairandi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (20/10). Jembatan Ampera, bahkan hilang ditelan asap yang semakin pekat.

Jarak pandang di pusat kota hanya 20 meter. Asap pekat berbau sangit itu juga menutupi Sungai Musi. Mata perih dan napas sesak dirasakan warga sejak pagi.

Kondisi ini dirasakan Horijon (54), penarik becak yang sudah 20 tahun mangkal di bawah Jembatan Ampera. Horijon mengaku kian sulit menarik penumpang selama asap membekap Palembang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kabut asap ini sangat pekat Pak, tarikan sepi, orang takut keluar rumah. Sehari cuma dapat 15 ribu, kadang pulang tanpa bawa uang buat anak di rumah," ujar Horijon.

Biasanya, Horijon bisa membawa pulang Rp100 ribu per hari untuk makan keluarga. Namun sejak kabut asap pekat seminggu terakhir, untuk mendapat Rp15 ribu kian susah.

Horijon bukan satu-satunya. Ribuan warga Palembang kini bertahan di tengah kabut asap dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang dilaporkan tembus di atas 500 atau kategori berbahaya.

"Anak sekolah libur oleh kabut asap," kata Horijon.

Warga menilai operasi modifikasi cuaca dengan menebar dry ice yang dilakukan pemerintah hanya menghilangkan kabut sehari, lalu kabut datang lagi lebih pekat.

"Warga seperti kena prank. Sudah ditebar dry ice, hilang sehari, besoknya lebih tebal lagi," kata seorang warga.

(hnf/fra)
placeholder