Hujan lebat mulai mengguyur sejumlah kawasan di Kota Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (24/10).
Curah hujan itu disambut suka cita oleh masyarakat setelah lebih dari tiga bulan dilanda musim kemarau panjang.
"Alhamdulillah, hari ini hujan mulai turun setelah beberapa bulan Kota Palembang dilanda kekeringan dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla)," kata Fudin, salah seorang warga Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1, Kota Palembang, mengutip dari Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, hujan lebat yang mengguyur Kota Palembang sekitar pukul 15.30 WIB tersebut membawa berkah bagi masyarakat, terutama mereka yang mengalami kesulitan air bersih dan kebakaran lahan yang marak terjadi di daerah itu akibat kemarau panjang.
"Akibat kemarau panjang berdampak pada kabut asap kebakaran lahan yang menyelimuti Kota Palembang selama beberapa bulan terakhir hingga mengganggu kesehatan masyarakat di wilayah itu," kata Fudin.
Hal senada dikatakan Yuli, warga Lorong Sepakat, Kelurahan 8 Ulu Palembang.
Yuli mengaku selama kemarau masyarakat setempat kesulitan mendapat air bersih untuk kebutuhan sehari-hari sehingga terpaksa membeli air dengan harga yang cukup mahal.
"Dengan turunnya hujan hari ini kami sangat senang karena tidak lagi harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari selama beberapa hari ke depan," ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Siswanto, menjelaskan potensi pertumbuhan awan hujan memang telah terdeteksi berdasarkan pengamatan radiosonde atau profil atmosfer oleh BMKG Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang pada Sabtu (24/10) pukul 07.00 WIB.
Kondisi ini dipicu dinamika pergerakan angin vertikal yang berhasil memecah lapisan inversi, sebuah lapisan atmosfer penghambat yang selama ini mengunci polutan asap di dekat permukaan tanah.
Selain itu, potensi hujan ini juga didorong oleh percepatan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara hybrid yang dilancarkan tim gabungan, termasuk dengan menyebar material dry ice (karbon dioksida padat) secara intensif di udara guna mengurai gumpalan kabut asap karhutla Sumsel.
"Hujan di Palembang dan sekitarnya hari ini dapat kami sampaikan bahwa secara dinamika atmosfer memang mendukung pembentukan awan hujan dan ditambah dampak dari OMC dengan bahan semai NaCl. Memang secara data model pada 24 Oktober 2026 diprakirakan akan ada potensi pertumbuhan awan hujan sehingga tim memaksimalkan dengan OMC," ujarnya dikutip dari Antara, Sabtu ini.
Hujan pertama setelah kemarau panjang
Sebelumnya, Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan menerbitkan prediksi wilayah provinsi itu mulai mengalami hujan pada 24-2 Oktober 2026.
"Sumatera Selatan diprediksi mulai mengalami hujan pada 24-26 Oktober 2026, setelah kemarau panjang lebih dari empat bulan. Beberapa wilayah bahkan tercatat mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 100 hari," demikian siaran pers yang diterima wartawan, Sabtu ini.
Namun, warga diminta memilah informasi terkait dampak curah hujan pertama pada kesehatan setelah berbulan-bulan kemarau dan dibekap asap karhutla.
"Apakah hujan pertama berbahaya? Tidak. Hujan pertama setelah kemarau panjang tidak otomatis berbahaya," demikian dikutip dari siaran pers itu.
"Namun, selama kemarau, debu, partikulat, dan polutan dari pembakaran, termasuk asap kebakaran hutan dan lahan, dapat terakumulasi di atmosfer. Ketika hujan turun, sebagian partikel tersebut dapat terbawa bersama air hujan ke permukaan," sambungnya.
Stasiun Klimatologi itu juga menjelaskan air hujan juga secara alami sedikit asam akibat interaksi dengan karbon dioksida di atmosfer.
"Tingkat keasaman dan kandungan pencemarnya bergantung pada kondisi lingkungan dan kualitas udara setempat," katanya.
Atas dasar itu, Stasiun Klimatologi Kelas 1 Sumsel memberikan kiat langkah bijak menghadapi hujan pertama:
- Hindari kontak langsung secara berlebihan jika hujan turun di wilayah yang terdampak asap atau pencemaran.
- Jika terkena air hujan, cukup bilas kulit dengan air bersih apabila diperlukan.
- Jangan langsung menggunakan air hujan untuk minum atau memasak tanpa pengolahan yang sesuai.
- Pantau informasi kualitas udara dan cuaca dari sumber resmi BMKG serta instansi terkait.
"Tidak perlu takut terhadap hujan pertama. Tetap beraktivitas secara wajar, terapkan kebersihan, dan tingkatkan kewaspadaan sesuai kondisi lingkungan setempat," demikian pesan mereka.
(antara/kid)