Bulog Siap Jadi Penyangga Ekosistem Jagung, Lindungi Petani & Peternak

Advertorial | CNN Indonesia
Jumat, 30 Okt 2026 12:48 WIB
Bulog Siap Jadi Penyangga Ekosistem Jagung, Lindungi Petani & Peternak
Foto: Arsip Bulog.
Jakarta, CNN Indonesia --

Perum Bulog siap mengambil peran sebagai penyangga pasokan jagung nasional untuk melindungi petani sekaligus menjaga keberlangsungan usaha peternak ayam petelur.

Langkah ini dilakukan melalui penguatan kemitraan antara petani, koperasi, dan peternak agar hasil panen memiliki kepastian pasar, sementara kebutuhan jagung untuk pakan dapat terpenuhi dengan harga terjangkau.

Komitmen tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Stabilisasi Ketersediaan Jagung Pakan bagi Peternak Layer melalui Kemitraan dengan Petani Penerima Bantuan Benih Jagung di Kementerian Pertanian RI, Senin (27/10). Rapat itu dihadiri Direktur Utama Perum Bulog Letjen TNI (Purn.) Ahmad Rizal Ramdhani beserta jajaran direksi Bulog.

Pemerintah mendorong pembentukan ekosistem kemitraan berbasis koperasi yang menghubungkan petani sebagai produsen jagung dengan peternak sebagai pengguna bahan baku pakan. Melalui skema ini, rantai pasok diharapkan lebih terencana sehingga kepentingan petani dan peternak dapat berjalan beriringan.

Pengembangan lahan jagung ditargetkan mencapai 300 ribu hektare dengan asumsi produktivitas rata-rata tujuh ton per hektare. Dengan demikian, potensi produksi jagung diperkirakan mencapai 2,1 juta ton per tahun.

Dari total produksi tersebut, sekitar 1,8 juta ton diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan pakan peternak melalui koperasi dan kelompok peternak. Sementara itu, potensi kelebihan produksi sekitar 300 ribu ton akan diantisipasi melalui peran Bulog sebagai offtaker atau pembeli siaga yang menyerap surplus hasil panen petani.

Jagung yang diserap selanjutnya dapat dikelola sebagai cadangan melalui skema sistem resi gudang. Cadangan tersebut akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan peternak ketika pasokan mulai terbatas, termasuk melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Skema ini diharapkan mampu menekan risiko anjloknya harga jagung ketika panen melimpah sekaligus menjaga ketersediaan bahan baku pakan sepanjang tahun.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pembangunan ekosistem jagung nasional harus mengutamakan kepentingan petani dan peternak secara bersamaan. Menurutnya, kepastian pasar bagi petani dan keterjangkauan harga jagung bagi peternak merupakan dua hal yang saling berkaitan.

Amran mengatakan, pemerintah ingin petani jagung dan peternak Indonesia tumbuh bersama dalam satu ekosistem yang kuat. Menurutnya, petani harus memiliki kepastian pasar dan memperoleh harga yang layak, sementara peternak harus mendapatkan jaminan pasokan jagung dengan harga terjangkau.

"Melalui koperasi, kita satukan kekuatan dari hulu hingga hilir agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh petani dan peternak Indonesia.

Amran juga menekankan pentingnya peran Bulog dalam menjaga keseimbangan pasokan dan harga jagung, terutama saat produksi meningkat atau kebutuhan pakan bertambah.

Amran menyebut, ketika produksi jagung melimpah, hasil panen petani harus tetap memiliki pasar. Di sinilah Bulog disiapkan sebagai penyangga yang dapat menyerap kelebihan produksi, mengelola cadangannya, dan menyalurkannya kembali ketika peternak membutuhkan.

"Kita dahulukan kepentingan petani dan peternak Indonesia agar keduanya terlindungi dan usaha mereka terus berjalan," ujar Amran.

Dirut Bulog Ahmad Rizal menyatakan pihaknya siap mendukung penguatan ekosistem jagung nasional melalui mekanisme pengadaan, pengelolaan stok, dan distribusi yang terintegrasi.

"Bulog siap menjalankan peran sebagai penyangga pasokan jagung nasional sesuai penugasan pemerintah. Kami ingin memastikan bahwa ketika petani menghasilkan produksi yang melimpah, ada mekanisme penyerapan yang memberikan kepastian pasar," ujar Rizal.

"Pada saat yang sama, ketika peternak membutuhkan jagung untuk menjaga keberlangsungan produksinya, Bulog dapat hadir menyediakan pasokan melalui skema stabilisasi yang tepat sasaran," jelas Ahmad Rizal.

Ia menambahkan, tugas Bulog tidak hanya mencakup penyerapan hasil panen, tetapi juga pengelolaan cadangan jagung agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung keberlangsungan usaha peternakan rakyat.

"Yang ingin kita bangun adalah sistem yang saling menguatkan. Jagung hasil produksi petani dalam negeri diserap dan dikelola dengan baik, kemudian dimanfaatkan kembali untuk memenuhi kebutuhan peternak melalui SPHP sesuai ketentuan pemerintah," katanya.

"Dengan begitu, petani mendapatkan kepastian penyerapan, peternak memperoleh akses pakan yang lebih terjangkau, dan stabilitas pasokan dapat terus kita jaga," ujar Rizal.

Penguatan ekosistem tersebut juga akan diperluas hingga ke hilirisasi produk peternakan, khususnya telur. Produksi telur dari peternak mikro dan kecil diharapkan terserap melalui pasar reguler, pemenuhan kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pengembangan industri pengolahan telur.

Dalam rancangan yang dibahas, sekitar 1,9 juta ton telur diproyeksikan terserap melalui pasar reguler, termasuk untuk mendukung kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan masyarakat.

Pemerintah juga mendorong pengembangan industri pengolahan telur menjadi produk cair dan tepung telur untuk memperluas pasar domestik sekaligus membuka peluang ekspor.

Untuk merealisasikan rencana tersebut, Bulog akan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian, koperasi peternak, kelompok tani, dan pemangku kepentingan terkait. Koordinasi mencakup pematangan mekanisme penyerapan surplus jagung, pengelolaan cadangan melalui fasilitas pergudangan, serta distribusi sesuai kebutuhan di lapangan.

Sinergi antarpihak dinilai penting agar peningkatan produksi jagung dalam negeri diikuti tata niaga yang lebih terarah dan efisien. Dengan begitu, hasil produksi tidak hanya tersedia dalam jumlah memadai, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi seluruh pelaku usaha di sepanjang rantai pasok.

Melalui peran sebagai penyangga jagung nasional, Bulog diharapkan dapat menjaga keseimbangan kepentingan petani sebagai produsen dan peternak sebagai pengguna jagung pakan. Integrasi produksi, penyerapan, penyimpanan, distribusi, hingga hilirisasi diharapkan menjadi fondasi bagi sistem pangan nasional yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Pengutamaan hasil produksi dalam negeri serta perlindungan terhadap keberlangsungan usaha petani dan peternak rakyat menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

(adv/adv)
LIHAT SELENGKAPNYA