BPS: Industri Pengolahan Dongkrak Ekspor Nonmigas RI 12,39 Persen

Advertorial | CNN Indonesia
Selasa, 03 Nov 2026 12:08 WIB
BPS: Industri Pengolahan Dongkrak Ekspor Nonmigas RI 12,39 Persen
Foto: CNN Indonesia/Dela Naufalia Fitriyani
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor nonmigas Indonesia mencapai US$26,64 miliar pada September 2026. Angka tersebut tumbuh 12,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy). Peningkatan ini terutama ditopang oleh kinerja sektor industri pengolahan.

Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan industri pengolahan menjadi kontributor utama pertumbuhan ekspor nonmigas pada September 2026. Nilai ekspor sektor tersebut tercatat sebesar US$23,27 miliar, naik dibandingkan September 2025 yang mencapai US$19,93 miliar.

Amalia menjelaskan, peningkatan ekspor nonmigas pada September 2026 terutama didorong oleh sektor industri pengolahan. Nilai ekspor sektor ini tumbuh 16,78 persen dibandingkan September tahun lalu.

"Kenaikan tersebut memberikan andil kenaikan sebesar 13,56 persen terhadap kenaikan total ekspor," jelas Amalia.

Menurut Amalia, sejumlah komoditas dari sektor industri pengolahan juga mencatatkan lonjakan nilai ekspor yang signifikan. Salah satunya minyak kelapa sawit yang nilai ekspornya mencapai US$3,82 miliar pada September 2026, atau melonjak 110,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Amalia mengatakan, beberapa komoditas mencatat pertumbuhan yang impresif. Ekspor minyak kelapa sawit pada September 2026 mencapai US$3,82 miliar, meningkat 110,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Ekspor tembaga naik 184,98 persen menjadi US$606,37 juta, sedangkan produk olahan nikel meningkat 32,98 persen menjadi US$1,15 miliar," tuturnya.

Selain minyak kelapa sawit, tembaga, dan produk olahan nikel, kenaikan ekspor juga terjadi pada sejumlah komoditas lain. Di antaranya aluminium, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, serta kimia dasar anorganik lainnya.

Secara kumulatif, ekspor sektor industri pengolahan selama Januari-September 2026 tumbuh 8,93 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi negara tujuan, Tiongkok masih menjadi pasar terbesar bagi ekspor nonmigas Indonesia. Sepanjang Januari-September 2026, nilai ekspor nonmigas ke Negeri Tirai Bambu tersebut mencapai US$54,17 miliar.

Posisi berikutnya ditempati Amerika Serikat dengan nilai ekspor US$25,39 miliar, disusul India sebesar US$15 miliar.

Khusus pada September 2026, ekspor nonmigas Indonesia ke India mencapai US$2,23 miliar. Nilai tersebut meningkat 55,65 persen dibandingkan September 2025. Lonjakan ini terutama didorong oleh peningkatan ekspor komoditas lemak dan minyak hewani maupun nabati.

BPS mencatat nilai ekspor komoditas tersebut ke India melonjak dari US$112,41 juta pada September 2025 menjadi US$629,92 juta pada September 2026. Pertumbuhannya mencapai 460,36 persen.

Selain itu, ekspor bahan bakar mineral ke India meningkat dari US$431,55 juta menjadi US$631,23 juta. Ekspor mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya juga melonjak 350,97 persen menjadi US$184 juta.

Sementara itu, ekspor besi dan baja ke India tumbuh 72,32 persen menjadi US$231,88 juta.

"Peningkatan ekspor ke India terutama didorong oleh kenaikan ekspor lemak dan minyak hewani/nabati. Selain itu, ekspor bahan bakar mineral, mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, serta besi dan baja juga mencatatkan peningkatan yang sangat tinggi," jelas Amalia.

Secara keseluruhan, nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-September 2026 mencapai US$221,23 miliar. Capaian tersebut meningkat 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski demikian, tidak semua sektor mencatatkan pertumbuhan positif. Ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami penurunan sebesar 18,42 persen. Adapun ekspor sektor pertambangan dan lainnya terkoreksi 5,46 persen.

(adv/adv)
LIHAT SELENGKAPNYA