Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan 3-2026 yang mencapai 5,47 persen (y-on-y) pada Kamis (5/11).
Pengeluaran konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber utama pertumbuhan, yang menyumbang hingga 2,62 persen poin terhadap total pertumbuhan nasional.
Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, menyampaikan bahwa pada Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan III 2026 sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih tumbuh di atas lima persen. Meski sedikit melambat dari triwulan sebelumnya, pertumbuhan ini lebih tinggi dibanding triwulan III 2025 sebesar 4,89 persen.
"Komponen konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar bagi PDB. Sepanjang triwulan 3-2026, komponen ini terjaga dengan baik, tecermin melalui pertumbuhan positif 5,04 persen dibanding triwulan 3 tahun lalu," tutur Amalia di Jakarta, Kamis (5/11).
Subkomponen pengeluaran untuk kelompok restoran dan hotel mencatatkan pertumbuhan tertinggi yang mencapai 6,59 persen (year-on-year/YoY), disusul transportasi dan komunikasi (5,83 persen) serta kesehatan dan pendidikan (5,26 persen).
Laju pertumbuhan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga secara tahunan pun menunjukkan pergerakan yang cenderung stabil di kisaran 5 persen.
Setelah mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,89 persen pada triwulan III 2025, angka ini menguat menjadi 5,06 persen pada triwulan II 2026, sebelum akhirnya mengalami sedikit penyesuaian ke level 5,04 persen pada triwulan III 2026.
Berdasarkan komponen pengeluaran, sektor Restoran dan Hotel konsisten menjadi pendorong utama pertumbuhan tertinggi sepanjang periode tersebut. Komponen ini menunjukkan tren penguatan dari 6,43 persen pada triwulan III 2025, naik ke 6,47 persen di triwulan II 2026, dan mencapai puncaknya di 6,59 persen pada triwulan III 2026.
Sebaliknya, penurunan laju pertumbuhan tercatat pada sektor Pakaian, Alas Kaki dan Jasa Perawatannya yang melambat secara berturut-turut dari 3,87 persen, turun ke 3,52 persen, hingga menyentuh 3,48 persen pada triwulan III 2026.
Komponen Kesehatan dan Pendidikan mencatatkan tren tren penguatan (uptrend) paling positif secara bertahap, melesat dari 4,15 persen pada triwulan III 2025 menjadi 5,06 persen di triwulan II 2026, dan berlanjut naik hingga 5,26 persen pada triwulan III 2026.
Sementara itu, sektor Perumahan dan Perlengkapan Rumah Tangga melompat signifikan dari 3,73 persen pada triwulan III 2025 ke 5,10 persen di triwulan II 2026, sebelum melaju relatif stabil di angka 5,07 persen pada triwulan III 2026.
Beberapa komponen lainnya menunjukkan fluktuasi yang moderat seperti Makanan dan Minuman, Selain Restoran yang sempat naik dari 4,14 persen di triwulan III 2025 ke 4,25 persen di triwulan II 2026, lalu kembali melambat ke 4,15 persen pada triwulan III 2026.
Komponen Transportasi dan Komunikasi mengalami koreksi dari 6,39 persen di triwulan III 2025 menjadi 5,79 persen pada triwulan II 2026, tetapi merangkak naik ke 5,83 persen pada triwulan III 2026.
Komponen Lainnya menguat dari 4,84 persen pada triwulan III 2025 ke 5,66 persen di triwulan II 2026, sebelum mendingin ke posisi 5,20 persen pada triwulan III 2026.
Menurut Amalia, kondisi ini sejalan dengan kinerja positif sektor pariwisata yang menunjukkan peningkatan jumlah perjalanan wisatawan nusantara, seiring pertambahan keberangkatan penumpang pada sejumlah moda transportasi.
Pada triwulan III 2026, terdapat banyak event rekreasi, olahraga serta konser musik dan budaya yang mendorong aktivitas pariwisata dan mobilitas masyarakat.
"Ya, salah satunya tecermin dari perjalanan wisatawan nusantara atau wisnus selama bulan Juli hingga September 2026 yang mencapai 308,43 juta perjalanan atau naik 7,05 persen dari periode yang sama tahun lalu. (Kenaikan) ini juga diiringi peningkatan jumlah keberangkatan penumpang, melalui angkutan kereta misalnya yang tumbuh 5,88 persen. Kemudian, angkutan penyeberangan dan angkutan laut domestik juga masing-masing tumbuh 10,36 persen dan 6,67 persen," tutur Amalia.
Kondisi ini turut dicerminkan oleh perkembangan beberapa indikator. Dihimpun dari data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan wholesale jenis sepeda motor tumbuh 8,92 persen sepanjang triwulan III 2026.
Tidak hanya itu, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), penjualan wholesale jenis mobil penumpang naik hingga 25,95 persen.
Pada sisi lain, nilai transaksi belanja menggunakan uang elektronik, turut mencatat pertumbuhan positif. Perkembangan teknologi dan digitalisasi telah memudahkan dan mendorong masyarakat untuk melakukan transaksi keuangan tanpa menggunakan uang tunai, kartu debit dan kartu kredit.
Sebagai contoh, penggunaan ATM saat ini telah memungkinkan transaksi tanpa menggunakan kartu (cardless). Selain itu, pergeseran pola konsumsi dan transaksi masyarakat, mendorong peningkatan nilai transaksi barang dan jasa secara online berdasarkan penyampaian data Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE).
Kemudian, volume penjualan listrik PLN ke rumah tangga serta penjualan eceran riil juga dilaporkan mengalami peningkatan.
Kinerja positif konsumsi rumah tangga sepanjang triwulan III 2026 telah menopang perekonomian nasional hingga mencatatkan pertumbuhan tertinggi secara tahunan sejak tahun 2023. Secara kumulatif, ekonomi Indonesia dilaporkan tumbuh sebesar 5,45 persen (cumulative-to-cumulative) hingga triwulan III tahun ini.
(adv/adv)