Poin-poin Kesaksian Jokowi hingga Pamer Ijazah di Sidang Roy Suryo

CNN Indonesia
Kamis, 05 Nov 2026 16:31 WIB
Dalam sidang Roy Suryo, Jokowi yang hadir sebagai saksi tampil menunjukkan ijazah SD-UGM dan membantah tuduhan ijazah palsu.
Dalam sidang Roy Suryo, Jokowi yang hadir sebagai saksi tampil menunjukkan ijazah SD-UGM dan membantah tuduhan ijazah palsu. (CNN Indonesia/Adi ibrahim)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden ketujuh RI Joko Widodo (Jokowi) menunjukkan ijazah dari Sekolah Dasar (SD) hingga Strata 1 (S1) dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam sidang tuduhan ijazah palsu oleh Roy Suryo yang digelar Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (5/11).

Dalam persidangan ini, Jokowi hadir sebagai saksi.

Dalam ruang sidang itu, ayah dari Wapres RI Gibran Rakabuming Raka itu mengungkapkan proses pembuatan skripsi hingga memamerkan ijazahnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut poin-poin kesaksian Jokowi yang menunjukkan ijazahnya di sidang Roy Suryo:

Pengajuan judul skripsi

Dalam kesaksiannya, Jokowi menjelaskan proses dia mengajukan judul skripsi sebagai syarat kelulusan dari UGM.

Menurutnya, pengusulan judul itu tak serta merta lancar di pengajuan yang pertama.

Jokowi mengaku butuh revisi tiga kali saat mengajukan proposal judul skripsi.

"Yang Mulia, dalam hal skripsi saya ingin menyampaikan bahwa skripsi ini kami buat dengan mengajukan proposal judul sampai tiga kali kepada dosen pembimbing skripsi saya, yaitu Prof Dr Ir Achmad Soemitro," ujar Jokowi dalam persidangan.

Dia lalu menjelaskan judul skripsi yang akhirnya disetujui dosen pembimbing yakni 'Studi tentang Pola Konsumsi Kayu Lapis pada Pemakaian Akhir di Kotamadya Surakarta'.

Sidang skripsi dan nilai

Jokowi mengungkapkan sidang akhir skrisp yang dijalani berlangsung pada 23 Oktober 1985. Saat itu, dia diuji Ir Sofyan Warsito dan Ir P Burhanuddin dan meraih nilai A.

"Saya dinyatakan lulus dengan nilai A," ucap dia.

Jenis huruf di karya skripsi

Setelah melakukan revisi, Jokowi mencetak skripsi termasuk cover dan lembar pengesahan di Percetakan Perdana. Lalu, halaman yang lain diketik manual.

"Kalau dikatakan bahwa covernya pakai Times New Roman yang itu belum ada di tahun 1985, nyatanya ribuan skripsi yang dicetak di Percetakan Perdana itu semuanya juga seperti itu dan bisa," ujar Jokowi.

"Bukan hanya skripsi saya saja, Yang Mulia," tegasnya.

Pernyataan itu sekaligus membantah tudingan Roy Suryo Cs yang menyebut pada 1985, belum ada font Times New Roman, sehingga ijazah tersebut diduga palsu.

Tanggal wisuda

Dalam persidangan itu, Jokowi juga mengungkapkan turut menghadiri wisuda UGM sebagai simbol kelulusan pada November 1985.

"Wisuda kami ikuti bersama-sama dengan seluruh fakultas di UGM pada tanggal 19 November 1985 di Gedung Purna Budaya Bulaksumur, Yogyakarta," kata Jokowi menjawab pertanyaan jaksa.

Jokowi juga membeberkan dari Fakultas Kehutanan UGM, saat itu, ada 14 orang lulusan yang menjalani wisuda, termasuk dirinya.

[Gambas:Video CNN]

Penerbitan ijazah

Dalam sidang tersebut, jaksa kemudian bertanya ke Jokowi kapan UGM menyerahkan ijazah kepada dirinya.

"Saudara saksi, ijazah yang tadi sama-sama sudah kita saksikan di depan, itu diserahkan oleh pihak UGM kepada saksi kapan?" tanya jaksa.

Jokowi menjawab ijazah sarjana miliknya diterbitkan pada 5 November 1985 dengan nomor register 11 1120.

"Ijazah diterbitkan tanggal 5 November 1985 dengan nomor register 11 1120 ditandatangani oleh Rektor UGM saat itu yaitu Profesor Dr. dr. Te Jacob dan oleh Dekan Fakultas Kehutanan saat itu adalah Bapak Profesor Doktor Soenardi Prawirohatmodjo," ujar dia.

Tunjukkan Ijazah SD hingga S1

Di sidang tersebut, Jokowi juga meminta izin kepada hakim untuk menunjukkan ijazah-ijazahnya dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga strata satu.

"Kalau diperkenankan saya mau menunjukan kepada pengunjung juga, Yang Mulia," kata Jokowi.

Hakim sempat meminta Jokowi untuk menunjukkan ijazah di momen lain. Namun, dia memohon agar bisa menunjukkan secara langsung.

"Karena saya sudah berjanji untuk menunjukkan ijazah dari SD, SMP, SMA, dan ijazah S1 saya. Mohon, Yang Mulia," kata Jokowi.

Jokowi lalu menghadap ke arah pengunjung sidang dan menunjukkan beberapa ijazahnya. Pengunjung pun riuh.

"Sudah, cukup," kata hakim.

Dari penjelasannya, Jokowi bersekolah di SD Negeri Nomor 111 Kota Surakarta, lanjut SMP Negeri 1 Kota Surakarta, lalu ke SMA Negeri 6 Kota Surakarta dan lanjut S1 di Fakultas Kehutanan UGM.

Tawa Roy Suryo

Roy Suryo tertawa saat Jokowi menunjukkan sejumlah ijazah usai meminta izin dari hakim.

Saat mengambil ijazah dan menunjukkan ke hakim Roy Suryo ikut mendekat. Dia kemudian tampak tertawa.

Jokowi soal ijazah dituding palsu

Jokowi menyampaikan keheranan sekaligus keberatannya soal tuduhan ijazah palsu terhadap dirinya.

Dalam sidang ini, mulanya jaksa menampilkan sejumlah video yang menjadi barang bukti atas tudingan ijazah palsu di persidangan.

Jaksa bertanya apakah Jokowi keberatan dengan pernyataan Roy Suryo dalam video bukti yang ditampilkan.

"Keberatan semuanya, Yang Mulia," ujar Jokowi.

Jokowi mengaku heran terhadap pihak yang menuding ijazahnya palsu. Padahal, kata dia, para pihak tersebut belum pernah melihat ijazahnya secara langsung.

"Wong melihat ijazah aslinya saja belum pernah kok sudah bisa menyimpulkan ijazah palsu gimana, ungkap Jokowi.

Dia lalu berkata, "Saya itu kadang-kadang enggak ngerti logika berpikirnya seperti apa."

Jokowi merasa dihina

Jokowi merasa dihina, 34 juta orang percaya tuduhan ijazah palsu

Jokowi merasa dihina dan nama baiknya tercemar karena tuduhan Roy Suryo CS soal ijazah palsu.

"Kerugian immaterial karena tercemarnya nama baik saya dan juga keluarga saya, dan kemudian saya juga merasa telah dihina, direndahkan dengan amat sangat," ungkap Jokowi.

Dia juga mengutip hasil survei terbaru soal sikap masyarakat terhadap isu ijazah palsu. Jokowi menyebut 18 persen masyarakat percaya bahwa ijazahnya palsu.

"Delapan belas persen itu kalau dikonversi ke orang itu kurang lebih 34 juta orang percaya mengenai tuduhan ijazah palsu ini, Yang Mulia," jelas dia.

Bagi Jokowi, angka itu bukan jumlah yang kecil dan berdampak ke kepercayaan publik terhadap dirinya.

"Betul, Yang Mulia, 34 juta orang percaya, Yang Mulia, bahwa tuduhan palsu tuduhan ijazah palsu ini telah mengurangi kepercayaan publik terhadap saya, Yang Mulia," kata Jokowi.

(isa/kid)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA