"Sebagai suporter, pecinta sepak bola, kami berhak mendapatkan informasi tersebut karena kami yakin PSSI merupakan badan publik."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
FDSI juga menyoroti "komersialisasi" Timnas U-19 dengan berbagai kegiatan tur yang melibatkan kontrak dengan stasiun televisi swasta.
Meski saat ini FDSI berseberangan sikap dengan PSSI, Helmi menegaskan tak ingin hal ini menjadi awal perseteruan kedua pihak.
"Jangan anggap kami ini musuh. Kami ini suporter. Sama-sama mencintai sepak bola. Kami hanya meminta informasi," ujar Helmi menjelaskan.
Lebih lanjut Helmi berharap keputusan KIP tidak dinilai sebagai bentuk kekalahan bagi PSSI. "Anggaplah ini sebagai usaha mengubah paradigma PSSI dari tertutup menjadi terbuka."
Sebelumnya, salah satu hakim dalam persidangan KIP, Yhannu Setyawan juga mengakui keputusan tersebut dapat menjadi awal era keterbukaan olahraga nasional.
"Jika semuanya (melakukan) transparansi, potensi abuse makin kecil," ujar Yhannu di kantornya, Senin (8/12). "Pesan ini akan sampai kepada semua pengurus keolahragaan."