Namun, di musim balap 2015, para pesaing Mercedes berbenah.
McLaren menarik kembali Fernando Alonso untuk bergabung di tim. Juara dunia dua kali itu akan mengarungi musim 2015 bersama mantan juara dunia 2009 Jenson Button bersama mesin baru yang disuplai Honda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Persaingan balap tahun depan akan terjadi antara tiga tim tersebut--Mercedes, Ferrari, dan McLaren, sementara Red Bull yang kini diperkuat Daniel Ricciardo dan Daniil Kvyat sepertinya akan sulit untuk mengembalikan kejayaan sebelum 2014.
Akan ada 20 seri grand prix yang harus dilalui para pebalap di musim 2015 setelah GP Meksiko kembali masuk dalam kalender bersama Rusia dan Austria.
Seri GP itu akan dimulai dari GP Australia pada 15 Maret nanti. Kontroversi dalam jadwal itu adalah seri GP yang dirilis FIA mencapai 21 dengan memasukkan GP Korea. Padahal, musim lalu GP Korea dicabut karena merugi. Namun, Bos F1 Bernie Ecclestone membantahnya dan melakukan itu untuk menghindari gugatan.
"Itu (GP Korsel) tidak akan ada," kata Ecclestone. "Kami punya kontrak dengan Korea, jadi kami meletakkannya ke dalam kalendar. Kalau kami tidak melakukannya, mereka akan menuntut kami."
Sembilan Tim
Hal yang menarik dari perhelatan musim balap mendatang adalah mengenai mesin, tim yang bangkrut, dan tim baru. Seperti dikutip dari situs F1, sejauh ini ada sembilan tim yang pasti bertarung di musim 2015.
Marussia dan Caterham yang pailit tak terdapat dalam daftar tersebut, sementara Force India dan Lotus masih dalam status 'dikonfirmasi'.
Di sisi lain, akan ada tim lain yang mencoba masuk F1 yakni Haas Racing yang dimiliki pemilik tim Nascar, Stewart-Haas Racing. Namun, tim tersebut baru akan turun di GP F1 pada musim 2016.
Terkait mesin, McLaren bersama dengan Red Bull dan Ferrari mendorong otoritas F1 untuk mencabut peraturan yang melarang pemutakhiran mesin saat musim tengah berjalan. Tiga tim menuntut hal tersebut karena aturan saat ini dinilai menguntungkan bagi Mercedes.
Direktur Balap McLaren, Eric Boullier, pada 28 Desember lalu menilai aturan sekarang tidak menampung jiwa kompetitif yaitu tim akan mengembangkan diri lebih lanjut ketika kalah dalam satu seri Grand Prix.
"Ini adalah sebuah kompetisi dan kami seharusnya bisa mengubah mobil sebanyak yang kami inginkan," kata Boullier seperti dikutip dari ESPN. (kid/vws)