Salah satu bentuk simpatinya itu ia tunjukkan dengan membentuk FEFA atau Yayasan Akademi dan Edukasi Sepak Bola Fowler.
Yayasan ini ia tujukan untuk menyiapkan para pemain berusia 16 hingga 19 tahun yang tersingkir dari dunia sepak bola dan memberikan mereka berbagai pelatihan, mulai dari kewirausahaan, kepelatihan, atau berbagai kursus lainnya untuk menyiapkan mereka kembali ke dunia kerja, dunia sekolah, atau kembali ke sepak bola untuk mengambil peran lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena saya terlalu berkonsentrasi pada sepak bola, saya butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadari arti penting pendidikan," ujar Fowler sebagaimana dikutip dari The Times.
"Anda membutuhkan banyak keberuntungan untuk menjadi seorang pemain profesional. Mungkin ada orang-orang lain di luaran sana yang memiliki bakat lebih dari saya namun kurang memiliki dedikasi."
Bagi Fowler sendiri, ia sukar membayangkan jika cedera waktu itu mengakhiri kariernya.
"Anda bisa memeriksa sendiri statistiknya. Dari para pemain yang menderita cedera parah, hanya empat persen mampu melanjutkan bermain profesional dan hanya satu persen yang memiliki karier gemilang."
"Saya selalu menginginkan menjadi pemain profesional, dan saya beruntung bisa mendapatkannya," kata pemain yang identik dengan nomor punggung sembilan tersebut.
"Tempat saya dibesarkan bukanlah area terbaik. Saya bangga dan cinta daerah saya, namun praktis tak ada apa-apa lagi yang bisa dilakukan selain sepak bola."
"Tak ada hal lain yang bisa saya lakukan."
Perasaan mendapatkan keberuntungan tersebut yang menginspirasinya untuk mendirikan akademi.
"Saya memiliki karier yang baik dalam sepak bola, namun penting untuk menjaga sesama kami di kota ini dan memberikan semua orang kesempatan."
"Akademi ini akan memberikan kesempatan bagi anak-anak ini untuk kembali mendapatkan pendidikan."
"Kalaupun mereka tidak bisa menjadi pemain profesional, mereka bisa mendapatkan awalan baru dalam hidup mereka."
(vws)