"Sulit untuk melupakan bahwa saya pernah berjam-jam menangis di ruang ganti Indian Wells," ujar petenis berusia 33 tahun tersebut.
Peristiwa yang dimaksud terjadi ketika ia mengalahkan petenis Belgia, Kim Clijsters di final Indian Wells 2001. Williams dan keluarganya menerima cemoohan penonton sepanjang pertandingan karena sang kakak, Venus, mengundurkan diri dari partai semifinal melawan Serena hanya 20 menit sebelum pertandingan berlangsung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dementieva berkata bahwa ayah kedua petenis tersebut, Richard, yang akan menentukan pemenangnya.
Pada kolomnya di majalah Time, Serena bertutur bagaimana cemoohan itu sangat mempengaruhi dirinya.
"Ketika saya dicemooh di Indian Wells, suara-suara keraguan dalam diri saya mulai menjadi nyata. Saya tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Namun lebih buruk lagi, saya tak memiliki keinginan untuk menang sama sekali."
Ia lalu bercerita bahwa peristiwa itu juga mempengaruhi Venus dan terutama Richard yang sepanjang hidupnya mempersiapkan kedua putrinya untuk bertarung di dunia tenis.
"Cemoohan itu membangkitkan kenangannya (Richard) atas ejekan-ejekan rasial ketika ia tumbuh di daerah selatan Amerika," tulis Serena tentang ayahnya.
Namun, Serena bertutur bahwa sikapnya terhadap turnamen Indian Wells berubah terutama karena dunia tenis sendiri telah berubah. Ia mencontohkan bagaimana dunia tenis membelanya ketika presiden federasi tenis Rusia melontarkan komentar bernada sexist kepada petenis pemenang Australia Terbuka 2015 tersebut.
"Saya beruntung bisa mencapai suatu titik pada karier saya di mana saya tak perlu membuktikan apa-apa lagi pada siapa pun. Saya masih memiliki dorongan yang tinggi, namun sekarang saya hanya ingin menikmati pertandingan," tulisnya dalam kolom.
"Dengan rasa cinta terhadap tenis tersebut, dan dengan pemahaman baru tentang rasa memaafkan, saya dengan bangga akan kembali ke Indian Wells pada 2015." (vws)