Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan preman merangsek masuk ke sebuah diskusi mengenai Persebaya yang tengah disiarkan langsung di televisi lokal, Kamis (16/4) malam. Para preman berseragam Pemuda Pancasila (PP) itu tak hanya merusak properti, tetapi juga melakukan pemukulan dan memaksa acara dibubarkan.
"Kami minta aparat menindak tegas mereka," ujar Saleh Ismail Mukadar, Ketua Umum Persebaya 1927 kepada CNN Indonesia, Kamis (16/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usai dibubarkan paksa oleh massa PP, Saleh bersama pengurus Persebaya 1927 lainnya langsung melaporkan kejadian ini ke Polda Jatim. Aksi mereka disusul oleh gelombang massa pendukung Persebaya 1927 atau Bonek yang jumlahnya mencapai ribuan orang.
"Malam ini ada ribuan Bonek menunggu kami di Polda," ujar Saleh.
"Kita tahu lah kalau PP itu anak buah La Nyalla. Cuma kami tidak tahu apakah (penyerangan) ini instruksinya atau inisiatif dari anak buahnya," tuturnya.
Dalam penyerangan tersebut, Saleh Mukadar terkena pukulan di pipinya. Tak hanya itu, dia dan Arif Afandi (Mantan Ketua Umum Persebaya) diancam akan dibunuh. (ags/ags)