Manajemen klub Banik Most berencana menggunakan detektor kebohongan setelah klub tersebut kalah berturut-turut dalam sembilan pertandingan terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut FIFPro rencana yang dilontarkan direktur klub itu mencederai prasangka baik tentang integritas pemain.
Dalam pernyataan tersebut FIFPro menyatakan para pemain umumnya merupakan korban dari skandal pengaturan skor. Para pemain mungkin terlibat, namun mereka jarang menjadi otak dari skandal pengaturan skor.
'Banyak para ilmuwan yang mengkritik penggunaan detektor kebohongan. Mereka tidak yakin bahwa alat tersebut adalah yang paling akurat untuk menentukan apakah seseorang memberitahu tentang kebenaran atau kebohongan,' tulis FIFPro dalam pernyataannya.
Di sisi lain, FIFPro menemukan bahwa klub itu sendiri tidak membayar gaji para pemain sejak Maret lalu. Hal tersebut, katanya, akan membuat risiko para pemain rentan menerima tawaran skanal pengaturan skor. Atas dasar itu FIFPro meminta direktur Banik Most untuk menyelesaikan masalah finansial terlebih dahulu sebelum menuding para pemainnya sebagai kriminal. (kid/kid)