FIFA pada 22 Mei mengirimkan surat kepada Menteri Pemuda dan Olahraga untuk menyatakan bahwa mereka "tidak bisa menemui delegasi dari Indonesia karena permintaan pertemuan tersebut diajukan dalam jangka waktu pendek dan bertepatan dengan agenda Kongres FIFA ke-65."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cheppy mengatakan bahwa Tim Transisi sudah mengetahui surat tersebut, namun yakin bahwa FIFA tidak akan memberikan sanksi kepada Indonesia.
Menurut penuturan Cheppy, Tim Transisi akan berangkat pada 26 Mei, setelah pengurusan visa beres. Ia juga menyatakan bahwa utusan Tim Transisi akan menyampaikan agenda perubahan sepak bola Indonesia di Kongres FIFA dan akan menjadikan hal tersebut perbincangan di negara-negara internasional.
"Biar seluruh negara tahu bahwa Indonesia dihukum bukan karena intervensi pemerintah, namun karena kondisi persepakbolaan yang tidak pernah beres."
Selain menemui Pangeran Ali yang juga menjadi lawan satu-satunya Blatter dalam pemilihan Presiden FIFA, Cheppy juga berujar bahwa Tim Transisi akan menemui utusan negara-negara yang pernah dihukum FIFA untuk berdiskusi tentang cara mereka memperbaiki kondisi persepakbolaan dalam negeri.
Cheppy tidak khawatir bahwa langkah-langkah yang akan diambil Tim Transisi ini akan mempermalukan nama Indonesia.
"Seperti menjemur pakaian kotor? Ya kalau memang sudah kotor mau dibagaimanakan lagi?" (vws)