"FIFA ya FIFa, PSSI ya PSSI," kata Tony yang kini sedang berada di Singapura untuk menyaksikan ajang olahraga Sea Games, saat dihubungi CNN Indonesia, Rabu (3/6) siang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setidaknya, lanjut Tony, sang pemimpin akan kekurangan ide untuk mengembangkan organisasi yang dipimpinnya tersebut. "Blatter kan sudah empat kali memimpin dan mencalonkan untuk kelima kalinya."
"Seperti waktu saya menjabat ketua Pengprov PSSI Jawa Barat. Saya hanya menjabat dua periode. Waktu yang lain minta jadi tiga periode, saya menolak."
Tak Tahu Pilihan PSSI
Pada Kongres FIFA, 29 Mei 2015 lalu, PSSI mengirim sang ketua umum dan sekretaris jenderalnya, La Nyalla Mattalitti dan Hinca Panjaitan, untuk memberikan pilihannya. Namun, Tony mengaku tidak tahu siapa calon pilihan PSSI.
"Hal itu tidak pernah dibahas dengan komite eksekutif. Dan hingga kini, saya belum bertemu dengan Pak Nyalla dan Pak Hinca," ujar mantan anggota DPRD Jawa Barat ini menerangkan.
Dikatakan Tony, PSSI memang tidak memiliki aturan bahwa hal seperti itu harus lebih dulu dikomunikasi bersama. Meski membawa nama organisasi, sang ketua umum dan sekjen memiliki kekuasaan penuh untuk memilih.
"Meski dibahas lebih dulu, apa kita akan tahu bahwa yang mereka pilih adalah benar yang disepakati bersama? Kan tidak juga."
Meski demikian, Tony membantah jika hal tersebut melanggar atura. Pasalnya, dalam anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah tangga (ART) PSSI, tidak ada peraturan seperti itu.
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum PSSI, Erwin Dwi Budiawan, saat dihubungi CNN Indonesia, Kamis siang (28/5) mengatakan kemungkinan federasi sepak bola Indonesia itu memberi dukungannya untuk Sepp Blatter.
"Kami serahkan ke ketua umum. Kemarin kayaknya ke Blatter, tapi belum tahu juga nanti di kongresnya," kata Erwin singkat. (vri)