"Anda tidak bisa menggambarkannya," kata Iguodala tentang gelar juara dan MVP-nya kepada wartawan seusai pertandingan. "Saya tidak tahu yang harus saya lakukan. Kami sukses melakukannya. Ini perasaaan yang sangat hebat."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertahanan ketat tanpa kenal dari Iguodala terhadap James-lah yang membuat final dan gelar MVP jatuh ke tangannya.
Golden State sempat tertinggal 1-2 setelah gim ketiga, sebelum akhirnya Kerr mengganti susunan tim dengan menggunakan pemain berpostur kecil sehingga Iguodala turun sebagai pemain inti.
"Perasaan saya campur aduk," kata Iguodala tentang perubahan tersebut. "(Saya pikir) 'Apa yang harus saya lakukan sekarang? Apakah saya harus bermain agresif?' Saya sangat gugup."
"Namun, ketika bola sudah dilempar ke atas, semua berjalan seperti halnya sebuah pertandingan basket ketika saya masih berusia enam tahun."
Warriors kembali ke gaya "menyerang dan berlari" ala mereka dan akhirnya berjaya di tiga pertandingan selanjutnya. Iguodala pun mendapatkan lebih dari 20 angka pada dua dari tiga laga tersebut.
Selama final, Iguodala mencatatkan 16,3 angka, 5,8 rebound, dan empat assist dan sukses membuat persentase tembakan James hanya 38 persen.
"Ia sangat spesial dan sangat layak mendapatkan gelar MVP, terutama karena ia memberi pengaruh dalam bertahan dan menyerang," kata rekan setim Iguodala, Stephen Curry, MVP di musim reguler sekaligus peraih angka terbanyak sepanjang musim untuk Warriors.
"Saya kira tidak ada sesuatu yang baru darinya. Ia hanya membutuhkan panggung untuk menunjukkan kemampuannya kepada dunia." (vws)