Seperti satu tahun lalu, Brasil didiagnosis tidak memiliki cukup banyak pemain hebat dan memiliki kekacauan liga domestik. Karenanya, muncul tuntutan bahwa sistem yang diterapkan tim nasional Brasil harus dibentuk ulang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kfouri, seperti halnya banyak suporter lain, menyalahkan Federasi Sepak Bola Brasil (CBF) dan Dunga, pelatih yang mengambil alih tim nasional hanya dua pekan setelah dipermalukan Jerman tahun lalu.
Demikian pula dengan CBF. Pasca kekalahan 1-7, organisasi tersebut dikritik karena tidak mengambil jeda untuk melakukan evaluasi dan gagal mengerti bahwa sepak bola Brasil telah berjalan mundur.
Namun, kritik-kritik yang meminta adanya perubahan secara mendasar, dengan jadwal liga domestik yang diperbarui dan dikurangi, darah segar di puncak federasi, dan juga liga independen yang dijalankan oleh klub, seolah hanya sampai pada telinga yang tak bisa mendengar.
Menurut mantan pemain tim nasional Brasil yang memenangi Piala Dunia 1970, Tostao, masalah-masalah Brasil timbul karena generasi baru pemain Brasil tidak memiliki talenta sebesar tim di masa lalu.
"Selain semakin berkurangnya kemampuan individu dan juga kekuatan kolektif di timnas, Selecao hidup dibayang-bayangi harapan dan tanggung jawab sangat besar yang ditimpakan oleh sejarah sepak bola Brasil," kata Tostao yang menulis di Folha de S.Paulo.
"Pemain yang tidak memiliki kemampuan seorang bintang hebat tidak akan memiliki kepercayaan diri dan juga keseimbangan emosi dalam laga menentukan. Mereka menyia-nyiakannya."
Dunga menyalahkan kekalahan tersebut kepada virus yang dikatakannya sempat menyerang beberapa pemain sebelum pertandingan. Namun, ia berkata bahwa kekalahan tersebut akan menempa para pemainnya untuk berlaga di kualifikasi Piala Dunia yang dimulai pada Oktober nanti.
Brasil tidak pernah gagal lolos ke putaran final Piala Dunia dan kali ini tekanannya akan semakin hebat.
"Turnamen ini sangat penting dalam membuat para pemain terbiasa bermain di kualifikasi," kata sang pelatih hanya beberapa saat setelah mengalami kekalahan. "Kami ingin menang namun hal tersebut adalah pelajaran yang hebat untuk kualifikasi. Hal itu menjadi prioritas kami." (vws)