Menyusul kemudian adalah gelombang kritikan. Orang tua Casillas juga sempat memberikan wawancara bahwa anak mereka telah dipaksa keluar oleh presiden klub Florentino Perez.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kontras antara acara hari Minggu itu dengan acara yang disiapkan Barca untuk Xavi terlihat sangat kentara.
Xavi menulis di harian Spanyol, La Vanguardia, pada Selasa (14/7) bahwa Casillas belum berubah semenjak keduanya bertemu di Piala Dunia U-17 Mesir pada 1997 dan sang penjaga gawang tetap menjadi "orang baik".
"Karena itu yang terjadi pada dirinya meninggalkan rasa masam," kata Xavi melalui tulisannya. "Di tahun-tahun terakhir, saya meyaksikan ia tak lagi merasa senang ketika bermain."
"Ia terlihat sangat kecewa dan buat saya seluruh orang di negara ini (Spanyol) harus memikirkan tentang hal ini."
"Yang terjadi saat ini adalah atlet Spanyol yang telah matang tidak mendapatkan cukup rasa hormat, dan bahwa orang-orang gagal untuk menghargai semua yang mereka lakukan dan malah berfokus kepada kegagalan mereka, bahkan terkadang dengan niat yang jahat."
Xavi membandingkan Casillas dengan Juventus dan kiper tim nasional Italia, Gianluigi Buffon. Menurutnya, Buffon masih terlihat menikmati bermain di usia 37 tahun.
"Saya melihat Iker dan saya merasa bahwa akhir-akhir ini ia bermain di bawah tekanan, seolah pada setiap pertandingan ia harus membuktikan betapa hebatnya ia sebagai kiper. Tanpa rasa gembira yang selalu ia miliki."
"Sekarang ia akan pergi ke Porto dan saya merasa ia akan disambut sebagai pahlawan. Jauh dari sini, mereka akan lebih menghargainya." (vws)